DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #13

Lelaki yang Tidak Kucintai#13

Hujan belum turun, tetapi langit sore menggantung kelabu di atas rumah besar yang kini terasa semakin sempit bagi Daena.

Sudah hampir tiga minggu sejak pemakaman bapak. Tahlilan tujuh hari dan empat puluh hari masih terus dipersiapkan, tetapi suasana rumah tidak pernah kembali seperti dulu. Percakapan yang terdengar hampir setiap malam bukan lagi tentang kebun, sekolah adik-adik, atau rencana panen, melainkan tentang cicilan, sertifikat, dan utang yang ternyata jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan Daena.

Sore itu Daena baru pulang dari kampus ketika melihat ibunya, Ibu Mira, duduk sendirian di ruang tengah dengan setumpuk kertas di pangkuannya.

Wajah perempuan itu tampak pucat dan lelah.

“Bu, belum istirahat?” tanya Daena sambil meletakkan tasnya.

Ibu Mira buru-buru menutupi beberapa lembar kertas.

“Tidak apa-apa. Ibu hanya sedang menghitung pengeluaran.”

Daena duduk di sampingnya dan tanpa sengaja melihat salah satu kertas yang belum tertutup sempurna. Di sana tertulis angka yang membuat napasnya tertahan.

Rp 385.000.000

“Utang siapa itu?” tanyanya pelan.

Ibu Mira terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Utang keluarga.”

“Sebanyak ini?”

Perempuan itu menghela napas panjang. “Sebagian untuk modal usaha kebun, sebagian lagi untuk menutup biaya pengobatan bapak selama beberapa bulan terakhir.”

Daena merasa kepalanya mendadak berat.

Selama ini ia tahu kondisi keluarga sedang sulit, tetapi ia tidak pernah membayangkan jumlahnya sebesar itu.

“Kenapa aku baru tahu sekarang?”

“Karena bapak tidak ingin kamu memikirkannya.”

Hening jatuh di antara mereka.

Dari dapur terdengar suara Ibu Salma dan Ibu Lestari sedang menyiapkan makan malam, tetapi suara itu tidak lagi mampu menghangatkan hati Daena seperti dulu.

“Kalau utangnya sebesar ini, bagaimana kita membayarnya?” tanyanya lirih.

Ibu Mira menunduk. Jemarinya meremas ujung jilbab dengan gelisah.

“Itulah yang sedang Ibu pikirkan.”

Malamnya, setelah makan bersama yang berlangsung nyaris tanpa percakapan, Ibu Mira mengetuk pintu kamar Daena.

“Boleh Ibu masuk?”

“Tentu, Bu.”

Ibu Mira masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di tepi ranjang dan tampak ragu untuk memulai pembicaraan.

Daena langsung merasa tidak tenang.

“Ada apa, Bu?”

Ibu Mira menatap wajah anaknya cukup lama sebelum berkata pelan, “Besok ada tamu datang.”

“Tamu siapa?”

“Keluarga Pak Arman.”

Daena mencoba mengingat nama itu. “Yang punya perusahaan kontraktor di kota?”

Ibu Mira mengangguk.

“Untuk apa mereka datang ke sini?”

Perempuan itu menarik napas panjang, seolah setiap kata yang akan keluar terasa berat.

“Mereka ingin bersilaturahmi… sekaligus membicarakan sesuatu.”

Daena mulai curiga.

“Membicarakan apa?”

Ibu Mira memalingkan wajah sebentar sebelum akhirnya berkata dengan suara nyaris berbisik, “Tentang kamu.”

Dunia seakan berhenti beberapa detik.

“Bu… maksud Ibu apa?”

“Anak mereka, Farrel, sedang mencari calon istri.”

Daena menatap ibunya tidak percaya.

“Dan keluarga mereka tertarik padamu.”

“Aku bahkan tidak mengenalnya.”

“Kalian bisa saling mengenal nanti.”

Daena berdiri dari ranjang dengan jantung berdegup keras.

“Bu, aku masih kuliah.”

“Ibu tahu.”

“Lalu kenapa tiba-tiba bicara soal menikah?”

Lihat selengkapnya