“Ini adalah memori pertamamu. Kita berada di tahun 2004,” beri tahu Koi.
Astaga! Saking girangnya, aku tidak sadar kalau kami mendarat di atas batu besar di tengah pematang sawah. Untung saja Koi menghentikanku, kalau tidak, mungkin aku sudah berkubang di lumpur. Walau sebenarnya ia lebih takut kalau aku melewati batas portal.
Sungguh, aku tidak pernah membayangkan tempat semenakjubkan ini. Petani yang sedang panen padi terlihat kecil dari atas sini apalagi kalau dilihat dari atas pegunungan yang mengelilingi kami, mungkin terlihat seperti titik saja. Mataku siap menyapu pematang sawah yang bertingkat. Gambar pematang sawah yang biasanya ada pada buku mata pelajaran sekolah ternyata bukan imajinasi pelukis semata.
“Arga!”
Ada yang memanggil namaku dengan lantang. Seorang wanita paruh baya kudapati sedang menunjuk ke arahku. Ia berdiri tegak dengan satu tangan yang masih masih menggengam sabit sedang yang satunya berkacak di pinggang.
“Sahali nai hupasingot sudah, molo dabu ho, sotung hubege suara tangis! (Sekali kuingat ya, kalau kau jatuh, jangan sampai aku mendengar suara tangis),” ancam perempuan itu.
“Olo, Mak (Iya, Mak).” Suara melengking anak kecil menyahut.
Aku memutar kepala. Seorang anak kecil sedang menari-nari di atas batu beberapa tingkat di atas kami. Aku merasa geli. Anak itu seperti biduan dan beraksi di atas panggung. Ia melangkah, berputar meliuk-liuk, dan bernyanyi dengan nada sesukanya. Kain penutup kepala di kibas-kibas kemudian menyugar lagi. Kadang ia tarik ke depan lalu di dorong ke belakang. Ia menikmati permainan rambut buatannya itu.
“Bah, menjawab lagi kau? Yang nggak ngerti-nya kau kek mana orang lagi marah?” Logat wanita itu kentara sekali.
Benarkah masa kecilku seperti ini? Wajahku memanas. Saat itu juga, aku merasa ingin lenyap saja. Kalau anak kecil adalah versi kecil diriku, berarti perempuan yang sedang dongkol di bawah sana, adalah Mamak, dengan tampilan yang lebih muda.
Aku meminta Koi untuk membawaku lebih dekat ke tempat Mama. Aku ingin melihat wajahnya. Koi tidak menolak. Dengan cepat kami sudah berdiri di samping Mama. Melihatnya, seperti bertemu untuk pertama kali. Untuk saat ini memang kenyataannya memoriku tentang Mamak tidak ada sama sekali.
Aaaaaaa…
“Mateki! (Mati aku!)” Wajah Mamak berubah panik.
Situasi seketika heboh kala tangisan anak kecil itu menggema. Mengundang perhatian orang-orang sibuk menyabit padi. Mama bergegas keluar dari lumpur. Ia berusaha berlari melewati tanggul-tanggul sawah walau beberapa kali kakinya terpeleset karena tanggul yang lembab tidak mampu menahan tekanan bobotnya. Peringatan Mamak malah kejadian. Arga kecil benar terjerembap jatuh dari batu. Ia sekarang berkubang lumpur dan hanya bisa menangis sekencang-kencangnya.
Mama langsung mengangkat Arga dari lumpur setelah ia tiba di tempat. Alih-alih membujuk anak itu agar tangisnya berhenti, Mamak menghantamnya dengan omelan tak kalah kencangnya. Ia merepet. Anak itu tak mengerti pula, tangisnya semakin kuat saja. Pokoknya, di situ, kondisinya semakin hiruk.
Aku yang menyaksikannya malah terharu. Secerewet-cerewetnya dia, Mamak menunjukkan tindakan yang sigap untuk menolong.
“Tapi, ini Bapaknya ke mana, Bang?” tanyaku pada Koi.
“Itu.” Koi menunjuk ke bawah.
Seketika aku tergelak. Agak heran tapi terlihat lucu di saat bersamaan. Orang yang dicari malah penampakannya tidak jauh berbeda dengan Arga kecil. Sama-sama butak.
“Hah, tengok bapakmu itu? Bukannya nolongin kau, malah ikut-ikutan kayak kerbau.”
Tawaku lepas. Begitu juga dengan Arga kecil. Tingkah lucu Bapaknya berhasil menghentikan tangisnya. Mama menggendong Arga kecil ke tepi persawahan yang dijadikan tempat berteduh untuk istirahat. Saat berpapasan, Bapak menghalang-halangi sambil menggoda Mama. Saat Mamak meninggikan suara, Bapak dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke dalam lumpur. Arga kecil sekali lagi tertawa.
Momen ini terasa begitu manis. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh Arga kecil sehingga kejadian ini menjadi salah satu kenangan yang ia simpan.
***
“Bagaimana? Kau mau melihat lebih lagi?” tanya Koi.
“Ayo!” ajakku bersemangat.
Koi melepas sinar hijau dari tangannya. Tubuh kami terurai menjadi serpihan-seprihan dengan cahaya yang sama. Dimulai dari ujung kepala hingga ujung rambut. Sama seperti pertama kali aku mengalami ini, aku juga tetap bisa merasa, mendengar bahkan berpikir. Sepertinya tubuhku sudah mulai beradaptasi dengan metode teleportasi ini. Tidak menunjukkan reaksi berlebihan seperti sebelumnya. Dalam hitungan detik kami sudah kembali ke posisi Pohon Kehidupan milikku.
“Koi…, Maksudku bang Koi.” Aku melembutkan suaraku. “Apa aku sudah boleh bertanya lagi?”
Aku mendengar Koi mendengus. “Kau tidak sadar kalau saat ini kau sedang bertanya?”
“Oke, berarti sudah boleh.” Aku menyimpulkan. Aku langsung masuk ke inti pertanyaan. “Kalau tadi waktunya pada tahun 2004, berarti aku sudah berumur lima tahun. Lalu, apa aku memang tidak punya kenangan sama sekali pada tahun-tahun sebelumnya? Bukankah, seharusnya otak manusia pada saat itu seperti spons yang siap menyerap banyak hal?”
“Wow. Pertanyaan menarik. Kukira kau otakmu kosong sama sekali.”
“Bang Koi, aku serius,” rengekku.
“Kok geli ya dengan kau merengek begitu?”
“Oke. Aku tarik pertanyaanku, aku diam.”
“Hahaha… Baiklah. Tetapi sebelum kuteruskan, biar kutanya kau dahulu, apakah kau ingat saat-saat kau dilahirkan atau kenapa tiba-tiba bisa berada di sini.”
“Pertanyaan macam apa itu? Jelas, tidak,” jawabku ketus.
“Kesabaranmu sangat tipis, ya,” ledek Koi. Tanpa berniat menunggu reaksi, Koi melanjutkan, “Untuk hal ini ada dua jawaban. Pertama, peristiwa kelahiran dan kematian itu adalah rahasia Dia yang menciptakan. Bahkan kami pun tidak memiliki memori kapan kami diciptakan.”
“Benarkah?” tanyaku retoris.
“Jawaban kedua, sama seperti yang kau katakan, saat masih bayi, otak manusia itu seperti spons. Hanya saja perlu kau ketahui, manusia mengingat lebih sedikit memori dalam rentang waktu kelahiran sampai usia enam atau tujuh tahun. Yah ada sih yang bisa mengingat lebih cepat di usia dua tahun, tetapi yang pasti, itu bukan kamu.” Koi menggeleng halus menggoda.
Tidak mendapatkan reaksi apa-apa dariku, Koi melanjutkan, “Sebenarnya ingat atau tidaknya dipengaruhi beberapa hal, misalnya budaya yang kalian bangun atau kebiasaan kalian. Ada yang terus menekankan peristiwa pada masa lampau, ada juga yang menganggap anak-anak tidak perlu tahu pengalaman masa lalu dengan alasan kalian masih kecil. Kalau kau diyakinkan bahwa ingatan itu penting, kau akan mempertahankannya. Bahkan, tak jarang memori kecil manusia itu adalah sebuah narasi yang dibangun oleh orang-orang terdekat sehingga anak-anak mengingatnya dan akhirnya menganggap itu sebagai fakta.”