Malam itu hujan turun tipis-tipis, membasahi halaman rumah yang dulu selalu dipenuhi suara tawa. Kini rumah besar itu terasa berbeda. Lampu ruang tengah menyala redup, dan aroma minyak kayu putih bercampur dengan bau obat-obatan memenuhi udara.
Bapak sudah hampir dua minggu terbaring sakit.
Tubuh lelaki yang dulu begitu tegap kini tampak menyusut di atas ranjang kayu jati. Napasnya berat, kadang tersengal seperti harus berjuang hanya untuk menarik udara ke dalam paru-parunya.
Daena duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan bapaknya yang mulai dingin.
“Pak, minum sedikit lagi,” ujarnya lembut sambil menyodorkan gelas.
Bapak membuka mata perlahan. Tatapannya masih hangat meski tampak lelah.
“Daena…” suaranya serak.
“Iya, Pak.”
“Kamu sudah makan?”
Pertanyaan sederhana itu membuat dada Daena sesak. Bahkan dalam keadaan seperti ini, bapaknya masih memikirkan apakah anak-anaknya sudah makan atau belum.
“Sudah, Pak. Semua juga sudah makan.”
Di sudut kamar, Ibu Salma sedang melipat kain kompres. Wajah perempuan itu tampak jauh lebih tua dalam beberapa hari terakhir. Ibu Mira duduk sambil membaca doa pelan. Ibu Lestari sesekali keluar masuk membawa air hangat.
Hanya Ibu Ratih yang lebih banyak diam di dekat jendela, memandang hujan tanpa banyak bicara.
Sejak dokter dari kota mengatakan bahwa kondisi bapak semakin menurun, seluruh keluarga nyaris tidak pernah meninggalkan rumah.
Raka dan Nadya bergantian berjaga setiap malam. Bahkan Rania yang biasanya menghindari keramaian kini sering duduk diam di teras dekat kamar bapak, seolah takut kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pahami sepenuhnya.
Malam semakin larut ketika bapak tiba-tiba meminta semua orang keluar.
“Bapak ingin bicara dengan Daena,” katanya lirih.
Keempat istrinya saling berpandangan sebelum mengangguk. Mereka keluar perlahan, menyisakan Daena seorang diri di dalam kamar.
Jantung Daena berdegup tidak tenang.
Bapak menatap langit-langit beberapa saat, seolah mengumpulkan tenaga.
“Daena…”
“Iya, Pak.”
“Ada sesuatu yang harus Bapak sampaikan.”
Daena mendekatkan kursinya.
“Jangan bicara terlalu banyak dulu. Nanti saja kalau sudah lebih kuat.”
Bapak menggeleng pelan.
“Kalau nanti… mungkin Bapak tidak sempat.”
Kalimat itu membuat mata Daena langsung panas.
“Jangan bilang begitu.”
Bapak tersenyum tipis.
“Semua orang akan pulang pada waktunya.”
Hening sejenak memenuhi kamar. Hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar jelas.
“Kamu anak yang paling sering mendengarkan Bapak,” lanjutnya perlahan. “Karena itu Bapak percaya sama kamu.”
Daena menggenggam tangan bapaknya lebih erat.
“Apa pun yang ingin Bapak sampaikan, aku dengar.”
Bapak menarik napas panjang. Wajahnya tampak menahan sakit.
“Kalau suatu hari rumah ini berubah… jangan biarkan kebencian memutuskan hubungan kalian.”
Air mata Daena mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
“Kami akan tetap bersama, Pak.”
“Janji itu mudah diucapkan saat hati masih tenang,” gumam bapak. “Yang sulit adalah menjaganya ketika ada luka.”
Ia terdiam cukup lama hingga Daena mengira pembicaraan itu selesai. Namun beberapa menit kemudian bapak kembali membuka mata dan menatapnya dengan sorot yang berbeda—lebih serius, lebih dalam.
“Ada satu hal lagi.”
Daena menunggu.
Tentang cucu pertama Bapak…”
Daena mengernyit bingung.
“Cucu pertama?”
Bapak mengangguk lemah.
“Kalian semua mengira…”
Kalimatnya terputus oleh batuk keras. Tubuhnya terguncang hebat hingga Daena panik.