Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #5

7 (2006)

Di tahun ini aku lebih memahami semua yang disukai oleh Arga Kecil, lebih banyak dan agak berbeda dari anak seusianya. Ia tumbuh menjadi anak dengan kepercayaan diri berlebih, yang tidak peduli dengan perkataan banyak orang tentang dirinya.

Arga suka mendengar lagu dangdut. Ia seperti merasa terpanggil kala musik dangdut disetel oleh tetangga. Ia juga tidak malu mengoyangkan pinggulnya, meliuk-liuk, berputar dengan lincah dan melangkah ke sana kemari.

Ia terlahir untuk terjun ke dunia hiburan? Aku tidak yakin. Reaksi orang-orang yang melihat agak membingungkan. Di satu sisi senyum mereka mengambang dan meriuhkan suasana sehingga Arga kecil semakin bersemangat. Di sisi lain ada yang tertawa sambil mengejek. Meminta Arga lagi dan lagi untuk kesenangan mereka. Semakin lincah jogetnya, semakin keras tawa dan ejekan mereka.

Mungkin karena anak kecil adalah peniru ulung, Arga suka menirukan apa yang ia tonton di layar kaca. Kadang-kadang menjadi siluman buaya, manusia kucing, atau manusia harimau. Ia juga kadang-kadang bertingkah seolah-olah dirinya adalaha ibu tiri yang kejam. Mulutnya bisa menjadi sangat jorok penuh dengan umpatan. Teman perempuannya habis disemprotnya yang berperan sebagai anak tiri. Padahal bisa saja, mereka bertukar peran.

Untuk busananya, Arga cukup kreatif. Kalau ia menjadi putri raja, ia menggunakan sarung sebagai gaun dan serbet tipis sebagai rambut. Ia akan mengangkat gaunnya sedikit seperti tuan putri yang anggun. Pijakannya hati-hati supaya tidak tersandung gaun sendiri. Tangannya dibuat gemulai dan nada bicaranya diatur.

Arga dan teman-teman perempuannya memiliki istana. Sebuah musala yang tidak digunakan lagi. Berada tepat di depan perumahan yang mereka tinggali. Walau berbau pesing bekas anak sekolah buang air kencing, Arga dan teman-temannya tidak terlalu peduli. Mereka asyik saja bermain. Apa lagi di depan musala itu terdapat halaman rumput yang cukup luas. Mereka menata tempat bermain, taman dan perkebunan.

“Arga! dipanggil Mamak, udah gelap,” seru Tika, kakak tertua. Suaranya bersanding dengan suara azan.

Arga tidak segera memenuhi panggilan. “Cepat itu, dipukul mamak nanti kau,”

“Iya, bentar lagi.” Arga mengulur waktu.

Kak Tika bukan tipe wanita yang sabar. Ia bergegas menghampiri Arga. Ia menarik Arga dengan paksa membuat Arga menjerit. Arga sepertinya masih enggan untuk menyudahi pesta dansa yang mereka gelar walaupun azan sudah berhenti.

“Ayo, nanti aku jadi ikut dimarahi mamak.” Tika mengecilkan suara

“Nggak mau,” bantah Arga.

“Dini, kalian udah bisa pulang ya. Nanti kalian dimarahi mamak kalian juga.” Kali ini Tika berharap teman-teman Arga memahami maksudnya.

Lihat selengkapnya