DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #14

Selamat Tinggal, Arga #14

Hujan turun sejak sore, membasahi jalan menuju kampus dan membuat langit tampak sekelam hati Daena.

Di tangan kirinya, ponsel terus bergetar.

Arga Calling…

Daena menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya mematikannya tanpa menjawab.

Sudah tiga hari ia menghindari lelaki itu.

Tiga hari sejak Ibu Mira mengatakan bahwa keluarga Farrel menunggu jawaban mereka.

Tiga hari sejak Daena sadar bahwa hidupnya tidak lagi berada sepenuhnya di tangannya sendiri.

Ia berdiri di bawah halte dekat kampus sambil memeluk tasnya erat-erat. Hujan membuat udara dingin, tetapi dadanya terasa jauh lebih dingin daripada cuaca sore itu.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini sebuah pesan masuk.

Kita perlu bicara. Aku di kafe biasa. Tolong datang. — Arga

Mata Daena langsung panas.

Kafe biasa.

Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan untuk ditinggalkan begitu saja.


Daena mengenal Arga dua tahun lalu, saat ospek kampus.

Waktu itu ia tersesat mencari ruang seminar dan hampir menangis karena seluruh gedung terasa seperti labirin. Seorang mahasiswa tingkat atas menghampirinya sambil membawa map biru.

“Jurusan Manajemen?” tanyanya sambil tersenyum.

Daena mengangguk bingung.

“Ruangnya bukan di gedung ini. Kalau terus ke sini, kamu malah masuk ruang rapat dosen.”

Lelaki itu kemudian mengantarnya sampai depan ruangan tanpa meminta imbalan apa pun.

Sebelum pergi, ia sempat berkata, “Lain kali baca papan petunjuk, ya.”

Daena masih ingat bagaimana ia mendengus kesal setelah lelaki itu pergi.

Baru beberapa minggu kemudian ia tahu nama mahasiswa menyebalkan itu: Arga Pratama.

Mereka mulai sering bertemu di perpustakaan, kantin, dan kegiatan organisasi kampus. Arga tidak pernah merayunya dengan kata-kata manis berlebihan. Ia hanya selalu hadir.

Ketika Daena sakit menjelang ujian semester pertama, Arga yang membawakan catatan kuliah lengkap.

Ketika motor Daena mogok di tengah hujan, Arga datang menjemput tanpa banyak bertanya.

Dan ketika Daena menangis setelah mendengar kabar bapaknya mulai sakit parah, Arga hanya memeluknya sambil berkata, “Kalau kamu lelah, bersandar saja sebentar.”

Kalimat sederhana itu lebih menenangkan daripada seribu nasihat.


Kafe kecil dekat kampus tampak hampir kosong ketika Daena tiba.

Arga sudah duduk di pojok dekat jendela, tempat favorit mereka sejak dulu. Secangkir kopi hitam di depannya sudah hampir dingin.

Begitu melihat Daena masuk, wajahnya langsung berubah lega sekaligus cemas.

“Akhirnya kamu datang.”

Daena duduk perlahan di seberangnya.

“Ada apa?”

Arga menatapnya lama.

“Pertanyaan itu harusnya aku yang bertanya.”

Daena menunduk.

“Kamu menghilang tiga hari. Telepon tidak dijawab, pesan cuma dibaca.”

“Aku sibuk di rumah.”

“Daena.” Suara Arga melembut. “Aku mengenalmu cukup lama untuk tahu kapan kamu berbohong.”

Hening jatuh di antara mereka.

Pelayan datang menawarkan pesanan, tetapi Daena hanya meminta teh hangat tanpa benar-benar berniat meminumnya.

Arga memperhatikan wajahnya yang pucat.

“Apakah ini tentang keluargamu?”

Daena mengangguk pelan.

“Utangnya?”

Kali ini Daena terdiam lebih lama sebelum akhirnya berkata lirih, “Bukan cuma itu.”

Arga menunggu.

Daena merasa tenggorokannya tercekat. Namun semakin lama ia menunda, semakin besar luka yang akan tercipta.

“Ibu menjodohkanku.”

Kalimat itu membuat Arga membeku.

Lihat selengkapnya