DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #10

Bapak Mulai Runtuh #10

Sudah hampir tiga bulan sejak Daena meninggalkan bangku kuliah.

Rumah besar itu masih berdiri di tempatnya, tetapi tidak lagi dipenuhi kesibukan seperti dulu.

Tak ada lagi suara truk yang mengangkut hasil panen sejak subuh.

Tak terdengar lagi para pekerja bercanda di halaman.

Gudang yang dahulu penuh karung gabah kini kosong.

Bahkan angin yang berembus melewati halaman terasa membawa kesunyian yang berbeda.

Daena mulai terbiasa membantu pekerjaan rumah sejak pagi.

Setelah menyapu halaman, ia membantu Ibu Mira memasak, kemudian mengantar pesanan katering yang kini menjadi satu-satunya usaha keluarga yang masih berjalan.

Di sela kesibukan itu, matanya selalu mencari satu orang.

Bapak.

---------------------

Biasanya, selepas salat Subuh, Bapak sudah berjalan mengelilingi kebun.

Kini beliau lebih sering duduk di kursi rotan di teras.

Di pangkuannya selalu ada buku catatan keuangan yang semakin tipis isinya.

Sesekali beliau mencoret sesuatu.

Lebih sering lagi hanya menatap kosong halaman rumah.

Suatu pagi, Daena membawa secangkir teh hangat.

"Pak, tehnya."

Bapak tersenyum.

"Terima kasih."

Daena duduk di sampingnya.

Sudah lama mereka tidak berbincang berdua.

"Ayah tidak ke kebun?"

Bapak menggeleng pelan.

"Kebunnya tinggal sedikit."

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun Daena tahu, setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya selalu menyimpan luka.

----------------------

Siang itu terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Seorang pria berjas turun sambil membawa map.

Daena mengenalinya.

Petugas bank.

Ia mempersilakan tamu itu masuk ke ruang tamu.

Percakapan mereka tidak terlalu keras.

Namun beberapa kalimat tetap terdengar jelas.

"...restrukturisasi pinjaman..."

"...jaminan sudah tidak mencukupi..."

"...kami memberi waktu satu bulan lagi..."

Daena melihat ayahnya tetap tenang.

Beliau mengangguk berkali-kali.

Mengucapkan terima kasih.

Mengantar tamunya sampai ke halaman.

Begitu mobil itu pergi, ayah tetap berdiri memandang jalan yang mulai lengang.

Pundaknya tampak semakin membungkuk.

--------------------

Malam harinya, Daena mendapati ayah masih berada di ruang kerja.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.

Lampu meja masih menyala.

Di atas meja berserakan kuitansi, surat utang, dan buku rekening.

"Bapak belum tidur?"

Beliau tersenyum kecil.

"Sebentar lagi."

Daena duduk di kursi sebelah.

"Ayah sedang apa?"

"Menghitung."

"Menghitung apa?"

"Berapakah yang masih bisa diselamatkan."

Lihat selengkapnya