DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #15

Pengantin dengan Air Mata #15

Pagi itu matahari bersinar terlalu terang untuk hari yang terasa begitu gelap bagi Daena.

Sejak subuh rumah sudah ramai. Suara perempuan-perempuan tetangga terdengar dari dapur, aroma bawang goreng dan santan memenuhi udara, sementara kursi-kursi plastik mulai disusun di halaman depan untuk para tamu akad nikah.

Rumah yang beberapa minggu lalu dipenuhi doa kematian kini dipenuhi persiapan pernikahan.

Perubahan itu terasa begitu cepat dan menyakitkan.

Daena duduk di depan cermin kamarnya dengan wajah pucat. Di atas meja tergeletak kebaya putih sederhana yang akan dikenakannya pagi ini.

Kebaya itu cantik.

Tetapi baginya, kain putih itu terasa seperti pakaian untuk menghadiri pemakaman lain—pemakaman mimpi-mimpinya sendiri.

Pintu kamar terbuka pelan.

Ibu Mira masuk sambil membawa kotak kecil berisi perhiasan.

“Sudah waktunya bersiap, Nak.”

Daena menatap bayangan dirinya di cermin.

“Masih bisakah aku membatalkan semua ini?”

Suara itu keluar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

Ibu Mira berhenti melangkah. Matanya langsung berkaca-kaca.

“Jangan membuat Ibu semakin sulit.”

Daena memejamkan mata.

Kalimat itu lagi.

Sejak hari perjodohan diputuskan, setiap penolakannya selalu berakhir dengan rasa bersalah karena melihat ibunya menangis. Dan setiap kali itu terjadi, keberaniannya untuk melawan semakin mengecil.

Ibu Mira duduk di belakangnya dan mulai menyisir rambut panjang putrinya perlahan.

“Farrel laki-laki baik,” katanya lirih. “Keluarganya juga memperlakukan kita dengan hormat.”

“Tapi aku tidak mencintainya.”

Tangan Ibu Mira berhenti sesaat.

“Kadang hidup tidak memberi kita kesempatan memilih siapa yang datang untuk menyelamatkan keluarga.”

Kata menyelamatkan membuat dada Daena sesak.

Apakah ia sedang diselamatkan?

Atau sedang dikorbankan?

Tak lama kemudian Ibu Salma masuk membawa baki berisi bunga melati.

Perempuan itu memandang Daena cukup lama sebelum tersenyum tipis.

“Kamu cantik sekali.”

Daena hampir menangis mendengar nada lembut itu.

Ibu Salma bukan ibu kandungnya, tetapi sejak kecil perempuan itulah yang paling sering mengusap air matanya ketika sedih.

“Ibu…” bisik Daena, “apa Bapak akan setuju kalau melihat ini?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening.

Ibu Salma menahan napas beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Bapak selalu ingin kalian bahagia.”

Jawaban itu justru membuat air mata Daena jatuh.

Karena ia tahu hari ini tidak ada kebahagiaan di hatinya.


Menjelang pukul sembilan pagi, halaman rumah mulai dipenuhi tamu. Tidak ada dekorasi mewah, hanya tenda sederhana dengan kain putih dan hijau serta rangkaian bunga melati di beberapa sudut.

Keluarga Farrel datang dengan mobil-mobil rapi yang langsung menarik perhatian tetangga sekitar.

Pak Arman tampak berwibawa dengan jas hitam sederhana. Istrinya mengenakan kebaya elegan berwarna krem.

Dan Farrel…

Lelaki itu turun dari mobil dengan setelan akad berwarna putih gading. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang dibanding kekacauan yang sedang terjadi di dalam diri Daena.

Ketika mata mereka bertemu dari kejauhan, Farrel sempat memberikan senyum kecil yang sopan.

Daena membalasnya dengan senyum tipis yang terasa seperti topeng.

Di ruang tamu, para lelaki mulai berkumpul untuk prosesi akad. Sementara Daena dipersiapkan di kamar oleh beberapa tetangga dan saudara perempuan.

“Jangan menangis nanti, riasannya bisa rusak,” kata salah seorang tante sambil menepuk bahunya.

Lihat selengkapnya