Di antara semua orang yang tinggal di rumah besar itu, hanya satu yang tidak pernah benar-benar bisa dibaca oleh Daena.
Namanya Rania.
Ia sudah tinggal bersama mereka sejak Daena masih kecil, tetapi keberadaannya selalu terasa seperti bayangan yang bergerak pelan di sudut rumah. Tidak pernah membuat keributan, tidak pernah meminta perhatian, dan hampir tidak pernah ikut tertawa ketika seluruh keluarga berkumpul.
Pagi itu hujan turun sejak subuh. Atap seng di bagian dapur berbunyi berisik tertimpa air, sementara aroma kopi dan pisang goreng memenuhi ruangan.
Daena sedang membantu Ibu Mira memotong cabai ketika matanya menangkap sosok Rania yang baru keluar dari kamar.
Gadis itu mengenakan sweater abu-abu kebesaran dan rambutnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajah. Ia langsung menuju dispenser, mengambil air hangat, lalu hendak kembali ke kamar tanpa menyapa siapa pun.
“Rania,” panggil Daena spontan.
Rania berhenti.
“Mau sarapan?”
“Aku nanti saja.”
“Nanti keburu dingin.”
Rania menatap meja makan sebentar, lalu menggeleng pelan. “Tidak lapar.”
Ia kembali melangkah menuju kamarnya.
Ibu Mira memperhatikan punggung gadis itu sambil menghela napas kecil.
“Kasihan sebenarnya anak itu,” katanya lirih.
Daena menoleh. “Kenapa?”
“Dia sulit menyesuaikan diri sejak kecil.”
Daena terdiam. Selama ini ia hanya tahu bahwa Rania adalah anak bawaan Ibu Ratih dari pernikahan sebelumnya. Ia tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan Rania sebelum tinggal bersama mereka.
Setelah membantu membereskan dapur, Daena membawa sepiring pisang goreng dan segelas teh hangat ke depan kamar Rania.
Ia mengetuk pelan.
“Masuk,” terdengar suara datar dari dalam.
Kamar itu jauh lebih rapi dibanding kamar Daena sendiri. Buku-buku tersusun berdasarkan ukuran, pakaian dilipat dengan sangat teratur, dan di dekat jendela terdapat meja kecil penuh alat gambar.
Rania sedang duduk sambil menggambar sesuatu di buku sketsanya.
“Aku bawakan sarapan,” kata Daena sambil meletakkan nampan di meja.
“Kamu tidak perlu repot.”
“Bukan repot. Aku memang ingin membawakan.”
Rania menutup buku sketsanya terlalu cepat, seolah tidak ingin gambarnya dilihat orang lain.
Daena pura-pura tidak memperhatikan.
“Apa kamu suka menggambar?”
“Lumayan.”
“Boleh lihat?”
“Jangan sekarang.”
Jawaban itu tidak terdengar kasar, tetapi cukup jelas menunjukkan batas yang tidak ingin dilewati.
Daena duduk di kursi dekat jendela.