DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #24

Kedatangan Pengacara#24

Hujan baru saja reda ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan toko furnitur keluarga Arman.

Daena yang sedang menyusun katalog pesanan baru menoleh ke arah pintu.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh lima tahun turun perlahan dari mobil.

Rambutnya memutih seluruhnya.

Ia mengenakan setelan abu-abu sederhana sambil membawa tas kulit yang tampak sudah tua.

Pria itu berdiri beberapa saat memandang papan nama toko.

Tatapannya penuh kenangan.

Kemudian ia melangkah masuk.

"Permisi."

Farrel segera menyambut.

"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"

Pria itu tersenyum tipis.

"Saya mencari Nona Daena."

Daena yang mendengar namanya langsung mendekat.

"Saya Daena."

Pria itu menatap wajahnya cukup lama.

Matanya perlahan berkaca-kaca.

"Wajahmu..."

"...sangat mirip ayahmu."

Kalimat itu membuat Daena membeku.

"Ayah saya?"

Pria itu mengangguk pelan.

"Perkenalkan."

Ia mengulurkan tangan.

"Nama saya Surya Mahendra."

"Saya pengacara keluarga ayahmu selama lebih dari dua puluh tahun."

Pak Arman yang mendengar percakapan itu segera mengajak mereka masuk ke ruang kerja.

Suasana menjadi hening.

Pak Surya membuka tas kulitnya dengan hati-hati.

"Aku sebenarnya sudah lama mencari keberadaanmu."

Daena saling berpandangan dengan Farrel.

"Mencari saya?"

"Iya."

"Kenapa?"

Pak Surya menghela napas panjang.

"Karena ayahmu meninggalkan sesuatu."

Jantung Daena berdetak semakin cepat.

"Ayah saya sudah meninggal bertahun-tahun."

"Saya tahu."

"Justru karena itulah saya datang."

Pak Surya mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat.

Sudut-sudutnya mulai usang dimakan usia.

Di bagian depan tertulis nama ayah Daena.

Tulisan tangan yang rapi.

Daena langsung mengenalinya.

Itu tulisan yang sama seperti pada beberapa surat lama peninggalan ayahnya.

Tangannya mulai bergetar.

"Ayah membuat beberapa dokumen sebelum beliau wafat."

"Tetapi..."

Pak Surya berhenti sejenak.

"Saat itu keadaan keluarga sedang sangat rumit."

"Perselisihan mengenai pembagian harta."

"Perceraian."

"Konflik antarkeluarga."

"Saya tidak pernah berhasil bertemu denganmu lagi."

Daena menunduk.

Ia tahu betapa rumitnya kehidupan ayahnya yang memiliki tiga istri.

Pak Surya membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat salinan akta tanah.

Sertifikat.

Surat wasiat.

Dan beberapa lembar tulisan tangan.

"Ini semua milik ayahmu."

Pak Arman ikut memperhatikan.

Pak Surya melanjutkan.

"Sebelum meninggal, beliau meminta saya menyimpan seluruh dokumen ini sampai menemukanmu."

"Kenapa baru sekarang?"

Pak Surya tersenyum kecil.

"Dulu alamatmu selalu berpindah."

Lihat selengkapnya