DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #5

Tagihan dari Masa Lalu #5

Kebahagiaan di rumah mereka bertahan hampir setahun penuh.

Toko sembako Ibu Salma semakin ramai. Katering Ibu Mira mulai menerima pesanan dari luar desa. Kios tanaman Ibu Lestari bahkan pernah diliput akun media sosial milik kecamatan karena dianggap paling rapi.

Yang paling mengejutkan justru Butik Ratih.

Pelanggan datang silih berganti untuk membeli gamis dan pakaian kerja yang dibawa dari kota. Ibu Ratih yang dulu pendiam kini sering terlihat lebih percaya diri saat melayani pembeli.

“Lihat, Bu Ratih sekarang sudah seperti pengusaha sungguhan,” goda Ibu Lestari suatu sore.

Ibu Ratih hanya tersenyum tipis, tetapi Daena bisa melihat kebanggaan di matanya.

Rania juga mulai sering membantu di butik sepulang sekolah. Ia mencatat pesanan dengan teliti dan menata pakaian berdasarkan warna serta ukuran.

“Kalau butik ini punya cabang, Rania pasti cocok jadi manajernya,” kata Daena sambil menggantung pakaian baru.

Rania menatap rak yang sedang dirapikannya.

“Cabang saja belum ada.”

“Tapi bisa saja nanti ada.”

Untuk sesaat, wajah Rania terlihat lebih ringan dari biasanya.

Namun ketenangan itu pecah pada suatu siang yang panas.

Daena sedang membantu Ibu Mira menyiapkan pesanan nasi kotak ketika terdengar suara motor berhenti kasar di depan rumah. Tidak lama kemudian, suara laki-laki asing terdengar cukup keras.

“Ratih! Keluar!”

Semua orang saling berpandangan.

Bapak yang sedang duduk di teras langsung berdiri. Wajahnya berubah serius ketika melihat seorang pria bertubuh kurus dengan jaket lusuh berdiri di halaman sambil merokok.

Daena belum pernah melihat pria itu sebelumnya.

Tetapi reaksi Ibu Ratih membuat dadanya langsung tidak enak.

Wajah perempuan itu pucat seketika.

“Siapa dia?” bisik Daena kepada Nadya.

Nadya menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”

Pria itu melangkah lebih dekat.

“Ratih, kita harus bicara.”

Bapak berdiri menghadang di depan teras.

“Siapa Anda?”

Pria itu membuang puntung rokok sembarangan.

“Saya Fadli. Mantan suami Ratih.”

Suasana langsung membeku.

Daena menoleh kepada Rania. Gadis itu berdiri kaku di dekat pintu butik dengan wajah lebih pucat daripada ibunya.

Bapak menarik napas panjang sebelum berkata tegas, “Kalau ada urusan, bicara baik-baik.”

Fadli tertawa sinis.

“Baik-baik? Setelah bertahun-tahun Ratih membawa anak saya pergi?”

Ibu Ratih akhirnya melangkah maju.

“Rania bukan barang yang kubawa pergi. Dia memilih tinggal bersamaku.”

Fadli menatap tajam ke arah Rania.

Lihat selengkapnya