“Kau ingin memilih sendiri?” Koi menawarkan.
“Bisa? Tapi kenapa, Bang?” tanyaku.
“Tidak apa-apa. Hanya saja dari tadi aku yang memutuskan untukmu. Sekali-sekali kau boleh memutuskan kenangan mana yang ingin kau kunjungi.”
Asumsiku, Koi sedang merasa tidak enak hati. Bisa jadi karena keluhanku beberapa waktu lalu. Mungkin ia merasa bersalah karena setiap ingatan atau kenangan itu selalu bermuara pada pengalaman tidak mengenakkan. Bang Koi, aku tidak menyalahkanmu, batinku. Aku hanya sangat kaget.
“Baiklah.”
Aku memperhatikan cabang untuk tahap perkembangan masa sekolah seperti penjelasan Koi sebelumnya.
Aku menunjuk salah satu buah berwarna merah merekah yang agakna sesak karena diapit buah-buah yang lain. Ukurannya yang cukup besar dari buah lain membuatnya cukup mencolok. Tangkainya mungkin tidak dapat menahan bobotnya sehingga membutuhkan buah lain untuk menopanggnya.
Koi melepas sinar hijau dari tangannya. Sinar itu meliuk-liuk di udara dan menyelimuti buah yang kumaksud tadi. Buah itu lepas dari cabang itu dan sekarang mendarat di tanganku.
***
“Kau lucu juga ya.”
Antara memuji dan mengejek, gaya bicara Koi sama saja. Aku memperhatikan seluruh murid yang sedang fokus pada guru laki-laki tengah menjelaskan tentang arah mata angin. Mereka tergelak ketika guru itu menaruh penggaris panjang di atas kepala salah seorang murid yang menurut Koi lucu itu. Tetapi memang benar adanya. Aku melihat diriku versi kecil itu ikut menyimpulkan senyum. Muka anak polos itu tidak bisa tidak mengundang gelak tawa. Mukanya tegang sekali. Padahal guru itu sama sekali tak melakukan apapun selain menggerakkan penggaris itu di kepalanya, meniru jarum kompas menunjuk arah mata angin yang dimaksud.
“Nah, sekarang Bapak adalah teman Arga dari luar kota dan ingin berkunjung ke rumahnya. Pas tiba di kampungn, Bapak agak bingung soalnya Arga cuma kasih Bapak denah rumahnya. Bapak butuh bantuan orang yang bisa baca denah nih. Ada yang mau nunjukin ke Bapak arah yang benar?” ujar guru itu.
Ada banyak anak yang berebutan. Mereka antusias sekali. Lalu guru itu memilih anak laki-laki dengan tubuh yang lebih bongsor untuk maju.
“Nah, Beno!” seru guru itu sambil membuka lembaran kertas karton berisi sebuah denah di atas meja murid paling depan. “Nah, kita sedang ada di sekolah. Menurut denah ini, rumah Arga nggak jauh-jauh amat dari sini. Coba tunjukin arahnya kalau Bapak mengahadap utara menurut denah ini.
Lagi-lagi anak-anak berebutan untuk menunjuk arah yang dimaksud. Guru itu cukup kewalahan karena mereka saling berdesakan. Beda halnya dengan Arga yang rumahnya dijadikan objek percontohan hanya diam saja. Ia menyingkir dari kerumunan itu dan merapat ke papan tulis.
“Udah-udah, kalo kalian berebut kek gini, denahnya bisa robek, nanti kalau Bapak kesasar, bagaimana?” tegur Pak guru.
“Pak, kan bisa kami antar langsung, Pak?” seru murid laki-laki yang tadi juga cukup beringas sampai menindih teman-temannya.
Murid-murid lain turut mengiyakan.
“Tidak usah. Untuk yang satu ini Bapak tanya Beno aja.” Guru itu mencoba menenangkan.
“Beno itu bego, Pak. Nggak tahu dia itu. Kita juga bisa, kok,” timpal murid laki-laki yang lain.
“Eh awas kau ya.” Murid bernama Beno itu mengepalkan tangannya.
“Sudah-sudah. Kita fokus lagi.” Sang guru menenangkan. “Beno, jadinya kau bisa tunjukkan arah rumah Arga?”
Kelas sekarang penuh dengan bisik-bisik, obrolan kecil dan gumaman-gumaman. Mereka menunggu anak bernama Beno itu memberikan jawaban.
“Kan, udah kubilang dia nggak bisa, Pak?” timpal anak laki-laki tadi sambil membusungkan dada.
Beno menatap tajam.
“Oke, tidak apa-apa Beno, kau boleh duduk dulu.”
Beno mendengkus kesal. Sedang dua anak laki-laki usil tadi cekikikan.
“Kalau begitu, mungkin di sini ada tetangga yang lebih dekat dengan rumah Arga?”
Kali ini, dua orang anak perempuan yang terlihat antusias. Mereka sampai berdiri supaya guru menunjuk mereka. Mata Arga juga kembali terang.
“Oke, Dini dan Jun, kalian berdua boleh maju sekaligus.”