Daena percaya bahwa rumah bukanlah bangunan paling besar di kampungnya.
Rumah adalah suara orang-orang yang memanggil namanya dengan penuh sayang.
Pagi itu matahari baru saja naik ketika aroma bawang goreng memenuhi rumah panggung milik bapaknya. Dari dapur terdengar suara beberapa perempuan berbicara bersahutan, kadang diselingi tawa kecil. Bagi orang lain, suara itu mungkin terdengar ramai dan membingungkan. Namun bagi Daena yang baru berusia sembilan belas tahun, keramaian itu adalah musik yang menenangkan hati.
“Daena, bangun! Nasinya keburu dingin!” teriak seorang perempuan dari bawah tangga.
Daena membuka mata sambil tersenyum. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum benar-benar sadar. Itu suara Ibu Salma, istri pertama bapaknya.
Ia turun sambil merapikan rambut panjangnya yang masih berantakan. Rumah besar itu terdiri dari beberapa kamar yang mengelilingi ruang tengah luas. Masing-masing istri memiliki kamar sendiri, tetapi dapur dan ruang makan digunakan bersama. Sejak kecil Daena terbiasa melihat empat perempuan dengan peran berbeda-beda mengurus rumah yang sama.
Di dapur, Ibu Salma sedang menggoreng tempe. Wajahnya yang mulai dipenuhi garis halus selalu terlihat teduh.
“Nah, baru turun putri kesayangan rumah ini,” godanya.
Daena tertawa kecil. “Ibu Salma selalu berlebihan.”
“Memang kenyataannya begitu,” sahut suara lain.
Ibu Mira, ibu kandung Daena dan istri ketiga bapaknya, muncul sambil membawa piring-piring. Wajahnya lebih muda daripada Ibu Salma, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang hanya bisa dibaca oleh anaknya sendiri.
Tak lama kemudian Ibu Lestari, istri keempat, datang sambil menggendong adik kecilnya yang masih mengantuk.
“Kalau Daena belum makan, dua anakku juga belum mau makan,” keluhnya sambil menunjuk dua anaknya yang sudah duduk di meja.
Ruang makan segera penuh. Hanya satu kursi yang kosong, kursi milik Ibu Ratih, istri kedua bapaknya.
Perempuan itu akhirnya datang beberapa menit kemudian dengan langkah tenang. Di belakangnya berjalan seorang gadis sebaya Daena dengan wajah datar dan mata yang sulit ditebak.
“Pagi,” ucap Ibu Ratih singkat.
“Pagi, Bu,” jawab yang lain hampir bersamaan.
Gadis di belakangnya hanya mengangguk pelan sebelum duduk di sudut meja. Namanya Rania. Ia bukan anak kandung bapaknya, melainkan anak dari pernikahan pertama Ibu Ratih. Meski sudah tinggal bersama mereka selama bertahun-tahun, Rania tetap seperti tamu yang belum benar-benar mengenal rumah itu.
Daena mencoba tersenyum kepadanya.
“Rania, nanti ikut ke pasar sore?”
Rania mengangkat wajah sebentar. “Lihat nanti.”
Jawaban singkat itu tidak mengejutkan siapa pun.
Bapak mereka muncul terakhir, mengenakan sarung dan kemeja putih yang belum dikancingkan seluruhnya. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya legam karena terbiasa mengurus tanah dan kebun miliknya sendiri.
“Wah, lengkap semua?” katanya senang.
“Belum lengkap kalau Bapak belum duduk,” jawab Ibu Salma.