Sudah hampir dua tahun sejak Daena dan Farrel menikah.
Rumah kecil warisan Pak Hasan kini menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru. Tidak mewah, tetapi cukup nyaman. Halaman depannya dipenuhi bunga melati yang setiap pagi mengeluarkan aroma lembut, seolah selalu mengingatkan Daena bahwa masih ada harapan setelah begitu banyak kehilangan.
Namun kehidupan tidak pernah berhenti menguji.
Usaha toko furnitur milik keluarga Farrel yang dulu menjadi kebanggaan Kota Seruni kini perlahan kehilangan pelanggan.
Setiap hari, toko yang dahulu ramai kini semakin sepi.
Pukul sembilan pagi.
Daena baru saja membuka pintu rolling door toko.
Ruangan yang dipenuhi lemari, meja makan, kursi ukir, dan rak kayu jati itu tampak sunyi.
Biasanya, pada jam seperti ini sudah ada beberapa pelanggan yang datang.
Kini...
Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan.
Daena menatap buku penjualan.
Hari kemarin.
Satu transaksi.
Tiga hari sebelumnya.
Tidak ada penjualan sama sekali.
Ia menarik napas panjang.
"Masih kosong?"
Farrel baru datang sambil membawa dua gelas kopi.
Daena mengangguk pelan.
"Kopi."
"Terima kasih."
Farrel duduk di samping istrinya.
Matanya ikut melihat laporan penjualan.
"Sama seperti minggu lalu."
"Tidak..."
Daena menggeleng.
"Lebih buruk."
Beberapa menit kemudian Pak Arman datang.
Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding beberapa tahun lalu.
Rambutnya mulai memutih.
Kerutan di dahinya semakin dalam.
"Sudah ada pembeli?"
Farrel menggeleng.
Pak Arman mengembuskan napas panjang.
"Kalau begini terus..."
Kalimatnya menggantung.
Tidak ada yang berani melanjutkan.
Menjelang siang datang seorang pelanggan.
Daena langsung berdiri menyambut.
"Selamat siang, Pak."
Lelaki itu melihat-lihat beberapa lemari.
"Bagus."
Harapan mulai tumbuh.
Namun beberapa menit kemudian pelanggan itu bertanya,
"Harganya berapa?"
Daena menyebutkan nominalnya.
Lelaki itu mengangguk pelan.
"Lumayan mahal."
"Kami menggunakan kayu jati pilihan."
"Iya."
"Tapi sekarang banyak yang lebih murah di marketplace."
Daena tersenyum tipis.
"Kualitasnya juga berbeda."
"Anak saya bilang sekarang tinggal pesan lewat internet."
Beberapa menit kemudian pelanggan itu pergi.
Tanpa membeli apa pun.
Daena kembali duduk.
Farrel tersenyum pahit.
"Sudah tiga kali minggu ini."
Sore harinya mereka mengadakan rapat kecil.
Pak Arman membuka map laporan keuangan.
"Utang kepada pemasok tinggal tiga bulan jatuh tempo."
Farrel menatap angka-angka itu.
"Sekitar satu miliar dua ratus juta."
Daena terdiam.
Nominal itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
"Kalau penjualan tetap seperti ini..."
Pak Arman berhenti bicara.
"Kita tidak akan mampu membayar."
Ruangan menjadi sunyi.
Jam dinding terdengar berdetak begitu jelas.
Malam itu Daena tidak bisa tidur.
Ia mengambil laptop.
Membuka laporan penjualan lima tahun terakhir.
Angkanya turun perlahan.
Lalu menurun tajam.
Penyebabnya mulai terlihat.
Sebagian besar pelanggan lama sudah berusia lanjut.
Generasi muda lebih memilih membeli furnitur modern secara daring.
Mereka tidak lagi datang ke toko.