“Arga Sahata Siburian pada hari Rabu, 28 Juli 1999 meninggal 28 Juli 2017, tepat pada usia 18 tahun.”
Aku terperanjat kaget. Sosok-sosok putih itu tengah mengerubungiku. Mereka tidak memiliki wajah atau bahkan indra, tetapi mereka bisa berbicara dan melihat. Tubuh mereka tidak tampak. Dibungkus cahaya? Kabut? Entahlah. Aku bahkan ragu kalau mereka memiliki tulang. Mereka siapa dan ini di mana? Belum ada ide sama sekali. Yang terlintas di otakku hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Namun, sosok putih yang lain menahanku. Mereka menahan kedua tangan dan yang lain menahan pundak. Sosok-sosok putih itu memegangi dengan cahaya yang keluar dari tangan mereka. Apakah ini modus penculikan yang baru?
“Arga Sahata Siburian lahir pada hari Rabu, 28 Juli 1999 pukul 05.50, meninggal 28 Juli 2017 pukul 17.27 tepat pada usia 18 tahun, menurut perhitungan waktu manusia. Apakah benar?” sosok itu mengulang pertanyaan untuk kedua kalinya.
“I-iya…” jawabku tidak begitu yakin. Benarkah aku sudah mati?
“Jiwa sudah mengonfirmasi, lepaskan.” Sosok itu memberikan perintah kepada yang lainnya.
Genggaman mereka sangat kuat hingga terasa begitu pegal. Kuhirup udara dalam-dalam lalu kuembuskan.
Melihat ada celah, aku segera bangkit dari kasur serba putih itu. Berlari sebisa mungkin dan meninggalkan kerumunan itu sejauh yang aku bisa. Sial. Lariku tak ada bedanya dengan jalan di tempat. Seperti ada tali tak kasat mata yang mengikat sehingga tidak bisa berlari dengan leluasa. Aku melambat. Dikejutkan dengan genangan air semata kaki. Saat kutoleh ke arah sosok-sosok itu, mereka bergeming. Mereka tidak menghiraukan padahal hati ini begitu takut tak karuan. Pikiranku berkata, aku harus tetap berlari. Meskipun keseimbangan sudah sulit untuk dijaga, aku tak mau harga diri juga jatuh begitu saja. Sudah tahu tak berdaya, masih saja buang-buang tenaga. Ujung-ujungnya hanya mempermalukan diri.
Tunggu. Kenapa air semakin naik?
Air ini mulai membenamkan betis. Aku harus mengangkat kaki lebih tinggi untuk melebarkan langkah. Naik ke pinggang hingga ke dada. Napas mulai tak beraturan. Sistem pernapasan seperti hilang koordinasi sehingga semakin sesak rasanya. Kaki semakin terasa berat. Sialnya, aku tidak memiliki keahlian dalam berenang.
Sekilas aku masih bisa melihat sosok-sosok itu tidak bereaksi. Rasa panik semakin kuat menyerang apalagi pijakan mulai hilang. Kucoba sebisa mungkin menendang dan menggerakkan tangan mengayuh. Dengan gaya seadanya berharap itu bisa membuatku tetap mengapung.
Tetapi memang, sepertinya sudah tidak ada harapan. Kaki sudah terasa keram. Akan semakin sakit jika terus dipaksakan. Udara juga semakin sulit dijangkau. Saat kepala didongakkan, bukannya memperlancar pernapasan, malah memperlancar aliran air melalui hidung dan mulut. Rongga hidung terasa sakit, tenggorokan terasa perih.
Dalam situasi seperti ini tidak ada pilihan selain pasrah. Kalau riwayatku tamat dengan cara ini, ya sudah. Aku berusaha merelakskan tubuh Tubuh setidaknya supaya bisa menikmati detik-detik terakhir. Kutahan napas selama mungkin dan membiarkan tubuh ini terseret ke dasar air. Mati tenggelam.
***
Masih dalam rentang waktu yang singkat. Seperti ada yang menarikku ke atas dengan lambat. Perlahan tapi pasti, kepalaku sudah keluar dari dalam air. Udara mulai mengisi rongga hidung. Saat itu juga aku merasa hidup kembali.
Tubuhku beradu dengan permukaan yang keras. Saat itulah aku berusaha membuka mata. Sembari pupil beradaptasi dengan cahaya yang masuk, aku meraba-raba permukaan tempatku terkulai. Benar-benar keras. Anehnya, tidak ada tanda-tanda air yang membasahi permukaan ini barang setetes saja. Rambut bahkan tubuh juga sudah mengering. Ke mana lenyapnya lautan tadi? Mengapa justru berganti dengan es yang membentang luas. Lalu makhluk ini, sebenarnya mereka ini apa?
“Kamu ingin mati untuk kedua kalinya?” tanya sosok putih dengan suara bariton itu.
“Buat apa kau bertanya? Toh, kau membiarkanku,” jawabku cuek.
“Aku tidak memintamu untuk lari,” balasnya. Nada bicara makhluk tak berwajah ini membuat jengkel. Ia terdengar sedang mengejek. “Apa kau tidak berniat untuk berterima kasih? Aku baru saja menyelamatkanmu barang kali kalau kau lupa.”
“Aku tidak memintamu,” jawabku ketus.
“Baiklah,”
Sosok itu tiba-tiba berjongkok. Mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya lalu menyentuh permukaan es yang sedang kududuki.
Byur… Aku tercebur. Permukaan es yang padat kembali berubah menjadi perairan yang luas dalam sepersekian detik. Sosok itu dengan enteng masih berjongkok di atas permukaan air. Ia seakan asyik menonton aksi ikan hias seakan mendekat kepada pemiliknya. Padahal ikan itu sedang megap-megap makanya ia naik ke atas permukaan.
Sosok itu kemudian mengangkat tangannya. Bersamaan dengan itu, tubuhku terangkat dari air. Aku masih melayang di udara saat sosok itu kembali menyentuh permukaan air. Dengan kemampuan yang ia miliki. Lautan itu kembali membeku.
“Bagaimana? Apa kau sudah bisa berterima kasih sekarang?”
Aku tak langsung membalas. Sosok ini cukup andal untuk membuat orang lain naik darah. Ingin sekali kuluapkan amarah tepat di mukanya. Eh, aku hampir lupa, ia bahkan tak memilikinya. Lagi pula, kalau kuluruskan niat ini, ia bisa saja melempar atau menenggelamkanku dengan mudahnya. Aku hanya bisa memelototi makhluk itu walau tak ada tanda-tanda kalau ia terpengaruh.
“Turunkan aku sekarang juga,” titahku.
“Dasar tengil. Kau berani memerintahku?” Nada sosok itu agak meninggi.
“Kalau kau tidak suka, harusnya kau biarkan saja aku mati tenggelam tadi,” jawabku sekenanya.
Cahaya pada tangan makhluk itu memudar. Aku meringis kesakitan. Ia melepasku dengan kasar.
“Kau ini ada masalah apa, sih?” bentakku.