Lompatan-lompatan memori yang kami kunjungi membuatku pening. Setiap singgah di memori yang satu dengan yang lain, aku selalu merasa di ada di tempat yang sama sekali berbeda, seperti sekarang ini.
“Kamu bisa duduk di situ.” Seorang guru muda yang kemudian dipanggil Pak Edu menunjuk kursi kosong yang rapat dengan tembok. Kulitnya berwarna gelap dengan tubuh jangkung. Sorot matanya tajam. Bahkan ketika tersenyum pun wajahnya terlihat bengis.
Arga kecil berjalan ke tempat duduk dengan kepala menunduk. Aku bisa memahaminya karena entah kenapa hawa kelas ini cukup tidak enak. Tidak ada riuh semangat menyambut orang baru.
“Oh iya, Arga, kalau nilaimu bagus, nanti kelas delapan kamu bisa masuk kelas unggulan. Semangat ya. Jangan macam-macam!” kata-kata Pak Edu terdengar seperti ancaman daripada dukungan.
Pak Edu meninggalkan kelas. Barulah kelas yang tadinya hening seketika berubah heboh. Rupanya dugaanku benar. Anak-anak memang takut kepadanya. Banyak anak-anak yang berlarian mengerumuni Arga Kecil. Banyak pertanyaan mereka lontarkan bertubi-tubi. Dari mana asalnya, apa alasan kepindahannya dan rumahnya di mana.
Arga cukup tidak siap dengan situasi itu. Ia semakin merapat pada diniding dan kepalanya ia telungkupkan ke dalam tasnya. Untung saja, anak lak-laki yang menjadi teman sebangkunya segera menyadari ketidaknyamanan Arga dan menghalau teman-temannya.
***
“Halo, kau orangnya emang pendiam atau kek mana?” seorang anak kecil tambun mendekati Arga. Ia terlihat lucu dengan rambut keriwil. Dasi di lehernya seperti mencekiknya karena batang lehernya tampak menyatu dengan dagu karena timbunan lemak.
Arga tidak menanggapi. Ia berdiri bersandar ke tembok sambil menatap anak-anak lainnya bermain di lapangan. Tak lama kemudian ada dua orang lagi yang ikut penasaran dan turut bersandar mengikuti Arga.
“Aku berani bertaruh kalau si Arga ini bukan orang yang pendiam,” kata perempuan berkulit hitam dengan bibir tebal itu. Dia bergaya seperti laki-laki. Lengan bajunya dilipatnya memamerkan kulit cokelatnya.
“Kayak banyak aja uangmu. Emang kau mau bertaruh berapa?” Sekarang seorang anak laki-laki menimpali. Kulitnya sama cokelatnya dengan perempuan tomboi tadi. Hanya saja anak ini lebih gemulai. Tangannya menoel lawan bicara dan menantangnya.
“Bah, jangan salah, Kawan. Tampang aja ini kek orang miskin. Kantong tebal ini bos.”
“Jadi kau berani berapa?” si anak gemulai itu tidak mau kalah.
“Kau ada uang berapa?” balas anak perempuan itu.
“Nih, lima ribu.” Anak laki-laki itu menyodorkan uangnya.
“Dih, kirain berapa. Sepuluh kek masih lumayan. Ini lima ribu doang ternyata. Nggak mainlah kau.” Cewek tomboi itu meledek cowok gemulai. “Kau, Dan, mau ikut nggak? Lumayan nambah lima ribu.”
Anak yang dipanggil Dan itu mengangkat bahu.
“Ah kau juga nggak maen. yaudah.”
“Emang siapa kalian main taruh-taruhan untukku?”
Aku membelalak. Begitu juga dengan ketiga anak itu. Arga menyeletuk dengan ketus tanpa memandang mereka. Ketiga anak itu menganga saling pandang sampai Arga berlalu dari hadapan mereka dan kembali masuk kelas.
“Ternyata si kawan ini bukan pendiam. Tetapi pemarah,” celetuk si cowok kemayu. “Salah total kita weh.”
“Makanya jangan sembarangan.” Anak tambun yang dipanggil Dan itu juga turut meninggalkan mereka.
***
Arga Kecil melangkah dengan cepat. Di jalan setapak yang sepi, ia bertemu beberapa orang yang tampaknya sengaja menunggu. Mereka bersandar di dinding kilang padi. Arga Kecil mengenal mereka. Bahkan ia juga meirndukan mereka. Mereka adalah teman-teman masa kecilnya walau hanya setahun. Teman semasa SD. Wajah mereka tidak banyak berubah. Ari memiliki mata bulat dan tajam, alis yang tebal dan senyum yang cukup lebar. Jonah dengan bibir tebalnya dan matanya yang agak sipit selalu terkesan mengejek. Namun, Arga Kecil mengingat mereka cukup dekat dulu. Terakhir, ada Irwan. Pembawaannya tenang, seingatnya Irwan tidak banyak bicara, tetapi bukan pendiam. Wajahnya selalu tampak serius, tetapi ia mudah tertawa.
“Kenapa kau tiba-tiba balik lagi?” Suara Jonah bukan suara yang ramah untuk menyambut kedatangan kawan lama yang sudah lama berpisah.
“Ma-maksudmu?” tanya Arga gugup.
“Kami hanya ingin tahu, kenapa kau tiba-tiba muncul setelah kami cukup tenang tanpa keberadaanmu.” Ari menatap tajam. Mata bulatnya tidak bersahabat.
Arga melihat Irwan. Dia diam saja.
“Dengar ya. Berteman denganmu satu hal yang paling nggak enak tahu. Kau selalu bertingkah kayak cewek. Kau tahu, gara-gara kau, sekarang kami juga dikira banci sama temen-temen.”
“Tapi nggak.” Arga kecil berusaha menguasai diri.
“Ya, jelaslah.” Kali ini Irwan yang berbicara, “Makanya nggak usah deket-deket lagi.”
Mata Arga kecil berkaca-kaca. Hari ini ternyata tidak akan berakhir dengan baik. Pikirnya ia bisa senang dengan karena akan bertemu kawan lamanya. Saya sekali, ternyata ia tidak disambut baik. Arga menunduk bersiap meninggalkan mereka. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sekolah di tempat barunya ini mungkin akan menjadi hari-hari paling melelahkan jika ia tidak segera beradaptasi.