Azan Subuh baru saja selesai ketika rumah besar itu dipenuhi suara tangis yang tertahan. Langit masih pucat dan udara terasa dingin setelah hujan semalaman, tetapi halaman rumah sudah dipenuhi sandal dan kendaraan para pelayat yang datang sejak dini hari.
Di ruang tengah, tubuh bapak terbujur kaku di atas dipan yang ditutupi kain putih bersih. Wajahnya tampak tenang, jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir ketika sakit menggerogoti tubuhnya perlahan.
Daena duduk di samping kepala bapaknya sambil menatap wajah itu tanpa berkedip.
Ia masih sulit percaya bahwa lelaki yang kemarin memanggil namanya kini tidak akan pernah berbicara lagi.
“Daena, minum dulu,” bisik Ibu Mira sambil menyodorkan segelas air hangat.
Daena menggeleng pelan.
Sejak malam tadi ia hampir tidak menangis lagi. Air matanya seperti habis bersama detik ketika dokter menyatakan bapaknya telah tiada. Yang tersisa hanyalah kekosongan besar di dadanya.
Di sudut ruangan, Ibu Salma memimpin beberapa perempuan kampung membacakan doa. Suaranya bergetar, tetapi ia berusaha tetap tegar sebagai istri pertama dan perempuan tertua di rumah itu.
Ibu Lestari menangis tanpa henti sambil memeluk kedua anaknya yang kebingungan melihat orang-orang dewasa begitu sedih.
Sementara itu Ibu Ratih duduk diam dengan wajah pucat. Rania berdiri di belakang ibunya, memandang jenazah bapak dengan mata merah yang sulit ditebak apakah karena menangis atau kurang tidur.
Raka masuk dari halaman dengan sarung yang masih basah oleh air wudhu.
“Mobil untuk ke pemakaman sudah siap,” katanya lirih kepada Nadya.
Nadya mengangguk sambil menyeka air mata.
Biasanya rumah mereka selalu ramai dengan suara bercanda dan panggilan dari satu kamar ke kamar lain. Namun pagi itu keramaian terasa asing. Orang-orang berbicara dengan suara pelan, berjalan hati-hati, dan menghindari tatapan satu sama lain terlalu lama.
Ketika proses memandikan jenazah dimulai, Daena akhirnya tidak sanggup bertahan di ruang tengah. Ia keluar menuju teras belakang, tempat bapak dulu sering duduk menikmati kopi sore sambil memandangi kebun.
Kursi kayu itu masih ada.
Daena menyentuh sandarannya perlahan, lalu duduk di sana sambil menahan napas yang terasa sesak.
“Di sini ya.”
Suara Nadya membuatnya menoleh.
Kakak tirinya itu duduk di sebelahnya tanpa banyak bicara. Beberapa menit mereka hanya memandangi halaman belakang yang basah oleh embun.
“Aku masih berharap ini mimpi,” kata Nadya akhirnya.
Daena tersenyum pahit. “Aku juga.”
Nadya menggenggam tangannya.
“Kita harus kuat untuk ibu-ibu.”
Kalimat itu membuat mata Daena kembali panas.
“Bagaimana caranya kuat kalau rasanya seperti rumah ini ikut mati bersama Bapak?”
Nadya tidak bisa menjawab. Ia hanya memeluk bahu adiknya erat-erat.
Menjelang pukul sembilan pagi, jenazah bapak dibawa ke masjid desa untuk disalatkan. Tangis kembali pecah ketika tubuh itu diangkat oleh para lelaki keluarga dan tetangga.
Daena berjalan di belakang rombongan bersama ketiga ibu tirinya dan Rania.
Sepanjang jalan menuju masjid, ia mendengar bisik-bisik orang kampung.
“Kasihan anak-anaknya.”
“Sekarang bagaimana nasib keluarga besar itu?”
“Tanah dan kebunnya banyak sekali, pasti urusan warisan rumit.”
Daena menunduk. Baru beberapa jam bapaknya meninggal, orang-orang sudah membicarakan harta yang ditinggalkan.
Di masjid, saf perempuan dipenuhi tangisan pelan. Ketika imam mengucapkan takbir terakhir, dada Daena terasa benar-benar runtuh.
Ini nyata.
Bapaknya sudah pergi.
Pemakaman berlangsung menjelang siang di pemakaman keluarga di ujung desa. Matahari mulai terik, tetapi tanah masih lembap sehingga aroma tanah basah memenuhi udara.
Daena berdiri di bawah pohon kamboja ketika tubuh bapaknya diturunkan ke liang lahat.
Raka turun membantu mengatur posisi jenazah. Wajah kakak laki-lakinya tampak sangat tegar, tetapi ketika tanah pertama dijatuhkan, bahunya bergetar hebat.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…”