Pagi itu kampus tampak lebih ramai daripada biasanya.
Mahasiswa baru memenuhi halaman fakultas sambil membawa map berwarna-warni. Spanduk penyambutan tergantung di depan gedung utama. Tawa terdengar di mana-mana.
Daena berdiri cukup lama di depan gerbang.
Seragam putih krem yang dikenakannya masih rapi.
Tas punggung biru yang dibelikan ayah saat pertama kali kuliah masih menggantung di bahunya.
Namun langkahnya terasa jauh lebih berat dibanding hari pertama ia menjadi mahasiswa.
Di dalam tas itu hanya ada satu amplop putih.
Surat tagihan pembayaran kuliah.
-------------------------
"Aku duluan ke kelas, ya!"
Sahabatnya, Nisa, melambaikan tangan.
Daena tersenyum kecil.
"Iya."
"Kamu kenapa? Kok murung?"
"Nggak apa-apa."
Nisa tidak bertanya lagi.
Ia berlari menuju gedung kuliah.
Daena justru berjalan ke arah yang berbeda.
Menuju gedung administrasi.
------------------------
Di depan loket pembayaran, antrean cukup panjang.
Satu per satu mahasiswa menyerahkan bukti transfer.
Mereka tersenyum lega setelah menerima kartu ujian.
Ketika gilirannya tiba, petugas perempuan itu tersenyum ramah.
"Selamat pagi."
"Pagi, Bu."
"Silakan, ada yang bisa dibantu?"
Daena menyerahkan surat tagihan.
"Saya ingin bertanya... apakah pembayaran uang kuliah bisa ditunda?"
Petugas memeriksa data di komputer.
"Keterlambatan maksimal dua minggu."
"Kalau lebih?"
Petugas menggeleng pelan.
"Sesuai aturan, mahasiswa harus mengambil cuti atau mengundurkan diri."
Daena menundukkan kepala.
"Apa tidak ada cara lain?"
Petugas memandangnya penuh iba.
"Kalau ada surat beasiswa atau bantuan pendidikan mungkin bisa diproses."
Daena menggeleng.
Ia tidak memiliki apa pun.
------------------------
Keluar dari ruang administrasi, Daena duduk di bangku taman kampus.
Mahasiswa lain lalu lalang dengan wajah ceria.
Ada yang sibuk membahas tugas.
Ada yang bercanda.
Ada yang memesan minuman di kantin.
Semuanya tampak sedang mengejar mimpi.
Sedangkan dirinya...
Sedang mencari cara mengucapkan selamat tinggal pada mimpi itu.
-----------------------------
Ponselnya berdering.
Nama Bapak muncul di layar.
Daena menarik napas sebelum menjawab.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam."
Suara ayah terdengar lelah.
"Kuliah hari ini bagaimana?"
Daena menatap gedung fakultas.
"Baik, Pak."
"Sudah makan?"
"Sudah."
Padahal sejak pagi ia belum menyentuh apa pun.