DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #16

Kebohongan di Rumah Mertua #16

Pagi pertama setelah pernikahan seharusnya menjadi awal kehidupan baru yang penuh harapan.

Namun bagi Daena, pagi itu terasa seperti bangun di rumah orang asing sambil membawa hati yang masih tertinggal di masa lalu.

Rumah keluarga Farrel berada di pinggiran kota, jauh lebih besar dibanding rumah kebun milik keluarganya. Dari luar, bangunannya tampak mewah: pagar besi tinggi, halaman luas dengan rumput rapi, dan mobil hitam yang selalu terparkir di garasi depan.

Ketika pertama kali melihatnya saat lamaran, Daena mengerti mengapa ibunya percaya keluarga itu sangat kaya.

Tetapi setelah dua hari tinggal di sana, ada sesuatu yang terasa janggal.

Pembantu rumah tangga hanya satu orang dan sering mengeluh soal gaji yang terlambat. Lampu di beberapa bagian rumah sengaja dimatikan hampir sepanjang hari untuk menghemat listrik. Bahkan Pak Arman beberapa kali terdengar berdebat dengan seseorang lewat telepon mengenai pembayaran proyek yang belum cair.

Daena mencoba mengabaikan semua itu. Mungkin setiap keluarga kaya memiliki caranya sendiri mengatur pengeluaran.

Pagi itu ia sedang membantu Bu Ratna, ibu Farrel, menyiapkan sarapan ketika perempuan itu berkata sambil tersenyum tipis, “Daena, nanti kalau ada waktu, Ibu ingin bicara soal keluargamu.”

Daena mengangguk sopan.

“Baik, Bu.”

Ia tidak terlalu memikirkannya sampai siang hari, ketika Bu Ratna mengajaknya duduk di ruang keluarga yang sepi.

Perempuan itu menuangkan teh hangat lalu membuka percakapan dengan nada sangat lembut.

“Bagaimana keadaan rumah setelah pembagian warisan mulai dibicarakan?”

Daena sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Belum ada pembagian resmi, Bu.”

“Tapi tanah dan kebunnya cukup banyak, kan?”

Daena mulai merasa tidak nyaman.

“Bapak memang punya beberapa bidang tanah.”

Bu Ratna tersenyum, tetapi sorot matanya tampak terlalu tertarik.

“Farrel pernah cerita bahwa kebun keluargamu luas sekali. Kalau dikelola dengan baik, hasilnya pasti besar.”

Daena hanya mengangguk singkat.

Percakapan itu berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin spesifik: berapa luas sawah di belakang rumah, apakah sertifikat masih atas nama bapak, siapa yang sekarang memegang dokumen tanah, dan apakah ada kemungkinan sebagian aset dijual.

Jantung Daena mulai berdetak tidak tenang.

Mengapa ibu mertuanya begitu ingin tahu soal harta keluarga mereka?

Malam harinya, ketika Farrel pulang dari kantor, Daena memberanikan diri bertanya.

“Ibumu tadi banyak bertanya soal tanah dan kebun keluarga kami.”

Farrel yang sedang melepas jam tangannya berhenti sesaat.

“Tanya apa?”

“Macam-macam. Tentang sertifikat, luas tanah, sampai kemungkinan dijual.”

Farrel menghela napas pelan.

“Mungkin hanya ingin tahu keadaan keluargamu.”

“Tapi pertanyaannya terlalu detail.”

Lelaki itu terdiam beberapa detik sebelum berkata, “Jangan terlalu dipikirkan.”

Jawaban itu tidak menenangkan Daena sama sekali.


Tiga hari kemudian Ibu Mira datang berkunjung.

Daena langsung memeluk ibunya erat-erat begitu melihatnya turun dari angkot di depan rumah. Baru beberapa hari berpisah, tetapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan.

“Kamu kurus,” kata Ibu Mira sambil mengusap pipi putrinya.

“Daena baik-baik saja.”

Mereka masuk ke rumah bersama-sama. Bu Ratna menyambut dengan ramah dan penuh senyum, tetapi Daena bisa merasakan ibunya memperhatikan sekeliling rumah dengan diam-diam.

Saat makan siang, Pak Arman banyak bercerita tentang bisnis kontraktornya.

“Sekarang proyek pemerintah sedang banyak,” katanya sambil tertawa kecil. “Kalau lancar, tahun depan kami berencana membuka cabang baru.”

Ibu Mira tampak lega mendengarnya.

Daena memperhatikan Farrel yang hanya diam sambil menatap piringnya.

Ada sesuatu dalam ekspresi suaminya yang sulit dibaca—seperti seseorang yang mendengar cerita yang terlalu sering diulang.

Setelah makan, Bu Ratna mengajak Ibu Mira melihat-lihat rumah. Daena ikut menemani.

Di ruang tengah, pembicaraan kembali mengarah pada keluarga Daena.

“Kasihan sekali setelah almarhum meninggal,” kata Bu Ratna dengan nada prihatin. “Tapi syukurlah beliau meninggalkan aset yang cukup untuk masa depan anak-anak.”

Ibu Mira tersenyum tipis. “Aset ada, Bu, tapi utangnya juga banyak.”

Lihat selengkapnya