DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #7

Malam Ketika Brankas Kosong #7

Bagian 1 — Pagi yang Terlalu Sunyi

Embun masih menggantung di ujung daun pisang ketika Daena membuka jendela kamarnya.

Udara pagi biasanya membawa aroma roti yang dipanggang Ibu Salma atau bau rempah dari dapur Ibu Mira. Namun pagi itu, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Rumah terlalu sunyi.

Daena mengerutkan kening.

Biasanya, jam enam pagi sudah terdengar suara pintu butik dibuka oleh Ibu Ratih. Rania akan menyapu halaman depan, sementara Ibu Lestari sibuk menyiram tanaman.

Hari itu...

Tak ada suara apa pun dari arah butik.

Daena segera turun.

Di dapur, Ibu Mira sedang menuangkan teh panas.

"Pagi, Bu."

"Pagi, Nak."

"Ibu Ratih belum buka butik?"

Ibu Mira menggeleng pelan.

"Mungkin masih lelah."

Daena mengangguk, meski hatinya mulai merasa tidak tenang.

Semalam pertengkaran itu memang cukup membuat semua orang kelelahan.

Ia berharap pagi ini semuanya kembali seperti biasa.

-----------

Saat sarapan dimulai, satu kursi kembali kosong.

Kursi milik Ibu Ratih.

Rania juga belum terlihat.

Bapak melirik jam dinding.

"Ratih belum bangun?"

Ibu Salma menjawab pelan.

"Belum keluar kamar."

Bapak berdiri.

"Aku panggil."

Tak lama kemudian beliau kembali dengan wajah sedikit berubah.

"Kamarnya kosong."

Daena spontan mengangkat wajah.

"Kosong?"

"Ratih dan Rania tidak ada."

Semua saling berpandangan.

Mungkin mereka pergi ke pasar.

Atau ke kota.

Tak ada yang terlalu mencurigai.

Setidaknya...

Belum.

-------------

Pukul sembilan.

Butik masih tertutup.

Telepon Ibu Ratih tidak aktif.

Rania juga tidak bisa dihubungi.

Ibu Lestari mulai gelisah.

"Biasanya kalau ke kota pasti bilang."

Ibu Mira mencoba menenangkan.

"Mungkin baterainya habis."

Namun Bapak sudah mengambil kunci motor.

"Aku ke butik."

Daena segera berdiri.

"Aku ikut."

---------------------

Pintu butik terbuka perlahan.

Ruangan itu tampak jauh lebih kosong daripada terakhir kali Daena melihatnya.

Rak bagian depan hampir tidak berisi.

Beberapa gantungan pakaian kosong bergoyang pelan tertiup angin.

Bapak memandangi ruangan itu tanpa bicara.

Daena berjalan ke meja kasir.

Laci uang terbuka.

Kosong.

Buku pembukuan juga tidak ada.

"Ibu..."

bisiknya pelan.

Bapak mulai membuka lemari penyimpanan.

Kosong.

Kotak tempat menyimpan kuitansi juga hilang.

Daena merasakan jantungnya berdegup semakin cepat.

"Apa mungkin..."

Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Bapak menutup pintu lemari perlahan.

"Waktu kita pulang."

Suara beliau sangat pelan.

Terlalu pelan.

Dan itu justru membuat Daena semakin takut.

---------------

Di rumah, suasana mulai berubah panik.

Raka baru saja pulang dari kebun.

"Ada apa?"

"Ibu Ratih belum pulang."

"Wah, mungkin ke kota."

"Bukan cuma itu."

Bapak menyerahkan kunci butik kepada Raka.

"Semua pembukuannya hilang."

Raka langsung terdiam.

Nadya yang sejak tadi berdiri di dapur ikut mendekat.

"Maksud Bapak?"

"Tidak ada satu pun dokumen usaha."

Ruangan kembali sunyi.

--------------

Menjelang siang, Bapak meminta semua orang berkumpul di ruang kerja.

Beliau mengeluarkan map berisi salinan surat-surat tanah.

Tangannya sedikit gemetar.

"Ayah hanya ingin memastikan semuanya masih aman."

Beliau membuka satu map.

Lalu map kedua.

Ketiga.

Keempat.

Semakin lama wajahnya semakin pucat.

Daena belum pernah melihat ayahnya seperti itu.

Beliau membuka laci meja.

Mengambil telepon.

Menghubungi seseorang.

"Halo, Pak Hendra?"

...

"Saya mau tanya... sertifikat tanah nomor tujuh belas masih atas nama Ratih, kan?"

Beliau mendengarkan cukup lama.

Kemudian...

Wajahnya kehilangan warna.

"Apa maksud Bapak... sudah balik nama?"

Ruangan mendadak membeku.

Daena menatap ayahnya.

Jantungnya berdegup semakin keras.

"Aset yang mana?"

...

"Semuanya?"

Telepon perlahan terlepas dari tangan Bapak.

Tidak ada yang berani bicara.

Beliau hanya memandang kosong ke depan.

Seolah baru saja kehilangan sesuatu yang tak mungkin kembali.

------------------------

"Ada apa, Pak?"

Suara Ibu Mira bergetar.

Bapak tidak menjawab.

Beliau mengambil napas panjang.

Lalu berkata sangat pelan.

"Tanah di timur..."

"Sudah dijual."

Tak ada suara.

"Ruko pasar."

"Sudah berpindah nama."

Daena merasa tubuhnya mulai dingin.

"Gudang."

"Juga."

Ibu Salma mulai menutup mulutnya.

"Rumah kontrakan."

"Sudah."

Air mata Ibu Lestari langsung jatuh.

"Itu..."

"Itu hampir semua aset atas nama Ratih."

Tak seorang pun bergerak.

Bahkan suara kipas angin terdengar sangat jelas.

Daena menoleh kepada ibunya.

Ibu Mira tampak memejamkan mata.

Bibirnya komat-kamit membaca istigfar.

Sedangkan Raka mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

---------------------

Bapak berdiri perlahan.

Langkahnya terasa berat menuju kamar utama.

Beliau membuka lemari kayu tua yang selama puluhan tahun menjadi tempat menyimpan surat-surat penting keluarga.

Di bagian paling bawah terdapat sebuah brankas besi.

Daena baru menyadari bahwa pintunya sedikit terbuka.

Bapak memasukkan kunci.

Tidak terkunci.

Perlahan beliau membuka pintunya.

Kosong.

Map merah.

Tidak ada.

Map hijau.

Tidak ada.

Buku tabungan.

Tidak ada.

Perhiasan cadangan keluarga.

Tidak ada.

Hanya tersisa beberapa lembar kertas kosong yang berserakan di dasar brankas.

Bapak terduduk di lantai.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Daena...

Ia melihat lelaki yang selalu tampak paling kuat di rumah itu menundukkan kepala tanpa mampu berkata apa-apa.

Daena berlari memeluk ayahnya dari belakang.

"Pak..."

Namun ayahnya tidak menjawab.

Beliau hanya menatap brankas yang kosong.

Seolah bukan uang yang baru saja dirampas darinya.

Lihat selengkapnya