Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #12

13 (2012)

Kami berdiri di salah satu mulut gua. Konon katanya gua ini dibuat oleh seorang pria berdasarkan petunjuk leluhurnya. Butuh waktu 10 tahun untuk mengeruknya, membuat ruangan-ruangan dan jalinan lorong sehinga terhubung satu dengan yang lain. Aku tidak meminta Koi untuk masuk ke dalamnya. Gua itu gelap sekali, tekstur tanah liat yang licin. Pun kalau kami harus masuk, cukup tidak memungkinkan mepertimbangkan batas portal.

Kami memutuskan untuk memandang bebas Danau Toba yang luas dari salah satu mulut gua yang memiliki kolam ikan kecil di depannya. Angin bertiup sangaat kencang sampai-sampai Tere memeluk dirinya sendiri. Cewek tomboi itu ternyata tidak kebal rasa dingin.

“Kalian lihat rumah yang di sana, nggak?” Tere menunjuk ke hamparan luas yang terbentang di depan kami.

“Mana?” tanya Daniel.

“Itu loh, yang atapnya seng itu dikelilingi pohon-pohon itu. Cukup jelas kok, itu yang silau kali itu” terang Tere.

Arga dan Daniel sama-sama memicingkan mata. Objek-objek kecil cukup sulit ditemukan dari ketinggian ini. Yang mudah tertangkap mata hanya jurang alias lembah-lembah ini, hamparan sawah, ladang, dan gugusan pulau samosir yang berada di tengah danau Toba.

“Kalian kejauhan lihatnya, ini lihat jariku nunjuk yang mana?” kesal Tere.

Safri, Arga dan Daniel masih terus mencoba.

“Serius, kita ke situ?” tanya Arga tak percaya.

“Serius, ayo, keburu siang, nanti panas.” Tere langsung berlari ke bawah mengikuti jalan setapak yang cukup curam.

Lihat selengkapnya