DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #2

Kakak-Kakak yang Menjagaku #2

Daena selalu percaya bahwa seseorang tidak harus lahir dari rahim yang sama untuk menjadi saudara.

Keyakinan itu tumbuh sejak ia kecil, jauh sebelum ia mengerti arti saudara tiri.

Pagi itu halaman rumah mereka ramai oleh suara sapu lidi dan tawa anak-anak. Hari Minggu selalu menjadi hari yang paling disukai Daena karena semua orang berkumpul di rumah. Tidak ada yang pergi bekerja terlalu pagi, tidak ada yang terburu-buru mengejar sekolah atau pasar.

Daena yang baru selesai menyiram bunga dikejutkan oleh lemparan kulit rambutan dari arah pohon mangga.

“Hei!”

Dari atas dahan, Raka tertawa puas.

“Konsentrasimu buruk sekali, Dek.”

“Kalau jatuh bagaimana?”

“Aku ini ahli panjat pohon sejak sebelum kamu lahir.”

Daena mendengus, tetapi tetap mengambil keranjang yang dibawanya.

“Turunkan rambutan yang merah saja. Jangan asal petik.”

Raka menirukan nada bicaranya. “Siap, Nona Pengawas Kebun.”

Tak lama kemudian Nadya datang membawa dua gelas es teh.

“Kalian belum juga berhenti bertengkar?” tanyanya sambil menyerahkan satu gelas kepada Daena.

“Kak Raka yang mulai.”

“Fitnah,” sahut Raka dari atas pohon.

Nadya hanya menggeleng sambil tersenyum. Sejak kecil, dialah yang paling sering menjadi penengah jika Raka dan Daena saling mengejek.

Daena masih ingat ketika pertama kali masuk sekolah dasar. Saat itu ia takut karena beberapa anak mengejek keluarganya yang memiliki empat ibu. Ia pulang sambil menangis dan bersembunyi di belakang dapur.

Raka yang saat itu sudah duduk di SMP langsung mencari tahu siapa yang membuat adiknya menangis.

Keesokan harinya ia datang ke sekolah Daena sepulang sekolah.

“Kalau ada yang mengejek lagi, bilang sama Kakak,” katanya sambil menggenggam tangan kecil Daena.

Sejak hari itu, tidak ada lagi anak yang berani mengganggunya.

Kenangan itu membuat hati Daena selalu hangat setiap kali melihat kakak tirinya.

Menjelang siang, mereka bertiga duduk di bawah pohon mangga sambil memisahkan rambutan yang bagus untuk dijual dan yang akan dimakan sendiri.

“Daena, nanti sore ikut aku ke toko?” tanya Nadya.

“Boleh. Aku juga ingin beli buku catatan untuk kuliah.”

Raka mendecakkan lidah. “Kuliah lagi, kuliah lagi. Sejak jadi mahasiswa, pembicaraanmu cuma tugas dan buku.”

Daena menjulurkan lidah. “Biar pintar.”

“Memangnya aku bodoh?”

“Sedikit.”

Raka pura-pura tersinggung hingga membuat Nadya tertawa terbahak-bahak.

Di rumah besar itu, Daena sering lupa bahwa mereka sebenarnya memiliki ibu yang berbeda. Ibu Salma tidak pernah membiarkan anak-anaknya membedakan kasih sayang.

Lihat selengkapnya