Hari saat aku dan Hesti berpisah mungkin adalah sebuah titik balik yang besar bagiku. Rasanya seluruh dunia sudah tak lagi berpihak kepadaku dan meninggalkan ku sendirian dalam lingkaran kesengsaraan yang tiada putus saat itu. Meskipun kata-kata terakhir dariku benar-benar membuatnya hancur, namun ia tak membalasnya sedikitpun. Ya, begitulah kenyataan pahit yang harus kami hadapi. Untungnya setelah itu Hesti tetap sepakat untuk memenuhi kebutuhan finansial baik Evan maupun Bimo sampai mereka dewasa. Ia memiliki porsi andil yang lebih banyak ketimbang diriku, dan hal ini tentunya benar-benar meringankanku.
Bertahun-tahun setelahnya aku tetap kembali ke pabrik sepatu itu, memaksa untuk bertemu dengan Hendrik yang selama ini memegang peranan penting dan jawaban dari semua pertanyaanku. Namun usahaku tetap tidak membuahkan hasil, entah berapa kali para satpam mengusirku dengan cara-cara yang halus sampai dengan kekerasan. Aku tak gentar, semakin mereka menjauhkanku darinya, maka semakin kuat pula dugaanku terhadap cerita-cerita yang disampaikan oleh Aji. Dikarenakan keterbatasan finansial yang kualami, aku hanya bisa datang seminggu sekali ke sana, dan kuputuskan untuk datang setiap hari Senin, dimana para buruh baru saja memulai hari kerja untuk seminggu ke depan, dan semangat mereka sedang panas-panasnya. Aku ingin mereka melihat bahwa tidak hanya mereka yang punya tujuan dan harapan ketika datang ke pabrik ini, melainkan ada seorang pria yang selalu menuntut keadilan tanpa rasa lelah, berdiri selama berjam-jam untuk bertemu dengan si pemilik pabrik yang mempekerjakan dan menggaji mereka setiap bulan. Seorang pria yang adiknya dijadikan kambing hitam atas hilangnya nyawa-nyawa yang tak bersalah, seorang pria yang ditinggalkan oleh siapapun yang meragukan keyakinannya, seorang pria yang pada akhirnya harus bertahan seorang diri melawan seisi dunia demi mempertahankan martabat dan kebenaran yang ia percayai.
Semua cara yang kugunakan tetap sama, mencoba bertanya kepada mereka yang melintas, berteriak agar gerbang dibuka, memanggil-manggil nama Hendrik agar mau keluar dan menemuiku secara empat mata, dan diakhiri dengan duduk di dalam mobil serta berharap ada orang-orang seperti Aji yang mau mendatangiku diam-diam dan berbagi informasi baru. Namun semua itu sia-sia, tak ada buah yang bisa kupetik setelah menanam, menyiram, dan merawat pohon yang sejak lama kupercaya bisa menghasilkan buah yang begitu manis. Entah aku yang salah memilih pohon atau memang tanah tersebut terlalu kering untuk ditanami sehingga pohon itu tak pernah bisa tumbuh. Sampai di satu titik aku menyadari bahwa ternyata aku telah menghancurkan pohon yang ditanam orang lain sebelumnya. Padahal pohon itu telah dirawat dengan penuh kasih sayang, dan ditaburi dengan berbagai macam harapan untuk masa depan, dan aku merusaknya, dengan menanam pohonku sendiri tepat di sampingnya secara berdempetan, sehingga akar-akar mereka senantiasa beradu untuk memperoleh nutrisi, dan keduanya tak bisa tumbuh subur secara berdampingan karena saling berebut hak yang sama satu dengan lainnya.
Setelah enam belas tahun sejak kepergian Ahmad, baru kali ini aku merasa bersalah seutuhnya. Aku merasa dirinya tak pernah bisa memperoleh ketenangan dan kebahagiaan di sana karena semua perbuatanku yang telah merenggut kebahagiaan orang lain menggunakan nama baiknya. Aku menyadari bahwa nama Ahmad akan tetap baik di mata orang-orang yang mengenal dan mencintainya, dan selama ini dengan bodohnya aku terus mencari-cari pembenaran dari dunia agar mereka mau mendengarkan egoku yang sejatinya merusak hidup orang-orang yang kusayangi. Dan bukan Ahmad lah yang membunuh orang-orang yang tak bersalah itu, melainkan diriku, dengan sikap dan cara-caraku sekarang, seolah membenarkan dan melanggengkan statusnya sebagai seorang teroris kejam di mata dunia. Sifat aroganku bahkan lebih kejam dari bom bunuh diri manapun yang pernah terjadi selama ini.
Hari itu aku datang dengan cara yang berbeda, tak ada amarah, tak ada teriakan maupun paksaan untuk bertemu dengan entah siapapun yang harusnya ingin kutemui selama ini. Aku yang biasanya berdiri tegak di depan pintu masuk pabrik, kini terhuyung dan duduk menunduk di antara kedua lututku.
“Saya menyerah.” gumamku pelan dengan badan yang sudah terkulai lemah di atas tanah kering yang kududuki.
Beberapa detik kemudian tiba-tiba pintu gerbang dibuka oleh satpam yang berjaga, ia lalu menghampiriku dan menyuruh untuk masuk ke dalam. Diriku diliputi kebingungan serta kecurigaan, apa gerangan yang terjadi sehingga secara sukarela mereka memperbolehkanku untuk memasuki kawasan pabrik tersebut dengan begitu mudahnya. Langkahku terasa lebih berat dan penuh kehati-hatian karena aku tak tahu siapa atau apa yang menantiku di dalam sana. Satpam itu mengantarku melintasi beberapa ruangan tua yang cukup luas dengan langit-langit tinggi dimana sisi kanan dan kirinya banyak terdapat kipas angin besar agar udara senantiasa mengalir supaya bagian dalamnya tidak pengap. Ruangan itu digunakan para buruh untuk membuat sepatu, aku dapat melihat dengan jelas kegiatan dan proses kerja mereka yang begitu teratur, sambil membayangkan bahwa Ahmad pernah berada di posisi tersebut sebelumnya.
Kemudian aku sampai di sebuah tangga dari besi yang di atasnya terdapat gang kecil yang berujung di sebuah pintu berwarna merah darah. Satpam tersebut hanya mengantarku sampai di depan tangga dan tidak menemaniku sampai ke pintu, ia memerintahkanku untuk masuk ke dalam sana, dan menyuruhku untuk terlebih dahulu mengetuk pintunya. Dengan perasaan dalam hati yang agak ragu-ragu aku mengikuti instruksinya, tiap langkah pada anak tangga itu menghasilkan bunyi nyaring yang menggema ke sekitar dikarenakan bahan bakunya yang terbuat dari besi, membuat nyaliku agak ciut perlahan-lahan, namun aku tetap berusaha untuk tetap terlihat tegar tanpa ragu. Dan ketika diriku mengetuk pintu lalu membukanya, kudapati di dalamnya merupakan sebuah ruangan berukuran sepuluh kali lima meter dengan cat dinding berwarna hitam pekat dan beberapa perabot dari kayu jati bergaya lama. Ruangan tersebut tidak memiliki jendela maupun ventilasi, hanya ada AC sebagai sumber masuknya udara ke ruangan itu. Tepat di seberang pintu masuk terdapat meja kerja yang diterangi oleh cahaya lampu kekuningan dari lampu baca di atasnya, ada juga tumpukan buku dan kertas di meja itu, lalu terdapat sebuah kursi kayu sederhana yang diduduki oleh seorang Pria Tua yang mengenakan pakaian rapi berupa kemeja lengan pendek berwarna putih dan celana bahan hitam yang dililit sabuk coklat muda. Pria Tua tersebut mungkin berusia sekitar enam puluhan lebih dengan rambutnya yang seluruhnya beruban berwarna putih pucat tersambung ke jenggot dan kumisnya yang agak panjang namun terlihat terawat dan elegan. Ia duduk di sana dan memasang senyuman seolah menyambut tamu yang telah ia tunggu sejak lama, posisinya menghadapku langsung yang tengah berdiri di depan pintu yang baru saja kubuka.
“Silahkan duduk,” sapanya ramah sambil menunjuk dengan tatapan matanya ke arah kursi kayu tanpa sandaran di pojok ruangan. Ia menyisyaratkan kepadaku untuk mengambil kursi tersebut dan duduk berhadapan di depan mejanya selayaknya karyawan yang sedang menemui atasan. “Gimana kabarnya Pak Iwan? Sehat?”
“Anda tau nama saya?” tanyaku yang sebenarnya sudah tak heran.
“Jelas, mana mungkin saya nggak tau nama anda. Berdiri di depan gerbang pabrik selama belasan tahun bikin anda jadi lumayan terkenal di sini.”
“Jadi … anda Hendrik?”
“Oh bukan,” katanya santai. “Hendrik itu anak saya. Maaf ya karena ulahnya bikin anda jadi harus repot-repot ke Cianjur ratusan kali.”
Aku bergeming dan menatapnya dengan tatapan serius. Orang ini memiliki pembawaan yang benar-benar tenang, berkebalikan dengan cerita Aji mengenai sosok anaknya, Hendrik. Suaranya begitu bijaksana seolah-olah aku sedang berhadapan dengan seorang penyihir tua yang bisa membuaiku kapan saja untuk masuk ke perangkapnya.
“Saya mungkin nggak akan memperkenalkan nama asli saya, cukup bicara dengan panggilan anda-saya itu lebih baik dan mungkin terkesan lebih sopan,” lanjutnya sembari memperhatikanku sebagai lawan bicara yang setara, meskipun bajuku terlihat lusuh dan kotor, berbanding terbalik dengan dirinya. “Mau minum apa? Kopi? Teh? Air putih?”
“Langsung aja ke intinya, nggak usah basa-basi kayak orang sok ramah!” geramku yang muak melihat sandiwara ini. Ia hanya terdiam sebentar dan memegangi ujung jenggotnya yang begitu putih.
“Oh … oke baik, setelah bertahun-tahun berusaha biar bisa sampe ke sini, anda mau nanya apa ke saya?”
Pertanyaan itu justru membuatku bingung. Selama ini aku memang mencari seseorang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku, namun saat aku sudah menemukan orang tersebut, aku tak tahu harus memulai dari mana.
“Apa bener … adik saya nggak bersalah?”
“Tergantung, bersalah atas kasus apa.”
“Bom itu!” bentakku sambil mengepalkan tangan.
Ia memasang senyum, bukan senyuman licik ataupun senyuman yang merendahkan.
“Untuk menjawab pertanyaan anda, kita harus kembali mengingat kejadian-kejadian awal yang menuntun Ahmad sampe ke kereta itu. Yang mana sebagian mungkin udah diceritain sama Aji, kalo anda pernah bertemu dengan dia, iya kan?” terangnya dengan tenang. “Tapi anda perlu tau kalo semua hal yang diceritain Aji nggak sepenuhnya bener, dan ada beberapa bagian yang dia potong buat ngejaga nama baiknya di mata anda, atau seenggaknya mengamankan posisinya biar terlihat seolah-olah dia nggak terlibat dalam rangkaian peristiwa ini.”
“Maksudnya?”
“Oke, biar saya jelasin ke anda pelan-pelan. Kita mulai dari tingkah Ahmad yang meresahkan di pabrik ini, yang bisa dibilang … pabrik saya. Apa anda tau sifat asli dari adik laki-laki yang anda sayangi itu?”
“Aku tau dia, lebih baik dari siapapun!”
“Nah bagus, jadi saya nggak harus jelasin panjang lebar soal hal itu,” lanjutnya yang kini melipat tangan di pangkuannya. “Bisa saya katakan … sebagai pemilik pabrik, sikap sok heroik yang Ahmad tunjukin ke semua orang itu saya anggap sebagai ancaman bisnis, dan bisa aja saya pecat dia di hari itu juga. Tapi saya kira dunia nggak bekerja dengan cara sesederhana itu. Jadi saya mau tau ke depannya bagaimana kalo saya terus biarin dia masih kerja di sini dan sedikit ngasih dia ujian secara mental. Setiap hari saya amati gerak-geriknya, dan saya pantau apakah dia mau berubah dengan tekanan yang terus saya kirim lewat Hendrik waktu itu. Dan ternyata dia malah jadi makin berani, kayak yang dibilang sama Aji ke anda sebelumnya. Dia sukses ngumpulin buruh-buruh buat demo, dan mengancam dengan berbagai hal.”
Aku terus menyimak ceritanya tanpa memotong, sebagian cerita memang mirip dengan yang dikatakan oleh Aji, namun kali ini disampaikan melalui perspektif orang lain yang berbeda.
“Tapi itu nggak bikin saya pusing. Urusan buruh bisa saya atur, tapi kepribadian Ahmad ini lah yang bikin saya tertarik,” lanjutnya. “Setelahnya saya buat dia sengsara sendirian, dan saya uji seberapa lama dia bisa tahan. Bener aja sesuai dugaan saya, ada waktunya kesabaran tiap orang habis.”
“Apa dia tau kalo anda yang ngelakuin semua ini?” tanyaku yang mulai penasaran dengan beberapa hal.
“Ya nggak lah. Semua orang di pabrik ini nggak ada yang tau tentang saya, termasuk satpam. Semua orang taunya pabrik ini dikelola sama Hendrik, dan yang jadi sosok pemimpin jahat yang ada di cerita orang-orang … ya Hendrik itu sendiri.” katanya dengan santai dan begitu percaya diri.
“Terus kenapa? Kenapa Ahmad bisa ada di kereta itu? Kenapa dia yang dijadiin tersangka? Apa hubungannya sama masalah dia di pabrik ini?”
“Ah … menarik,” gumamnya yang sekarang agak melepaskan punggungnya yang tadinya menempel dari sandaran kursi. “Jadi gini, inget cerita Aji soal sepeda Ahmad yang disita karena tuduhannya ke para satpam?”
“Ya.”
“Itu semua ada kaitannya sama bisnis saya di luar pabrik sepatu ini. Yang mana secara nggak sengaja berhasil diketahui sama Ahmad.”
“Bisnis lain?”
“Tepat sekali. Waktu sepeda itu disita, malamnya si kecil Ahmad diam-diam nyoba masuk ke dalam kawasan pabrik sendirian buat nyari dan ngambil balik sepeda itu. Dan dalam pencariannya, dia nemuin barang-barang yang jadi komoditas bisnis saya yang lain.”