Mentari pagi menyinari halaman rumah kecil yang dipenuhi bunga melati.
Embun masih menggantung di ujung daun ketika Daena menyapu teras seperti biasanya. Dari dalam rumah terdengar suara tawa Mikha Daefarrelya yang sedang bermain ular tangga bersama Farrel.
"Yah! Jangan curang!"
"Ayah tidak curang."
"Itu tadi Ayah geser dadu."
"Ayah cuma membetulkan."
"Itu namanya curang."
Gelak tawa mereka memenuhi rumah.
Daena tersenyum sambil menggeleng pelan.
Dulu...
Ia pernah mengira rumah hanya akan dipenuhi pertengkaran.
Namun Allah menggantinya dengan suara tawa yang setiap hari menjadi obat bagi seluruh luka masa lalunya.
Usaha furnitur keluarga berkembang jauh melampaui perkiraan mereka.
Galeri yang dahulu hampir tutup kini memiliki bengkel produksi baru.
Farrel mempekerjakan kembali beberapa pengrajin lama yang sempat kehilangan pekerjaan.
Bahkan beberapa anak muda mulai belajar mengukir kayu dari para pengrajin senior.
Di dinding ruang kerja tergantung sebuah foto lama.
Pak Arman.
Pak Beni.
Farrel.
Daena.
Dan seluruh pegawai.
Di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat.
"Tidak ada usaha yang bertahan karena modal semata, tetapi karena orang-orang yang memilih bertahan bersama."
Kalimat itu ditulis sendiri oleh Farrel.
Meski gugatan warisan dimenangkan sebagian oleh pengadilan, tidak seluruh hak Daena dapat dipulihkan.
Beberapa aset telah dijual bertahun-tahun sebelumnya.
Sebagian tanah sudah berpindah tangan kepada pihak ketiga dengan proses hukum yang tidak mungkin dibatalkan.
Sebagian hasil kebun pun telah habis digunakan jauh sebelum perkara dibuka kembali.
Pak Surya pernah berkata dengan jujur,
"Secara hukum, kita sudah memperoleh keadilan semaksimal mungkin."
Daena hanya tersenyum.
"Aku mengerti."
"Tidak kecewa?"
"Ada."
"Tetapi tidak lagi marah."
Baginya, kemenangan terbesar bukanlah angka yang tertulis dalam putusan.
Melainkan karena nama ayahnya telah dipulihkan.
Nama ibunya tidak lagi dipersalahkan.
Dan amanah untuk cucu pertama telah diakui secara sah.
Itu sudah lebih dari cukup.
Suatu sore, Rendra datang kembali ke rumah Daena.
Namun kali ini wajahnya berbeda.
Ia terlihat gugup.
Di sampingnya berdiri Sinta yang sejak tadi terus tersenyum.
"Masuk dulu, Kak."
Rendra menggeleng.
"Tunggu sebentar."
"Ada kabar."
Daena mengernyit.
"Kabar apa?"
Rendra menoleh kepada istrinya.
Sinta mengangguk pelan sambil menggenggam tangan suaminya.
Rendra tersenyum lebar.
"Aku..."
"...akan menjadi ayah."
Daena membeku.
"Apa?"
Sinta tertawa kecil.
"Alhamdulillah."
"Aku hamil."
Air mata Daena langsung memenuhi matanya.
Tanpa sadar ia memeluk Sinta erat.
"Masya Allah..."
"Alhamdulillah."
Farrel yang baru keluar rumah ikut tersenyum.
"Selamat, Kak."
Rendra tertawa sambil mengusap matanya.
"Setelah hampir dua belas tahun menunggu..."
"...akhirnya Allah memberi kami amanah."
Malam itu mereka makan bersama.
Rendra tampak tidak berhenti tersenyum.
"Aku masih tidak percaya."
Farrel menggoda,
"Nanti kalau bayinya lahir, baru percaya."
Semua tertawa.
Mikha yang sejak tadi mendengarkan akhirnya bertanya,
"Om."
"Iya?"
"Nanti aku punya adik?"
Semua kembali tertawa.
"Bukan adik."
kata Daena lembut.
"Sepupu."
Mikha mengangguk.
"Berarti nanti aku ajarin naik sepeda."
Rendra memandang anak kecil itu dengan mata berkaca-kaca.
Begitu sederhana.
Namun terasa begitu hangat.
Beberapa bulan kemudian...