DAENA "Anak dari Istri Ketiga Bapak"

Nurmalasari
Chapter #27

Kau Anak dari Penyebab Kehancuran Itu #27

Ruang sidang kembali dipenuhi orang.

Sidang kedua perkara warisan keluarga berlangsung lebih tegang dibanding sebelumnya. Berita mengenai gugatan Daena telah menyebar ke berbagai kerabat. Bangku pengunjung hampir penuh.

Pak Surya duduk di samping Daena.

Farrel menggenggam tangan istrinya sejak mereka memasuki ruang sidang.

Entah mengapa...

Sejak pagi hati Daena terasa tidak tenang.

Sidang dimulai dengan pemeriksaan saksi-saksi.

Hakim meminta keluarga menyampaikan keterangan masing-masing.

Rendra berdiri lebih dahulu.

Wajahnya terlihat jauh lebih letih dibanding sidang sebelumnya.

Dengan suara pelan ia mengakui kembali bahwa dialah yang menyembunyikan lampiran wasiat.

Ruangan menjadi riuh.

Namun pengakuan itu justru membuat salah seorang saudara tirinya berdiri.

Namanya Adrian.

Anak kedua dari istri pertama ayah mereka.

"Yang Mulia!"

Suara Adrian terdengar keras.

"Saya keberatan!"

Hakim mengangkat kepala.

"Silakan sampaikan dengan tertib."

Adrian menarik napas panjang.

"Lampiran itu bukan akar masalah keluarga kami."

"Lalu menurut Saudara?"

"Akar masalahnya..."

Tatapannya langsung mengarah kepada Daena.

"...adalah ibu perempuan itu."

Ruangan mendadak sunyi.

Daena membeku.

Ia tidak menyangka nama ibunya akan dibawa ke persidangan.

"Ibu Daena..."

Adrian berbicara dengan nada penuh emosi.

"...adalah penyebab kehancuran keluarga kami."

Pak Surya langsung berdiri.

"Keberatan, Yang Mulia."

Hakim mengangkat tangan.

"Biarkan saksi menyelesaikan keterangannya."

Adrian mengepalkan kedua tangannya.

"Sejak ayah membawa ibu Daena masuk ke dalam hidup kami..."

"...keluarga kami tidak pernah sama lagi."

Daena hanya mampu menatap meja.

Jantungnya berdegup begitu keras.

"Semua orang hanya melihat Ayah yang memiliki tiga istri."

"Tetapi tidak ada yang tahu..."

"...betapa hancurnya rumah kami."

Suara Adrian mulai bergetar.

"Ibu kami menangis setiap malam."

"Kami melihat pertengkaran setiap hari."

"Kami kehilangan perhatian Ayah."

Tangannya menunjuk Daena.

"Dan semua itu dimulai karena ibumu."

Kalimat itu menusuk seperti belati.

Farrel langsung menggenggam tangan istrinya lebih erat.

Namun Adrian belum berhenti.

"Kalian ingin tahu kenapa harta keluarga hilang?"

Ia memandang seluruh ruangan.

"Bukan karena kami."

"Bukan karena Ayah."

"Tetapi karena setelah rumah tangga kami hancur..."

"...istri kedua Ayah membawa kabur sebagian besar uang keluarga."

Ruangan kembali gaduh.

Hakim beberapa kali mengetukkan palu.

"Tolong tenang."

Adrian melanjutkan dengan napas memburu.

"Perusahaan sedang berkembang."

"Tabungan keluarga masih utuh."

"Kebun masih menghasilkan."

"Tetapi ketika rumah tangga mulai berantakan..."

"...tidak ada lagi yang mengawasi keuangan."

"Istri kedua memanfaatkan semuanya."

"Rekening kosong."

"Emas hilang."

"Beberapa sertifikat lenyap."

"Dan Ayah..."

"...terlalu sibuk menyelesaikan konflik rumah tangga."

Air mata mulai memenuhi mata Adrian.

"Kami kehilangan segalanya."

Daena perlahan mengangkat kepala.

Ia baru mengetahui cerita itu hari ini.

Selama hidupnya...

Ibunya tidak pernah sekalipun menceritakan kejadian tersebut.

Tidak pernah menyalahkan siapa pun.

Tidak pernah membela diri.

Hanya diam.

Lihat selengkapnya