Sudah hampir dua bulan sejak Fadli datang membawa ancaman mengenai hak asuh Rania.
Rumah besar itu masih berdiri dengan halaman yang sama, pohon mangga yang sama, bahkan suara ayam peliharaan Raka masih terdengar setiap pagi.
Namun entah mengapa, Daena merasa ada sesuatu yang berubah.
Bukan pada rumahnya.
Melainkan pada orang-orang di dalamnya.
------
Pagi itu Daena membantu Ibu Mira membungkus pesanan nasi kotak.
Biasanya, Ibu Ratih selalu datang lebih dulu untuk meminjam timbangan dapur atau sekadar mengobrol sebentar sebelum membuka butik.
Hari ini tidak.
Butik sudah buka sejak pukul tujuh.
Pintu dapurnya tetap tertutup.
"Aneh ya," gumam Ibu Mira sambil mengikat plastik nasi.
"Apa, Bu?"
"Ratih tidak biasanya seperti ini."
Daena hanya mengangguk.
Belakangan, Ibu Ratih memang lebih banyak menghabiskan waktu di butik. Bahkan ketika jam makan siang tiba, ia sering makan sendirian di ruang tokonya.
-------
Menjelang sore, Bapak memanggil seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah.
"Ada yang ingin Bapak bicarakan."
Semua duduk melingkar.
Ibu Salma.
Ibu Mira.
Ibu Lestari.
Ibu Ratih.
Anak-anak.
Suasananya tampak biasa.
Namun Daena melihat wajah bapaknya lebih serius daripada biasanya.
"Keuntungan usaha bulan ini akan kita hitung bersama," ujar beliau sambil membuka buku catatan.
Ibu Salma langsung menyerahkan laporan tokonya.
Ibu Mira juga menyerahkan buku pesanan katering.
Ibu Lestari membawa catatan sederhana penuh coretan.
Ketika giliran Ibu Ratih...
Perempuan itu hanya diam.
"Buku catatannya mana?" tanya Bapak lembut.
"Masih di butik."
"Bawa saja nanti."
"Tidak sempat."
Ruangan mendadak sunyi.
Bapak tersenyum tipis.
"Kalau begitu besok saja."
Namun Ibu Salma tiba-tiba bertanya pelan.
"Ratih... stok pakaianmu kok semakin sedikit?"
Semua mata mengarah kepadanya.
Ibu Ratih menarik napas panjang.
"Ada beberapa kebutuhan."
"Kebutuhan usaha?"
"Bukan."
Tak ada yang melanjutkan pertanyaan.
Tetapi Daena melihat Ibu Mira saling pandang dengan Ibu Salma.
--------
Malam harinya...
Daena tanpa sengaja mendengar percakapan dari ruang tamu.
"Bapak sudah memberikan modal cukup besar."