Pagi itu langit cerah.
Udara setelah hujan semalam terasa sejuk. Dari dapur, aroma roti panggang dan kopi hitam memenuhi rumah kecil milik Daena.
Di ruang makan, Mikha Daefarrelya sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah.
"Mama..."
"Iya, Sayang?"
"Kalau minta maaf itu harus cepat atau boleh nanti kalau sudah besar?"
Daena menghentikan gerakan tangannya yang sedang menuangkan susu.
Ia tersenyum.
"Menurut Mikha bagaimana?"
Anak itu berpikir beberapa saat.
"Kalau Mikha salah sama teman, nanti keburu sedih."
Daena mengusap kepala putrinya.
"Itu jawaban yang bagus."
Mikha tersenyum bangga.
Saat itulah bel rumah berbunyi.
"Ting... tong..."
Farrel yang baru selesai menyiram tanaman berjalan menuju pintu.
"Siapa ya, pagi-pagi begini?"
Begitu pintu terbuka, Farrel terdiam.
Di depan pagar berdiri dua orang yang sudah sangat lama tidak datang.
Rendra.
Dan seorang perempuan berhijab yang menggenggam lengannya.
Istrinya.
Farrel tersenyum sopan.
"Silakan masuk."
Rendra tampak gugup.
"Tidak mengganggu?"
"Tidak."
Daena yang keluar dari dapur ikut membeku.
Sudah hampir tiga tahun sejak perkara warisan selesai.
Selama itu pula mereka hanya bertemu sesekali di makam ayah atau acara keluarga.
Tidak pernah berkunjung ke rumah.
Hari ini...
Rendra datang sendiri.
Mikha yang penasaran mengintip dari balik pintu.
"Mama..."
"Siapa?"
Daena tersenyum.
"Itu Om Rendra."
Mikha melambaikan tangan kecilnya.
"Assalamu'alaikum, Om."
Rendra tersenyum canggung.
"Wa'alaikumussalam."
Tatapannya berhenti pada wajah Mikha.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
"Dia..."
"Sudah sebesar ini."
Daena mengangguk.
"Alhamdulillah."
Mereka duduk di ruang tamu.
Tidak ada percakapan selama beberapa menit.
Hanya suara sendok yang beradu dengan cangkir teh.
Akhirnya istri Rendra membuka pembicaraan.
"Perkenalkan."
"Saya Sinta."
Daena mengangguk ramah.
"Silakan, Mbak."
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Sebenarnya..."
"...kami datang karena ada sesuatu yang sudah terlalu lama kami simpan."
Rendra mengembuskan napas panjang.
Tangannya saling menggenggam erat.
"Aku..."
"...tidak pandai memulai."
Farrel tersenyum.
"Tidak apa-apa."
"Katakan saja apa yang ingin disampaikan."
Rendra menatap Daena.
Lalu menundukkan kepala.
"Maaf."
Hanya satu kata.
Namun begitu berat keluar dari bibirnya.
Daena diam.
Ia menunggu.
Rendra kembali berbicara.
"Selama bertahun-tahun..."
"...aku mengira kebencianku itu benar."
"Aku mengira semua kesulitan hidup kami berasal dari keluargamu."
"Aku mengira Ibumu merebut Ayah."
"Aku mengira kamu mendapatkan semua yang seharusnya menjadi milik kami."
Ia tersenyum pahit.
"Padahal..."
"...aku tidak pernah benar-benar mengenalmu."
Suasana kembali hening.
Rendra melanjutkan.
"Setelah perkara warisan selesai..."