DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #22

Warisan dari Ayah Sambung #22

Sudah hampir enam bulan sejak pemakaman Ibu Mira.

Rumah yang dulu terasa hangat kini dipenuhi kesunyian yang berbeda. Kesunyian setelah kehilangan bapak masih menyisakan pelukan ibu. Namun setelah ibu pergi, tidak ada lagi tempat bagi Daena untuk benar-benar menjadi seorang anak.

Setiap kali membuka lemari pakaian ibunya, aroma minyak telon yang samar masih tertinggal.

Setiap kali melihat cangkir bunga kesayangan ibunya, dadanya kembali sesak.

Farrel beberapa kali mencoba menghiburnya.

Namun ada kehilangan yang memang tidak dapat digantikan oleh siapa pun.

Suatu sore, ketika hujan turun perlahan di luar rumah, Daena sedang merapikan kotak berisi barang-barang peninggalan ibunya.

Foto keluarga.

Mukena putih.

Beberapa surat lama.

Di bagian paling bawah, ia menemukan sebuah amplop cokelat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan ibunya.

Untuk Daena. Jika suatu hari Ibu sudah tidak ada.

Jantung Daena berdegup kencang.

Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan ibunya berdiri bersama seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.

Wajah lelaki itu teduh.

Tatapannya hangat.

Daena sama sekali tidak mengenalnya.

Ia mulai membaca surat itu.

"Maafkan Ibu karena tidak pernah sempat menceritakan semuanya kepadamu."

"Beberapa tahun setelah perceraian Ibu dengan ayahmu, sebelum Ibu kembali bertemu beliau dan kalian hidup bersama lagi, Ibu pernah menikah dengan seorang laki-laki bernama Pak Hasan."

Daena membelalakkan mata.

Ibunya...

Pernah menikah lagi?

Air matanya mulai menggenang.

Surat itu berlanjut.

"Beliau laki-laki yang sangat baik. Beliau tahu Ibu sudah memiliki seorang anak perempuan bernama Daena. Beliau selalu berkata bahwa siapa pun yang mencintai seorang ibu, harus mencintai anaknya juga."

Daena menutup mulutnya.

Dadanya terasa sesak.

"Beliau hanya menjadi bagian hidup kita selama beberapa tahun. Allah memanggilnya lebih dahulu karena sakit. Waktu itu kamu masih terlalu kecil untuk mengingatnya."

Daena berusaha mengingat.

Namun ingatannya hanya berupa bayangan samar tentang seseorang yang pernah menggendongnya.

Malam itu Daena menunjukkan surat itu kepada Farrel.

Farrel membacanya perlahan.

"Lalu?"

"Masih ada halaman kedua."

Daena membalik surat tersebut.

"Sebelum meninggal, Pak Hasan menitipkan sesuatu untukmu. Tetapi Ibu memilih menyimpannya sampai waktunya tepat."

Daena menatap suaminya.

"Apa maksudnya?"

Belum sempat mereka melanjutkan membaca, ponsel Daena berdering.

Nomor tak dikenal.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Suara seorang lelaki tua terdengar dari seberang.

"Apakah benar saya sedang berbicara dengan Nona Daena?"

"Iya."

"Saya Hadi, notaris almarhum Pak Hasan."

Daena langsung saling berpandangan dengan Farrel.

"Saya sudah lama mencari alamat Anda."

Daena menggenggam telepon lebih erat.

"Ada apa, Pak?"

"Kalau memungkinkan, saya ingin bertemu besok."

Keesokan paginya...

Daena dan Farrel datang ke sebuah kantor notaris sederhana di pusat kota.

Pak Hadi menyambut mereka dengan senyum ramah.

"Silakan duduk."

Lihat selengkapnya