Kami disambut oleh tawa anak-anak kecil. Mereka begitu menikmati pemainan kasti di lapangan. Terik matahari di atas kepala tidak ada apa-apanya, kalah telak dengan semangat mereka yang lebih menyala. Mereka juga tidak memedulikan seragam olah raga yang sudah sangat basah karena keringat.
Itu Dini dan Jun berteduh di sana. Lalu Arga kecil di mana?
Mataku mengitari lapangan tetapi aku tidak menemukan sosok Arga kecil. Koi juga mencari-cari. Kami berotasi di dalam portal.
“Bang Koi, aku tidak menemukan ketiga anak laki-laki kemarin.” Yang kumaksud adalah anak bertubuh bongsor bernama Beno dan kedua teman-temannya. Aku merasa ganjil. Seingatku jumlah anak laki-laki dan perempuan di kelas Arga bisa dikatakan seimbang, tetapi yang sekarang bermain hanya beberapa saja.
“Boleh kita lihat ke kelas?” pintaku.
Kami mengambang di udara. Koi membawaku ke dalam kelas yang salah. Sebab di dalamnya murid-murid duduk tertib mendengarkan pengajaran guru mereka. Ruangan ini memang benar dulunya ruang kelas Arga, tetapi itu tahun lalu ketika ia duduk di kelas 5.
Aku mengajak Koi ke kelas di sampingnya. Kosong. Tidak ada siapa pun. Yang ada hanyalah seragam merah putih terletak tak beraturan di atas meja. Ini sudah benar ruang kelas Arga. Tetapi kemana murid-murid yang lain?
“Arga. Coba dengar!” Koi memberi isyarat agar aku tak mengeluarkan suara berisik dengan celotehanku.
Kami mendengar suara-suara dari balik tembok. Gelak tawa gerombolan anak-anak. Koi dan aku memikirkan hal yang sama. Koi menjentikkan jarinya dan membuka daun jendela yang tertutup rapat.