Nael membawa Arga ke ladang singkong milik mereka. Pria berbadan tegap itu meminta Arga untuk menurunkan volume suara. Di bawah sana terdapat sumur kecil yang sering di pakai warga sekitar untuk mandi dan mencuci. Mereka sengaja bersembunyi di balik pohon pisang yang tumbuh bergerombol dan cukup rimbun. Cukup untuk menutupi badan mereka berdua.
“Ngapain kita, Bang?” bisik Arga
“Nggak usah berisik, lihat aja itu.” Perintah Nael. Nael mengarhkan kepala Arga melihat dari celah daun pisang tempat mereka bersembunyi. “Uh, tengoklah itu, mantap kali.” Bang Nael menjilat bibirnya sendiri.
Arga tidak begitu tertarik dengan pemandangan yang diperlihatkan oleh Bang Nael. Menurutnya biasa saja melihat orang mandi. Toh, dia juga sering mandi bareng ibu-ibu di sungai.
“Sekarang kau lihat ini.” Bang Nael melorotkan celananya dan celana dalamnya sekalian. Ia mengelus-elus penisnya dan mengarahkan kepada Arga. “Coba kau pegang.”
Arga kaget dan sempat menolak, tapi Nael terus membujuk. Ia menggesek-geseknya ke paha Arga. Nael berusaha melembutkan suaranya dan pelan-pelan meraih jemari Arga. Ia melembutkan suaranya, lirih di dekat telinga Arga.
”Coba peganglah, abang mau tunjukkan sesuatu.” Yang ia maksud adalah kemaluannya yang semakin menegang.
“Kok bisa, Bang?” tanya Arga
“Iya. Dia masih bisa lebih keras lagi.” Bang Nael membetulkan celananya dan menarik tangan Arga. ”Sekarang ikuti Abang.”