DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #17

Suami yang Tetap Tinggal#17

Hujan turun deras malam itu, membentur atap rumah keluarga Farrel seperti ribuan jari yang mengetuk tanpa henti.

Di ruang tengah, suara pertengkaran dua keluarga bercampur dengan gemuruh hujan dan membuat rumah besar itu terasa semakin sesak.

Daena berdiri di ambang pintu ruang kerja dengan wajah pucat. Di dalam ruangan, Ibu Mira baru saja datang setelah menerima telepon panik dari putrinya sore tadi.

“Apa maksud semua ini, Pak Arman?” suara Ibu Mira bergetar menahan marah. “Dulu Bapak mengatakan keluarga Bapak akan membantu melunasi utang kami.”

Pak Arman menghela napas panjang. “Saya tidak pernah membuat perjanjian tertulis.”

“Tapi Bapak memberi harapan kepada kami!”

Bu Ratna menyela dengan nada lebih tajam, “Dan kami juga tidak pernah menyangka keluarga kalian menyimpan begitu banyak masalah setelah almarhum meninggal.”

Kalimat itu membuat Daena mengepalkan tangan.

“Masalah?” ulang Ibu Mira tidak percaya. “Justru kalian yang menyembunyikan utang keluarga sendiri!”

Ruangan mendadak hening beberapa detik.

Pak Arman menatap istrinya tajam, seolah menyalahkannya karena rahasia itu terbongkar.

Farrel yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan akhirnya melangkah maju.

“Sudah cukup.”

Semua mata tertuju padanya.

“Ayah, Ibu, jangan bicara seolah Daena dan keluarganya datang untuk memanfaatkan kita.”

Bu Ratna mendecakkan lidah. “Kamu membela mereka sekarang?”

“Aku membela kebenaran.”

Suara Farrel tenang, tetapi ada ketegasan yang belum pernah didengar Daena sebelumnya.

Pak Arman berdiri dari kursinya.

“Kamu tahu kondisi keluarga kita. Kalau Daena mendapat bagian warisan yang layak, bukankah wajar kalau suaminya ikut memikirkan masa depan bersama?”

“Memikirkan masa depan bersama berbeda dengan berharap hidup dari harta keluarganya.”

Pertengkaran itu semakin panas.

Ibu Mira menangis karena merasa telah menjebak putrinya ke dalam pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.

Bu Ratna merasa keluarganya dipermalukan.

Pak Arman terus berusaha membenarkan dirinya dengan alasan bahwa semua orang hanya ingin menyelamatkan keluarga masing-masing.

Dan di tengah kekacauan itu, Daena merasa kepalanya berputar.

Ia sudah terlalu lelah untuk marah.

“Cukup…” bisiknya pelan.

Namun tidak ada yang mendengar.

Suara-suara itu terus bertabrakan satu sama lain seperti ombak yang saling menghantam.

Sampai akhirnya Daena berteriak dengan suara yang pecah oleh tangis.

“CUKUP!”

Ruangan langsung sunyi.

Air mata mengalir di pipinya ketika ia menatap satu per satu orang yang berdiri di sana.

“Sejak Bapak meninggal, semua orang hanya bicara tentang utang dan harta.”

Ia menatap ibunya lebih dulu.

“Ibu menikahkanku karena takut keluarga kita hancur.”

Lalu pandangannya berpindah kepada Pak Arman dan Bu Ratna.

“Dan keluarga ini menerimaku karena berharap mendapat bagian dari warisan yang belum tentu ada.”

Suara Daena semakin gemetar.

“Tidak ada seorang pun yang bertanya apakah aku bahagia.”

Keheningan terasa begitu berat hingga suara hujan di luar terdengar sangat jelas.

Daena menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tanpa bisa ditahan lagi.

Lihat selengkapnya