DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #4

Usaha untuk Semua Istri #4

Pagi itu rumah mereka terasa lebih sibuk daripada biasanya.

Sejak subuh, bapak sudah mondar-mandir dari ruang tamu ke gudang kecil di samping rumah sambil membawa map-map tebal berisi dokumen. Beberapa kali ia memanggil nama para istrinya bergantian, sesuatu yang jarang terjadi kecuali ada urusan penting.

Daena yang sedang menyapu halaman memperhatikan tingkah bapaknya dengan rasa penasaran.

“Ada apa, Bu?” tanyanya kepada Ibu Mira yang baru keluar dari dapur.

Ibu Mira tersenyum kecil sambil merapikan kerudungnya.

“Bapakmu mau bicara soal usaha.”

“Usaha apa?”

“Nanti juga tahu. Katanya semua harus berkumpul.”

Menjelang pukul sembilan, ruang tengah sudah dipenuhi seluruh anggota keluarga. Ibu Salma duduk paling dekat dengan bapak, sementara Ibu Ratih memilih tempat agak jauh di samping jendela. Ibu Lestari tampak paling bersemangat, sedangkan Ibu Mira duduk tenang sambil sesekali melirik Daena.

Raka dan Nadya ikut duduk di lantai bersama Daena dan adik-adik lainnya. Bahkan Rania yang biasanya lebih suka mengurung diri di kamar kali ini hadir, meski tetap diam dengan wajah sulit ditebak.

Bapak berdiri di depan mereka sambil membawa empat amplop cokelat besar.

“Bapak sudah lama memikirkan ini,” katanya membuka pembicaraan. “Kalian semua sudah membantu menjaga rumah ini bertahun-tahun. Sekarang Bapak ingin setiap istri punya pegangan sendiri.”

Ibu Lestari langsung menegakkan badan. “Pegangan bagaimana, Pak?”

Bapak mengangkat salah satu amplop.

“Modal usaha.”

Ruangan seketika hening beberapa detik sebelum berubah riuh.

“Serius, Pak?” tanya Nadya tak percaya.

Bapak tertawa kecil. “Memangnya Bapak suka bercanda soal uang?”

Ia mulai menjelaskan satu per satu rencananya.

Untuk Ibu Salma, bapak menyiapkan modal membuka toko sembako yang lebih besar di pasar kecamatan. Selama ini Ibu Salma memang pandai mengatur kebutuhan rumah tangga dan sering dimintai tolong tetangga membeli barang dalam jumlah banyak.

“Kalau tokonya berkembang, Nadya bisa membantu mengelolanya,” kata bapak.

Mata Nadya langsung berbinar.

Lalu bapak menyerahkan amplop kedua kepada Ibu Ratih.

“Kamu bilang ingin membuka butik kecil dan menjual pakaian dari kota. Bapak sudah siapkan modal awalnya.”

Ibu Ratih menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya lirih.

Daena memperhatikan wajah Rania yang sekilas tampak terkejut mendengar ibunya benar-benar diberi kesempatan membuka usaha sendiri.

Amplop ketiga diberikan kepada Ibu Mira.

“Kamu paling pandai memasak. Sayang kalau hanya untuk keluarga sendiri. Bapak ingin kamu membuka usaha katering.”

Lihat selengkapnya