Sepuluh tahun berlalu.
Waktu ternyata mampu mengubah banyak hal.
Luka yang dahulu terasa menganga kini berubah menjadi bekas yang tidak lagi menyakitkan setiap hari. Tidak hilang, tetapi cukup sembuh untuk dikenang tanpa terus menangis.
Rumah kecil warisan Pak Hasan masih berdiri di tempat yang sama.
Cat temboknya kini berwarna krem muda.
Pagar kayunya telah diganti.
Pohon mangga di halaman tumbuh semakin rindang.
Di teras rumah tergantung sebuah ayunan kayu yang hampir setiap sore dipenuhi tawa seorang anak perempuan berusia sembilan tahun.
Namanya...
Mikha Daefarrelya.
Anak pertama Daena dan Farrel.
Anak yang kehadirannya pernah dituliskan dalam wasiat sang kakek jauh sebelum ia lahir.
"Bu!"
Suara Mikha menggema dari halaman.
"Lihat!"
Daena yang sedang menyiram bunga menoleh sambil tersenyum.
"Ada apa?"
"Aku dapat nilai seratus!"
Anak kecil itu berlari membawa buku ulangan Matematika.
Rambutnya yang dikepang dua bergoyang mengikuti langkah-langkah kecilnya.
Daena memeluk putrinya erat.
"Masya Allah..."
"Alhamdulillah."
Mikha tertawa riang.
"Ayah bilang nanti aku boleh pilih es krim."
Daena tersenyum.
"Iya."
"Tapi jangan lupa bilang apa dulu?"
Mikha langsung menjawab mantap.
"Alhamdulillah."
Daena mengecup kening putrinya.
"Anak pintar."
Tidak lama kemudian suara mobil berhenti di depan rumah.
Farrel turun sambil membawa beberapa kantong belanja.
Begitu melihat putrinya, ia langsung membuka kedua tangannya.
"Ayah pulang!"
Mikha berlari sekencang mungkin.
Farrel mengangkat tubuh kecil itu tinggi-tinggi.
"Ayah!"
"Katanya ada yang dapat nilai seratus?"
"Iya!"
"Hadiahnya?"
"Es krim!"
Farrel tertawa.
"Tentu."
Daena memandangi keduanya dari teras.
Sudah sepuluh tahun berlalu.
Namun pemandangan seperti itu masih menjadi hal paling indah dalam hidupnya.
Rumah mereka tidak besar.
Mobil mereka juga bukan mobil mewah.
Tetapi setiap kali Farrel pulang...
Rumah selalu dipenuhi tawa.
Dan bagi Daena...
Itulah arti kaya yang sesungguhnya.
Usaha furnitur keluarga kini juga telah bangkit.
Tidak sebesar masa kejayaannya dahulu.
Namun cukup stabil.
Toko lama direnovasi menjadi galeri furnitur dengan konsep modern.
Penjualan daring berkembang pesat.
Pesanan datang dari berbagai kota.
Pak Arman telah pensiun.
Kini Farrel memimpin usaha itu bersama beberapa pegawai lama yang masih setia.
Pak Beni bahkan masih bekerja meski hanya datang tiga hari dalam seminggu.
"Aku tidak betah di rumah."
Begitu katanya setiap kali Daena menyuruhnya beristirahat.
Sore itu keluarga kecil itu makan bersama di meja kayu buatan tangan Farrel.
"Ayah."
Mikha membuka pembicaraan.
"Besok ada tugas sekolah."
"Tugas apa?"
"Disuruh cerita tentang kakek dan nenek."
Farrel dan Daena saling berpandangan.
"Kakek yang mana?"