Tiga minggu berlalu sejak Rendra mengakui bahwa dialah yang menyembunyikan lampiran wasiat ayah mereka.
Meski dokumen itu kini telah dilegalisasi kembali oleh Pak Surya, persoalannya belum benar-benar selesai.
Hak yang selama bertahun-tahun tersembunyi itu tidak bisa serta-merta dipulihkan.
Beberapa aset telah berpindah tangan.
Sebagian hasil kebun telah dibagi.
Sebagian lagi telah digunakan tanpa memperhatikan isi wasiat.
Sore itu, ruang kerja Pak Surya dipenuhi tumpukan berkas.
Daena, Farrel, dan Pak Arman duduk mengelilingi meja kayu yang dipenuhi dokumen hukum.
Pak Surya membuka sebuah map berwarna biru.
"Saya sudah mempelajari semuanya."
Daena menunggu dengan jantung berdebar.
"Kalau ingin mengembalikan hak sesuai wasiat almarhum ayahmu..."
"...kita harus mengajukan gugatan ke pengadilan."
Ruangan langsung hening.
"Apa tidak ada cara lain?"
Daena bertanya lirih.
Pak Surya menggeleng.
"Saya sudah mengirim surat mediasi."
"Sudah bertemu keluarga."
"Sudah mencoba musyawarah."
"Hasilnya?"
Pak Surya menatapnya dengan iba.
"Mereka menolak."
Daena menundukkan kepala.
Ia memang sudah menduga.
Namun tetap saja, mendengarnya secara langsung terasa menyakitkan.
Farrel menggenggam tangan istrinya di bawah meja.
"Kamu tidak sendiri."
Malam itu hujan turun deras.
Daena duduk di teras rumah sambil memandangi halaman yang basah.
Farrel datang membawa dua cangkir teh hangat.
"Kamu masih memikirkannya?"
Daena tersenyum tipis.
"Aku tidak pernah membayangkan..."
"...suatu hari aku harus menggugat keluargaku sendiri."
Farrel ikut duduk di sampingnya.
"Kamu tidak sedang mengambil milik mereka."
"Aku tahu."
"Tapi tetap saja..."
"Aku merasa seperti anak yang durhaka."
Farrel menggeleng pelan.
"Kamu sedang menjaga amanah ayahmu."
Kalimat itu membuat Daena terdiam.
Ia mengingat kembali surat terakhir ayahnya.
"Jagalah apa yang Ayah titipkan."
Keesokan paginya keadaan toko semakin memburuk.
Seorang pemasok datang mengambil sebagian barang karena pembayaran yang terus tertunda.
Beberapa pegawai hanya mampu menundukkan kepala.
Pak Beni mendekati Farrel.
"Pak..."
"Kalau memang sudah tidak mampu menggaji kami bulan depan..."
"...kami mengerti."
Farrel langsung menggeleng.
"Tidak."
"Kami belum menyerah."
Namun setelah Pak Beni pergi, wajah Farrel berubah muram.
Daena menghampirinya.
"Kita tinggal punya waktu berapa lama?"
Farrel membuka laporan keuangan.
"Dua minggu."
"Kalau tidak ada dana masuk..."
"...toko ini benar-benar tutup."
Daena memejamkan mata.
Seolah ujian datang bersamaan.
Di satu sisi...
Ia harus memperjuangkan wasiat ayahnya.
Di sisi lain...
Puluhan keluarga menggantungkan hidup pada toko itu.
Malam harinya Daena kembali membuka kotak kayu peninggalan ayahnya.
Di dalamnya masih tersimpan jam saku emas.
Ia membuka penutupnya perlahan.
Kalimat itu kembali terbaca.
"Waktu tidak bisa kembali, tetapi cinta seorang ayah tidak pernah benar-benar pergi."
Air matanya jatuh.
"Ayah..."
"Apa aku melakukan hal yang benar?"
Keheningan menjawab.
Namun di dalam hatinya muncul ketenangan yang perlahan menguat.
Seminggu kemudian...
Surat panggilan sidang resmi diterbitkan.