Sudah seminggu sejak Ibu Ratih dan Rania meninggalkan rumah.
Tidak ada kabar.
Tidak ada alamat.
Nomor telepon yang dahulu aktif kini tidak lagi bisa dihubungi.
Rumah besar itu tetap berdiri megah di tengah kebun-kebun milik keluarga. Dari luar, tidak ada yang tampak berubah. Orang-orang yang melintas masih melihat pagar besi yang kokoh, halaman yang luas, dan deretan pohon mangga yang rindang.
Namun hanya mereka yang tinggal di dalam rumah itu yang tahu bahwa kemegahan itu hanyalah kulit.
Sesungguhnya, rumah itu telah kehilangan sebagian besar jiwanya.
-------------------
Sejak pagi, beberapa pria berpakaian rapi datang silih berganti.
Sebagian berasal dari bank.
Sebagian lagi dari kantor notaris.
Mereka membawa map-map tebal berisi dokumen.
Daena yang sedang menyapu teras melihat mereka keluar masuk ruang kerja ayah tanpa henti.
Suara percakapan terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat dadanya semakin sesak.
"...jaminan kredit..."
"...sertifikat sudah berpindah..."
"...angsuran jatuh tempo..."
Istilah-istilah yang sebelumnya terasa asing kini menjadi percakapan sehari-hari di rumah mereka.
---------------
Menjelang siang, Pak Hendra kembali datang.
Beliau meletakkan sebuah daftar di atas meja.
Ayah membaca perlahan.
Semakin lama, wajahnya semakin pucat.
"Ada berapa yang masih tersisa?" tanya Ibu Mira lirih.
Pak Hendra menarik napas panjang.
"Kalau dihitung seluruh aset keluarga..."
Beliau berhenti beberapa saat.
"...sekitar delapan puluh persen sudah tidak bisa kita selamatkan."
Tak ada yang berbicara.
Angka itu terasa seperti palu yang menghantam dada setiap orang.
Delapan puluh persen.
Artinya, dari seluruh tanah yang dulu membentang sejauh mata memandang, hanya sedikit yang masih menjadi milik mereka.
------------------
Sore harinya, Daena berdiri di balkon lantai dua.
Dari sana ia bisa melihat hamparan sawah yang dahulu sering diceritakan ayah sebagai warisan untuk anak-anaknya.
Kini beberapa petak sawah telah dipasangi papan bertuliskan "Milik PT Sumber Jaya".
Beberapa pekerja asing mulai mengukur tanah.
Daena menelan ludah.
"Pak..."
Ayah yang berdiri di sampingnya mengikuti arah pandang putrinya.
"Itu sawah kita, ya?"
Ayah mengangguk pelan.
"Dulu."
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat air mata Daena jatuh.