Pagi pertama di rumah kontrakan kecil itu dimulai dengan suara ayam tetangga dan aroma kopi instan yang terlalu encer.
Daena membuka mata perlahan. Cahaya matahari masuk melalui jendela sempit yang tirainya belum sempat mereka ganti. Untuk beberapa detik ia lupa di mana berada, sampai matanya menangkap koper yang masih setengah terbuka di sudut kamar.
Ia sudah bukan gadis yang tinggal di rumah besar penuh saudara.
Ia juga bukan menantu keluarga kaya raya seperti yang dijanjikan ibunya.
Kini ia hanya seorang istri muda yang tinggal di rumah kontrakan sempit bersama lelaki yang nyaris tidak dikenalnya sebelum menikah.
Daena keluar kamar dengan langkah pelan.
Farrel sudah bangun lebih dulu. Lelaki itu sedang duduk di lantai ruang tamu sambil menghitung beberapa lembar uang pecahan kecil dan menuliskannya di buku catatan.
“Kamu sudah bangun?” tanyanya sambil tersenyum tipis.
Daena mengangguk. “Sedang menghitung apa?”
“Tabungan kita.”
Kata kita masih terdengar asing di telinga Daena.
Ia duduk di seberang Farrel dan melihat angka-angka di buku catatan itu.
Sisa uang setelah membayar uang muka kontrakan, membeli kebutuhan dapur, dan biaya transportasi ternyata tidak sampai tiga juta rupiah.
Dadanya terasa sesak.
“Cuma segini?”
Farrel mengangguk jujur.
“Aku masih punya gaji bulan ini, tapi sebagian harus dipakai untuk membayar cicilan motor.”
Daena terdiam. Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami bahwa hidup mereka dimulai dari titik yang jauh lebih rendah daripada yang pernah dibayangkannya.
“Kalau begitu bagaimana kita bertahan?” tanyanya lirih.
Farrel menutup bukunya.
“Itu yang sedang kupikirkan.”
Hening beberapa saat memenuhi ruangan kecil itu.
Tiba-tiba Daena teringat sesuatu.
“Aku bisa memasak.”
Farrel mengangkat alis. “Tentu saja bisa. Aku sudah merasakannya kemarin.”
“Bukan itu maksudku.” Daena mulai berpikir keras. “Di rumah dulu aku sering membantu Ibu Salma membuat risoles dan pastel untuk dijual ke warung.”
Farrel menatapnya lebih serius.
“Kamu ingin berjualan?”
Daena mengangguk pelan.
“Mungkin kita bisa mulai dari makanan kecil. Modalnya tidak terlalu besar.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, mata Farrel tampak sedikit berbinar.
“Kalau kita benar-benar mau mencoba, aku akan membantu.”
Siang harinya mereka pergi ke pasar tradisional dengan uang modal yang sangat terbatas.
Daena membawa daftar belanja yang ditulis rapi di kertas bekas buku kuliah:
Mereka berjalan menyusuri lorong pasar sambil berhitung hampir untuk setiap barang yang dibeli.
“Kalau beli kentang dua kilo, uang minyaknya kurang,” gumam Daena.
Farrel mengambil satu kilo kentang lalu tersenyum kecil. “Berarti hari ini kita belajar menjadi pedagang sungguhan.”
Daena ikut tersenyum tipis.
Sudah lama sekali ia tidak tersenyum tanpa dipaksa.
Di perjalanan pulang mereka melewati sebuah gang kecil yang cukup ramai pada sore hari. Di ujung gang itu ada lahan kosong sempit dekat pos ronda.
Beberapa pedagang kaki lima biasa mangkal di sana saat malam tiba.