“Boleh kita beristirahat sebentar?” usulku.
Koi menyanggupi. Dengan kemampuannya, kini di hadapan kami sudah tersedia dua balok kayu yang cukup besar pengganti kursi.
Aku lebih memilih bersandar pada Pohon Kehidupan milikku. Rasanya lebih enak saja. Sambil meluruskan kaki dan menghirup udara dalam-dalam. Membuang napas lega setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Walaupun begitu, senangnya luar biasa. Arga kecil begitu menggemaskan. Entah ia masih terlalu polos, aku menyukai dirinya, terlihat begitu ceria dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
“Bagaimana?” Koi membuka obrolan.
“Menyenangkan,” sahutku lemah.
“Itu saja?” Koi berarti mengharapkan jawaban lebih.
“Rasanya aku ingin kembali ke masa kecil,” harapku.
“Kau serius?” Dari yang sebelumnya bersandar malas, Koi melonjak kaget.
“Kenapa kaget begitu?”
“Kau sudah mulai menunjukkan ciri khas manusia,” tuduhnya.
“Apa maksudmu?”
“Tidak puas.” Koi kembali bersandar pada kursinya. “Manusia itu selalu merasa tidak puas, selalu merasa kurang.”
“Emang itu salah? Bukankah wajar kalau kita berjuang untuk sesuatu yang kita inginkan?” tukasku.
“Tak selalu salah. Tapi kadang manusia lupa membuat batasan. Kadang-kadang mereka mengejar sesuatu yang seharusnya bukan milik mereka. Mereka bisa melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Tidak peduli caranya benar atau salah.”
“Sepertinya kau lupa, kalau aku ini masih manusia,” lirihku.
Kami berdua membisu. Cukup lama. Koi tidak menunjukkan tanda-tanda kalau-kalau ia akan memulai pembicaraan. Entah apa yang ia pikirkan. Mungkin sebenarnya dia juga sedang menunggu. Kufokuskan mataku untuk menyorot bunga-bunga tulip yang beraneka warna.
“Bang Koi, selain pohon, apakah bunga-bunga tulip ini juga punya makna tersendiri?” tanyaku berbasa-basi. Sebenarnya aku terlalu letih, hanya saja kalau diam begini, suasananya terlalu canggung untuk kami berdua.
Koi yang tadi bersandar malas, membetulkan posisi.
“Tulip terkenal sebagai lambang cinta sejati, cinta yang sempurna dan mendalam. Cinta tanpa syarat. Mereka juga memiliki arti kelahiran kembali, transformasi hidup. Terakhir, ia bisa menjadi simbol kedermawanan atau kemurahan hati.”
“Bunga warna apa yang kau suka?”
“Semuanya.”
“Pasti ada dong yang paling kau suka?”
“Hitam. Aku suka hitam.”
“Kenapa, bukannya hitam identik dengan kegelapan?”
“Tidak. Tulip hitam ini tidak bermakna kegelapan atau kekelaman melainkan simbol kekuatan.”
“Bagaimana denganmu? Apakah kau masih menyukai tulip biru itu?”
“Uhm… sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan bunga. Tapi kurasa, ya… aku suka tulip biru.” Aku menyoroti tulip biru itu. “Apakah maknanya juga ketenangan dan perdamaian?”
Koi mengiyakan.
***
Selain sinar kehijauan dari tubuh Koi yang ternyata tak bisa melewati lingkaran di kaki kami, tidak ada penerangan sama sekali. Memang ada cahaya lampu, tapi tetap saja tidak akan bisa menyelip di antara pepohonan yang tumbuh rapat mengelilingin tempat ini. Rasa ingin tahuku membuncah kala setitik cahaya jingga berhasil menembus celah dari sesuatu yang tampak samar di hadapan kami.
Kami mendekat.
Sinar kehijauan milik Koi membuat papan yang sudah rapuh ini menjadi tampak. Aku memicingkan sebelah mata agar bisa fokus menyelidiki apa yang ada di balik papan itu. Cahaya jingga itu berasal dari sebuah lampu minyak yang tergantung pada rak kayu bakar yang sering kami sebut para-para. Tiang parapara yang cukup pendek membuat cahaya itu memantul pada wajah dua orang anak yang sepertinya asik memainkan benda di tangan mereka tanpa suara.
Aku menajamkan penglihatan. Cahaya oranye yang merayap di wajah salah satu anak itu membuatnya tampak jelas. Hanya saja aku belum pernah melihat wajah itu sebelumnya. Pipinya yang tembam seperti menghimpit kedua bibirnya seperti paruh bebek. Matanya yang bulat begitu antusias mengikuti pergerakan tangan anak teman mainnya.
“Itu adikmu,” beritahu Koi.
Aku tidak pernah mengingat punya adik laki-laki.
Aku terkesiap. Tiba-tiba anak laki-laki yang sedari tadi membelakangi kami memutar kepala. Seakan ia tahu bahwa mereka sedang diperhatikan. Itu Arga kecil. Buru-buru ia merangkul adiknya dan menyuruhnya berbaring. Mereka tidak memakai selimut. Mungkin itu sebabnya Arga kecil mendekap sambil mengelus punggung adiknya agar bisa merasa nyaman walau hanya beralaskan tikar anyaman.
Mataku mengitari ruangan itu. Ini lebih layak disebut gubuk daripada rumah. Kaki Arga kecil dan adiknya bahkan sudah menyentuh bibir tataring atau tungku masak. Gubuk itu tidak berisi apa-apa selain lemari kecil yang terbuat dari kayu dan sebuah rak penyimpanan bumbu dapur.