Matahari siang terasa menyengat ketika Daena menurunkan gerobak kecilnya dari depan rumah kontrakan.
Sudah hampir enam bulan ia dan Farrel menjalankan usaha makanan di ujung gang. Penghasilan mereka belum besar, tetapi cukup untuk membayar kontrakan, membeli kebutuhan sehari-hari, dan sedikit demi sedikit menabung.
Tangan Daena kini lebih sering berbau bawang goreng dan minyak panas daripada tinta pulpen kuliah.
Buku-buku manajemen yang dulu memenuhi meja belajarnya tersimpan rapi di kardus bawah ranjang, berdebu dan jarang disentuh.
Siang itu ia mendapat telepon dari Nadya.
“Daena, besok ada acara keluarga di rumah Ibu Salma. Semua diminta datang.”
“Acara apa?”
“Syukuran kecil untuk kelulusan adik sepupu kita. Sekalian kumpul keluarga.”
Daena ragu.
Sejak menikah dan pindah ke kota, ia jarang datang ke rumah besar itu. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena setiap kali pulang ia selalu merasa seperti orang yang gagal membawa apa-apa selain cerita tentang gerobak gorengan.
“Aku lihat nanti, Kak.”
“Datanglah. Ibu Salma kangen sekali sama kamu.”
Kalimat itu membuat hati Daena melunak.
Keesokan harinya, setelah selesai menyiapkan adonan untuk sore nanti, Daena dan Farrel berangkat ke rumah keluarganya dengan motor tua yang suara mesinnya mulai kasar.
Perjalanan hampir satu jam terasa jauh lebih panjang karena jantung Daena terus berdebar tidak tenang.
Rumah besar itu tampak lebih ramai daripada biasanya. Beberapa mobil mewah terparkir di halaman depan, sesuatu yang jarang terlihat sejak bapaknya meninggal.
Begitu memasuki halaman, aroma masakan khas rumah langsung menyambutnya dan membuat dadanya menghangat sesaat.
Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.
Di ruang tamu, ia melihat tiga sosok yang langsung membuat langkahnya terhenti.
Raka berdiri mengenakan kemeja rapi dan jas dokter yang masih tersampir di lengannya. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, kakak tirinya itu kini menjadi dokter spesialis di rumah sakit swasta terkenal.
Di sampingnya, Nadya sedang berbicara dengan seorang pria berkacamata sambil memegang map-map tebal. Ternyata kakak perempuannya baru saja membuka kantor hukum sendiri dan mulai dikenal sebagai pengacara muda yang cukup sukses.
Dan di sudut lain, Rania duduk bersama beberapa tamu dengan penampilan yang sangat berbeda dari gadis pendiam yang dulu suka menggambar di kamar. Ia kini mengenakan blazer sederhana tetapi elegan, dan dari percakapan yang terdengar sekilas, Daena baru tahu bahwa usaha desain interior yang dirintis Rania berkembang pesat hingga mendapat proyek dari beberapa kafe dan hotel kecil di kota.
Dokter.
Pengacara.
Pengusaha.
Daena tiba-tiba merasa sangat kecil.
“Daena!”
Ibu Salma langsung menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kamu akhirnya datang juga.”
Daena berusaha tersenyum. “Ibu sehat?”
“Sehat. Ayo masuk.”
Farrel menyalami semua orang dengan sopan. Ia tampak tenang seperti biasa, sementara Daena merasa keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya.
Raka menghampiri mereka lebih dulu.
“Dek!” Ia memeluk Daena singkat. “Sudah lama sekali tidak pulang.”
“Usaha lagi ramai,” jawab Daena pelan.
Raka tersenyum bangga tanpa nada merendahkan sedikit pun.
“Bagus kalau begitu. Farrel, terima kasih sudah menjaga adikku.”
Farrel mengangguk hormat.
Percakapan sederhana itu seharusnya membuat Daena lega, tetapi justru semakin menyadarkannya betapa jauh hidup mereka sekarang berbeda.
Saat makan siang bersama, perbedaan itu terasa semakin nyata.
Raka bercerita tentang jadwal operasinya yang padat dan rencananya mengambil pelatihan ke luar negeri tahun depan.
Nadya membahas kasus besar pertama yang sedang ditanganinya di pengadilan.
Rania menjelaskan proyek renovasi sebuah restoran baru yang akan dibukanya bersama investor.
Semua orang tampak memiliki arah hidup yang jelas.
Lalu pertanyaan itu datang.
“Kalau Daena sekarang bagaimana?” tanya salah satu tante sambil tersenyum ramah.