Pagi itu hujan turun sejak menjelang Subuh.
Rintik-rintik air membasahi genting rumah kontrakan sederhana yang kini menjadi tempat tinggal Daena dan ibunya. Tidak lagi ada rumah besar dengan halaman luas, tidak ada kebun yang membentang, dan tidak ada suara para pekerja yang dahulu memenuhi pagi. Yang tersisa hanyalah sebuah rumah kecil dengan dinding yang mulai kusam dan halaman sempit yang ditumbuhi beberapa pot bunga peninggalan Ibu Mira.
Daena terbangun ketika mendengar suara batuk dari kamar sebelah.
Batuk itu sudah terdengar sejak dua hari terakhir.
Awalnya hanya batuk biasa.
Kemudian disusul demam.
"Ibu..."
Daena segera menghampiri.
Ibu Mira duduk bersandar di ranjang. Wajahnya pucat, bibirnya kering, tetapi ia tetap berusaha tersenyum ketika melihat putrinya datang.
"Maaf membangunkanmu."
Daena langsung menyentuh dahi ibunya.
Panas.
Sangat panas.
"Ibu demam lagi."
"Hanya sedikit."
"Ibu sudah bilang begitu kemarin."
Ibu Mira tertawa pelan.
"Ternyata anak Ibu sekarang cerewet."
Daena tidak ikut tertawa.
Sejak kehilangan bapaknya dan menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan, hanya ibunyalah tempat ia masih bisa menjadi seorang anak.
Ia mengambil handuk kecil, membasahinya, lalu mengompres dahi ibunya.
"Aku telepon dokter saja."
"Jangan."
"Bu..."
"Obat kemarin masih ada."
Daena menghela napas.
"Kita ke puskesmas."
"Nanti siang saja."
"Tidak. Sekarang."
Melihat sorot mata putrinya yang begitu tegas, Ibu Mira akhirnya mengangguk pelan.
Puskesmas pagi itu cukup ramai.
Daena membantu ibunya berjalan menuju ruang pemeriksaan.
Dokter yang memeriksa terlihat serius setelah mendengar paru-paru Ibu Mira menggunakan stetoskop.
"Sudah berapa hari demam?"
"Tiga hari."
"Batuknya?"
"Empat hari."
Dokter menuliskan beberapa resep.
"Kelihatannya infeksi saluran pernapasan. Saya berikan antibiotik dan obat penurun panas."
"Berbahaya, Dok?" tanya Daena.
"Untuk saat ini belum terlihat berat."
Jawaban itu sedikit melegakan.
Daena membawa ibunya pulang sambil terus menggenggam tangannya.
Di perjalanan, Ibu Mira memandangi jalan yang mulai ramai.
"Sudah lama kita tidak ke pasar."
"Nanti kalau Ibu sembuh."
"Aku ingin beli mangga."
Daena tersenyum.
"Baik."
"Lalu kita bikin rujak."
"Iya."
"Dan kamu harus makan banyak. Badanmu makin kurus."
Daena hanya mengangguk.
Seperti biasa.
Bahkan ketika sedang sakit, ibunya tetap lebih sibuk mengurus dirinya.
Namun dua hari berlalu...
Demam itu tidak turun.
Justru semakin tinggi.
Batuk Ibu Mira semakin berat.
Napasnya mulai pendek.
Malam itu Daena terbangun karena mendengar suara gelas jatuh.
Ia berlari keluar kamar.
"Ibu!"
Ibu Mira terduduk di lantai sambil memegangi dada.
Wajahnya pucat.
Napasnya tersengal.
Daena langsung memeluk tubuh ibunya.
"Bu... Bu... lihat aku."
"Aku... tidak apa-apa..."
"Jangan bicara."
Tangannya gemetar ketika menghubungi ambulans.
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya...
Ia kembali merasakan ketakutan yang sama seperti saat bapaknya sakit.
Rumah sakit berbau obat-obatan.
Lampu putih menyala terang.
Suara monitor berbunyi pelan.
Daena berdiri di depan ruang perawatan sambil meremas ujung jilbabnya.
Farrel datang hampir satu jam kemudian.
Begitu melihat istrinya, ia langsung menghampiri.
"Bagaimana keadaan Ibu?"
Daena menggeleng.
"Dokter masih memeriksa."
Farrel tidak banyak bertanya.
Ia hanya berdiri di samping Daena.
Sesekali menggenggam bahunya.
Tanpa banyak kata.