“Koi, apa masa kecilku memang seburuk itu?” keluhku pada Koi setelah tiba di Konservasi Memori. Kuhempas tubuhku mencari sandaran pada Pohon Kenangan milikku.
“Mungkin Ia mengizinkan semuanya itu untuk kau lalui,” tukas Koi.
“Tetapi kenapa harus aku?”
“Aku tidak punya jawaban untuk itu. Tetapi yang pasti, kau tidak boleh berlama-lama dalam penyesalan seperti itu. Kau harus terima kenyataan kalau kau pernah melewatinya. Mungkin ini terdengar tidak bikin kamu puas, tetapi percayalah, penerimaan selalu mengawali hal-hal baik,” tutur Koi.
Aku tak berusaha mendebat. Aku mulai sibuk dengan ramai yang ada di dalam kepala. Untuk sesaat, kuabaikan keberadaan Koi yang bersandar pada balok kayu yang ia jadikan sebagai pengganti kursi.
“Kau mau kuhibur?” tanya Koi tiba-tiba.
“Kalau mau menghibur, harusnya tidak perlu bertanya,” balasku jutek.
“Ya… aku juga harus memperhatikan suasana hatimu dong,” katanya.
“Justru kau semakin merusaknya tahu,”
“Oke, maaf, maaf. Kira-kira kau mau apa?”
“Aku ingin mengubah masa kecilku lebih…”
“Ups, aku salah pertanyaan kalau begitu,” potong Koi. “Kalau begitu aku saja yang memutuskan.” Koi terkekeh.
Sinar kehijauan dari tubuh Koi semakin berderang. Demikian juga lingkaran portal yang dibuatnya. Koi memberikan isyarat agar bangkit dan masuk ke dalam portal bergambar kucing itu.
“Kau mau bawa aku ke mana?”
“Lihat saja nanti. Kau pasti suka,” jawabnya percaya diri.
Wow!
Jika ada yang bilang bahwa keindahan selalu menjadi alasan untuk jatuh cinta, kini aku percaya kalau itu benar adanya. Siapa yang tidak akan terpesona dengan tempat yang menakjubkan ini. Dari ketinggian ini kulihat lanskap alam yang sempurna. Danau-danau kecil tersusun dalam kaskade. Airnya yang jernih berwarna pirus itu berubah seputih kapas ketika jatuh ke laut lepas. Laut sejernih kaca itu itu memantulkan bentuk yang ada di atasnya. Kami bahkan melihat bentuk awan persis sama dengan yang tercermin di laut.
“Boleh kita pindah ke sana?” Aku menunjuk ke pantai.
Koi mengangguk