DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #25

Nama yang Dihapus dari Wasiat #25

Tiga hari setelah kedatangan Pak Surya, rumah Daena dipenuhi tumpukan dokumen.

Sertifikat tanah.

Salinan wasiat.

Akta notaris.

Surat-surat lama milik ayahnya.

Daena sengaja mengambil cuti dari toko untuk mempelajari semuanya. Semakin ia membaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Beberapa halaman tampak berbeda.

Nomor urut dokumennya meloncat.

Ada lembar yang seolah pernah dilepas dari satu bundel.

Daena mengernyit.

"Aneh..."

Farrel yang sedang membuat kopi menoleh.

"Ada apa?"

"Nomor halamannya."

Farrel mendekat.

Benar saja.

Di pojok kanan bawah tertulis halaman 12, lalu langsung halaman 14.

"Hilang satu halaman."

Daena memandang suaminya.

"Ini bukan kesalahan fotokopi."

Siang harinya mereka kembali menemui Pak Surya.

Begitu melihat dokumen itu, pengacara tua tersebut langsung memakai kacamatanya.

Ia memperhatikan setiap halaman dengan teliti.

Wajahnya perlahan berubah serius.

"Ini..."

"Ada yang tidak beres."

"Apa maksud Bapak?"

Pak Surya membuka map arsip lain yang ia bawa.

"Aku masih menyimpan daftar inventaris dokumen asli."

Ia membandingkan satu per satu.

Lalu berhenti.

"Benar."

"Harusnya ada satu lampiran."

"Lampiran tentang apa?"

Pak Surya menghela napas panjang.

"Kalau tidak salah..."

"...tentang pembagian hasil kebun."

Daena langsung teringat.

"Wasiat untuk cucu pertama?"

Pak Surya mengangguk pelan.

"Seharusnya ada penjelasan yang lebih rinci."

"Tapi lampirannya hilang."

Ruangan itu mendadak sunyi.

Farrel bertanya pelan,

"Mungkin hanya terselip?"

Pak Surya menggeleng.

"Tidak."

"Setiap lampiran diberi nomor."

"Kalau hilang seperti ini..."

"...berarti pernah dilepas."

Daena merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Siapa yang bisa mengambilnya?"

Pak Surya terdiam beberapa saat.

"Hanya orang yang pernah memegang berkas asli."

"Siapa saja?"

"Saya."

"Almarhum ayahmu."

"Dan ahli waris yang hadir saat pembacaan wasiat pertama."

Daena membeku.

Saudara-saudara tirinya.

Sore itu mereka menuju rumah lama keluarga.

Rumah besar yang dulu menjadi tempat Daena menghabiskan masa kecilnya kini dihuni oleh keluarga istri pertama ayahnya.

Begitu memasuki halaman, kenangan lama kembali memenuhi pikirannya.

Ia masih ingat pohon mangga tempat ia pernah bermain.

Masih ingat ayunan kayu yang kini telah lapuk.

Namun kali ini ia datang bukan sebagai anak kecil.

Ia datang mencari jawaban.

Pintu dibuka oleh seorang perempuan paruh baya.

"Kamu mencari siapa?"

"Saya ingin bertemu Kak Rendra."

Perempuan itu tampak ragu.

"Tunggu."

Beberapa menit kemudian seorang lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun keluar.

Rendra.

Anak sulung ayahnya.

Lelaki yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengannya.

Ia memandang Daena tanpa senyum.

"Ada apa?"

Daena berusaha tetap tenang.

"Aku ingin bertanya soal wasiat Ayah."

Rendra tersenyum tipis.

"Sudah selesai, kan?"

"Belum."

Pak Surya maju selangkah.

"Saya menemukan ada lampiran yang hilang."

Senyum Rendra perlahan memudar.

"Aku tidak tahu apa-apa."

Lihat selengkapnya