DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #20

Aku Hanya Ingin Pulang#20

Malam itu hujan turun pelan, membasahi atap seng rumah kontrakan kecil mereka dan menimbulkan bunyi yang mengingatkan Daena pada masa kecilnya.

Ia sedang melipat kain lap bekas berjualan ketika aroma bawang goreng dari dapur tetangga tiba-tiba membuat dadanya terasa sesak.

Aroma itu sama persis dengan aroma yang dulu memenuhi rumah besar bapaknya setiap pagi.

Tanpa sadar Daena berhenti bekerja dan menatap kosong ke arah jendela.

“Ada apa?” tanya Farrel yang sedang menghitung hasil jualan hari itu.

Daena menggeleng pelan.

“Aku cuma… kangen rumah.”

Farrel menutup buku catatannya. Ia tahu yang dimaksud Daena bukan rumah kontrakan sempit ini, melainkan rumah besar dengan empat ibu, meja makan panjang, dan suara saudara-saudara yang saling berebut lauk.

Sudah hampir setahun sejak bapaknya meninggal.

Namun kerinduan itu tidak pernah mengecil.

Malam semakin larut. Setelah Farrel tertidur di sofa ruang tamu, Daena tetap terjaga sendirian.

Hujan membuat udara dingin, dan kenangan datang tanpa diminta.

Ia teringat pagi-pagi ketika Ibu Salma berteriak memanggil semua anak turun sarapan.

“Daena, nasinya keburu dingin!”

Ia teringat Raka yang melempar kulit rambutan dari atas pohon sambil tertawa puas.

Ia teringat Nadya yang selalu menjadi penengah ketika mereka bertengkar soal hal-hal sepele.

Bahkan ia merindukan suara anak-anak Ibu Lestari yang berlarian mengelilingi meja makan sambil membuat keributan.

Dulu ia sering mengeluh rumah itu terlalu ramai.

Sekarang ia rela melakukan apa saja hanya untuk mendengar keramaian itu sekali lagi.


Beberapa hari kemudian Daena mendapat kabar bahwa Ibu Salma sedang kurang sehat karena kelelahan mengurus rumah dan kebun.

Tanpa banyak berpikir, ia memutuskan pulang sendirian naik angkot sore hari setelah selesai menyiapkan dagangan.

Perjalanan menuju desa terasa dipenuhi campuran rindu dan takut.

Ketika angkot berhenti di depan gang rumahnya, jantung Daena berdetak lebih cepat.

Rumah besar itu masih berdiri di tempat yang sama.

Namun sesuatu terasa berbeda bahkan sebelum ia masuk ke halaman.

Pintu depan tertutup rapat.

Suara tawa yang dulu selalu terdengar hampir tidak ada.

Halaman tampak lebih sepi, dan beberapa pot bunga milik Ibu Lestari terlihat kering tidak terurus.

Daena mengetuk pintu pelan.

Ibu Salma yang membuka pintu langsung memeluknya erat.

“Ya Allah, akhirnya kamu pulang juga.”

Pelukan itu membuat mata Daena langsung panas.

“Bagaimana kesehatan Ibu?”

“Sudah lumayan. Ayo masuk.”

Ruang tengah terasa asing.

Meja makan panjang masih ada, tetapi kini hanya terisi beberapa piring dan termos air. Tidak ada suara bersahutan dari berbagai arah seperti dulu.

“Yang lain ke mana?” tanya Daena.

Ibu Salma menghela napas.

“Raka sedang jaga di rumah sakit. Nadya jarang pulang karena sibuk dengan kantornya. Ibu Ratih lebih banyak tinggal di rumah saudaranya di kota bersama Rania. Ibu Lestari sedang mengurus anak-anak di belakang.”

Setiap kalimat terasa seperti potongan rumah yang hilang satu per satu.

Daena duduk perlahan di kursi yang dulu hampir tidak pernah kosong.

Dulu meja ini penuh sembilan orang.

Lihat selengkapnya