“Wow, ramai sekali. Pesta apa ini?” tanyaku antusias.
“Pernikahan,” jawab Koi singkat.
Aku melompat-lompat kegirangan. Aku tidak bisa menahan tubuhku untuk tidak menikmati suara uning-uningan ’alat musik tradisional Batak Toba’ yang sedang dimainkan. Apa lagi ketika melihat orang-orang manortor, ingin rasanya aku masuk dalam kerumunan.
“Heh,” cegah Koi. “Sepertinya Arga Dewasa ingin mengenang masa kecilnya, ya,” sindirnya.
Aku tahu arah sindirian Koi. Aku mengangkat bahu sambil cengar-cengir.
“Oke, kita fokus sekarang. Kira-kira apa yang terjadi di sini,” timpal Koi.
Aku pura-pura tidak mendengarnya. Kubiarkan ia memulai pencariannya sedangkan aku sibuk menikmati irama musik dan tarian orang-orang dewasa dalam kerumunan. Terlebih posisi kami yang tepat berada di samping pengeras suara menjadi kesempatan yang bagus untuk mengabaikan Koi sebentar.
Dari sudut mataku, kulihat Koi celingak-celinguk mencari Arga Kecil. Walau aku melihat Mamak berada di antara kerumunan, aku tidak memberitahu Koi. Aku hanya melihat mamak tanpa Arga di dekatnya. Ia sedang fokus memperhatikan orang yang sedang berbicara menyampaikan petuah-petuah dalam bentuk umpama dan umpasa semacam ungkapan dan pantun yang memang wajib hukumnya dikuasai oleh orang Batak khususnya dalam berbagai acara adat termasuk pesta adat pernikahan seperti ini. Aku juga turut memperhatikan pria yang sudah beruban berkata-kata dengan begitu lancar. Kemudian mengakhiri pidatonya dengan maminta gondang atau memohon agar ia diiringi musik yang sesuai untuk manortor sekaligus penyerahan ulos kepada mempelai. Sambil manortor pria beruban itu didampingi oleh wanita yang juga sudah berumur. Mereka bergerak memberikan ulos kepada pengantin melenggak-lenggok mengelilingi mempelai sebelum membentangkan ulos menutupi pengantin.
Masih dengan orang yang sama, ulos kemudian diberikan kepada sepasang suami istri yang sudah paruh baya. Aku berkesimpulan kalau suami-istri pemberi ulos itu adalah orang tua dari mempelai wanita. Mereka memberikan ulos kepada pengantin sebagai tanda restu sedangkan ulos satunya lagi diberikan kepada orang tua mempelai wanita sebagai simbol kekerabatan yang akan terjalin.
“Hei, Ini kita mau lanjut atau bagaimana?” Koi mengoceh.
“Sebentar, lagi asyik, nih,” keluhku.
“Ya sudah, terserah kau sajalah.” Koi pasrah.
Baru beberapa detik, Koi sudah mengganggu lagi. “Tuh… tuh…tuh… itu dia.” Koi menggebu-gebu. Kalau sudah begini, tak mungkin lagi aku mengabaikannya. Aku mengikuti arah yang ditunjuknya.
Kulihat Arga sedang berdiri di dekat penjual mainan tak jauh dari tratak atau tenda biru yang lazim digunakan saat hajatan oran Batak. Ia sendiri. Ia sedang meniup sesuatu yang memunculkan gelembung dengan ukuran yang hampir sama besarnya dengan kepalanya.
Dalam satu jentikan jari, kami sudah berada di dekat Arga Kecil.
Bukannya memberikan perhatian pada Arga Kecil, aku malah terhipnotis dengan berbagai macam mainan yang terpampang di depan mukaku.
“Bang Koi. Kau harus lihat ini,” kataku bersemangat.
Koi tidak menjawab. Pasti dia tidak terlalu peduli. Ini bukan bagian dari tugasnya, jadi wajar saja. Tetapi mulutku gatal sekali untuk tidak diam saja.
“Kelereng seperti ini masih ada di masa sekarang nggak ya?” Aku berbicara sendiri. Kuperhatikan berbagai jenis kelereng dengan berbagai macam ukuran. Biasanya makin banyak kelereng, makin memiliki gengsi, apa lagi hasil memenangkan permainan. Kalau kelereng dengan variasi yang banyak seperti ini, rasanya pengen kembali kecil lagi. Kelereng di tempatku punya namanya sendiri. Di jamanku itu dikenal sebagai galeran atau pukkul. Nah, yang warna putihnya dominan itu, kami sering bilang itu pukkul susu.” Aku menjelaskan kepada Koi yang jelas-jelas tidak berminat mendengarkan.
Koi menghela napas, “Kau ke sini mau jualan apa kek mana ini?” protes Koi.
“Bah, logatmu udah kek orang Batak betulan,” ledekku.
Koi mendengus kesal.