Koi menggambar seekor anak kucing di lantai es. Aku hanya mengamati Koi dengan senyum simpul tergaris di bibir. Anak kucing itu terlihat lucu dan menggemaskan. Mungkin karena digambar di atas permukaan es, jadinya seperti kucing kutub—kalau memang ada.
Setelah gambar itu jadi, ia membentuk lingkaran sempurna dengan telapak tangan yang kembali mengeluarkan cahaya berwarna putih. Kemudian ia menyuruhku masuk ke dalam lingkaran itu. Aku tak perlu berpikir panjang untuk menurutinya. Koi cukup tenang kali ini. Wibawanya membuat atmosfer yang berbeda. Keseriusan seperlunya dituntut kali ini.
Ketika tubuh kami berada dalamnya, lingkaran dan gambar kucing itu bersinar disusul dengan munculnya partikel-partikel kecil dengan sensasi dingin terangkat ke udara. Partikel-partikel tersebut menyelimuti tubuh kami. Aku melihat Koi biasa saja sedangkan aku merasa waswas. Takjub dan takut bercampur jadi satu. Terlebih ketika melihat kaki kami mulai berubah bentuk menjadi partikel-partikel serupa salju tadi. Aku memekik. Perubahan itu sudah sampai di perut, Koi tidak menggubris pekikanku. Kemudian gelap. Badan terasa sangat ringan sekarang. Selanjutnya, aku hanya bisa merasakan badanku seperti meliuk-liuk mengikuti pusaran angin.
Perjalanan itu tidak begitu lama sebab angin sudah lenyap. Kami sudah berhenti entah di mana. Bobot tubuh mulai terasa kembali. Aku bisa merasakan kaki menapak di permukaan. Sepertinya peredaran darah juga kembali normal sebab sensasi dingin yang tadi kurasakan sudah menjadi lebih hangat. Kehangatan itu menjalar bak gerombolan semut kecil yang merayap di wajah. Artinya saraf sensori di wajah ini juga sudah kembali normal. Aku mulai menggerakkan rahang, mengembang-kempiskan hidung. Terakhir, kelopak mata kubuka perlahan. Aku agak terkejut ketika melihat kepala Koi yang masih belum berbentuk. Mungkin karena dia lebih tinggi.
“Ternyata lebih menyeramkan tidak punya kepala daripada tidak punya wajah,” candaku setelah kepalanya kembali utuh.
“Tidak usah menyindir. Aku memiliki indra yang lengkap. Kau hanya tidak bisa melihatnya.”
Aku melangkah keluar dari lingkaran. “Tempat apa ini?” tanyaku sambil mengedarkan pandangan untuk pemandangan yang menakjubkan. Aku terpana melihat pohon-pohon rindang yang tinggi menjulang. Semua pohon di sini berbaris sejajar walau dengan tinggi yang berbeda-beda. Aku juga cukup dikejutkan dengan perubahan yang terjadi pada Koi selepas ia keluar dari lingkaran.
“Eh, kenapa kau berubah hijau seperti itu?” tanyaku heran.
“Kami menyesuaikan dengan tempat yang kami datangi,” ujarnya.
“Kenapa begitu?”
“Desain dari Yang Maha Kuasa sudah begitu.”
“Kau tidak pernah tanya alasannya?”
“Kami bukan manusia yang selalu bertanya kenapa ia dilahirkan, kenapa begini, kenapa begitu?” katanya sambil berjalan.
“Heh, kenapa bawa-bawa manusia? Aku hanya bertanya, bukankah segala sesuatu ada alasannya?” balasku jengkel.
“Akan lebih bijak jika kita tidak mempertanyakan sesuatu yang memang berada di luar kendali kita,” jawabnya santai.
“Asal kau tahu, mempertanyakan sesuatu adalah kemampuan luar biasa yang ada pada manusia. Andai saja manusia tidak menggunakan pikirannya untuk itu, mungkin kita tidak akan melihat peradaban yang maju seperti sekarang?” pungkasku.
“Misalnya?” timpal Koi.
“Hah?” Aku terperangah.
Koi sepertinya benar-benar ingin mengujiku. Aku berpikir keras mencari contoh untuk mematahkan kepercayaan diri Koi. Sayang, pengetahuanku ternyata tak sedalam itu.
Aku mendahului langkah Koi. Terpana dengan bunga warna-warni yang tumbuh mengelilingi pepohonan.
“Apakah ini tulip?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Jangan!” Koi mencegatku karena mengira aku akan memetik bunga tulip yang kumaksud. “Jangan pernah merusak apa pun yang ada di sini,” tegas Koi.
“A…aku tidak bermaksud,” nadaku lirih.
“Kita ada di wilayah Konservasi Memori.” Koi mulai menjelaskan. Aku mengekor di belakangnya. “Konservasi memori adalah tempat penyimpanan sekaligus pemeliharaan ingatan semua orang. Kau lihat pohon-pohon besar itu?” tanya Koi seraya menunjuk pohon yang dimaksud.
Aku mengangguk
“Itu namanya Pohon Leben. Ia akan menyerap semua ingatan yang berkesan bagi manusia. Kalian menyebutnya sebagai kenangan. Kenangan itu bisa baik, bisa buruk. Semakin banyak ingatan yang ia serap ia akan semakin besar.”
Koi berhenti di bawah sebuah pohon yang tingginya sekitar 30 kaki. Aku memperhatikan pohon itu lekat-lekat. Bentuknya memang sama dengan yang lain, seperti botol yang menggemaskan. Apalagi batangnya berwarna cokelat keemasan membuat pohon-pohon itu semakin estetik. Apakah pohon ini memiliki daun, aku kurang paham. Yang kulihat ini lebih kepada rumpun-rumpun bunga yang menjuntai. Pada setiap dahannya menempel buah-buah mungil seperti apel tetapi memiliki warna merah yang lebih mengilat dan dipenuhi bintik-bintik putih.