”Kau tidak lelah dengan pekerjaan ini?” lontarku tiba-tiba.
Koi berubah warna tubuhnya menjadi warna biru. Kalau saja berdampingan dengan pohon Leben milikku, ia bisa saja berkamuflase dan tidak menyadari keberadaanya. Untunya dia memilih duduk di kursi kayu berwarna cokelat sehingga warnanya cukup kontras.
”Kenapa kau tanya begitu?” tanyanya sambil memainkan dedaunan yang berguguran dengan kekuatann magisnya.
”Kau lihat? Dibanding bahagianya, memoriku lebih banyak nggak enaknya. Aku tidak bisa bayangkan lelahnya makhluk seperti kalian harus menemani setiap orang ditambah dengan menghadapi emosi mereka. Iya kalau orangnya bisa tenang, tidak seperti aku yang suka kebawa emosi.”
Koi meletakkan dedaunan yang dimainkannya sedari tadi di bawah kakiku. Aku tidak lagi heran bagaimana bisa daun itu dibentuk menjadi seekor kucing dan sekarang bergerak pula. Hasil karya Bang Koi mengosok-gosokkan badannya dengan manja. Aku meraih kucing itu kemudian juga mengelus-elusna. Tentu permukaann tubuhnya tidak sehaalus kucing yang seharusnya. Tapi, kucing itu menggeliat manja seperti kucing sungguhan. Dia meringkuk sebentar dalam belaianku sebelum kemudian kuletakkan kembali di bawah kaki. Kucing itu kemudian membaringkan tubuhnya ke permukaan tanah. Tingkah kucing itu cukup menenangkan.
”Sesungguhnya aku tidak yakin bisa menjawab pertanyaanmu.” kata Bang Koi. Aku mendelik menunggu penjelasan. ”Kami tidak memiliki memori tentang masa lalu apa lagi gambaran masa depan. Kami hidup denga misi yang sudah ditetapkan. Kau lihat, aku saja tidak punya daging seperti kamu. Tidak punya emosi serumit kalian. Bagiku, aku melakukan pekerjaanku, itu cukup.”
”Bagaimana jika kau gagal dengan misimu?” sambarku.
Koi menoleh. Kalau dia punya bola mata, kuyakin dia sedang memicingkan matanya.
”Aku tidak tahu selain... menghilang mungkin?” katanya ragu.
”Kenapa begitu?”
”Seperti yang kubilang sebelumnya. Kami tidak bisa meramalkan masa depan. Kami ada untuk sebuah misi. Kalau aku gagal, kemungkinannya cuma satu.” Koi menjeda, aku menunggu. ”Kau melanggar kesepakatan kita. Kau keluar portal, maka kau menghilang. Kalau kau menghilang, aku pun sama. Aku di sini karena kamu dan untuk kamu.”
Kata-kata Koi membuat suasana agak canggung. Aku membetulkan posisi menghindari tatapan dengannya. Balasan Koi memberikan penjelasan lebih dari cukup. Tiidak ada bahan diskusi yang kulontarkan kecuali tujuan berikutnya.
Kali ini tanpa ditawarkan, aku berinisiatif meminta Koi untuk menjelajahi kenangan masa sekolah lagi. Aku ingin tahu bagaimana diriku mengakhiri masa-masa SMP.
Dengan kekuatan magisnya Koi meraih buah berwarna merah berisi memori itu. Dengan sigap aku menadahkan tangan menerima buah itu. Koi membuat portal dan aku masuk ke dalamnyaa. Aku menatap buah itu sebentar. Dalam hati aku tengah berharap semoga ada kenangan baik yang bisa kutemukan dalam memori ini.
”Ingat. Apapun yang terjadi kau tidak bisa keluar dari portal.” Koi menegaskan.
Aku mengangguk mantap kemudian menggigit buah di genggamanku.
***
“Itu namanya siapa?” Arga berbisik kepada orang anak laki-laki di sebelahnya.
“Yang mana?” Dava menyahut.
Orang yang dimaksud Arga adalah anak laki-laki yang berdiri paling tengah di antara gerombolan anak yang sedang dihukum. Mereka tertangkap basah sedang taruhan kartu remi di kebun belakang sekolah kemarin.
“Oh, itu Firman. Anak 9C.”
Arga mengangguk. Ada semburat senyum dibibirnya. Ia tidak acuh pada ocehan guru yang berdiri di podium. Fokusnya sudah beralih kepada anak laki-laki yang berdiri menunduk di depan sana. Ia juga tidak mempermasalahkan kertas bertuliskan “Kami Ketahuan Main judi, Jangan Ditiru”. Posisi Arga yang selalu mengambil posisi paling depan setiap apel pagi menjadi hal yang paling disyukuri untuk saat ini. Ia bisa melihat wajah yang manis itu walau sedang dalam mode cemberut.
“Heh, sini kalian semua.” Tiba-tiba guru memerintah sembilan orang anak yang dihukum itu mendekat ke podium. “Sekarang dengan lantang, bacakan tulisan yang kalian kalungkan itu.”
Tidak ada yang bergerak. Pak Guru sudah menyodorkan mic ke orang terdekatnyam, tetapi ia menghindar. Pak Guru mengancam dengan Gerakan kaki siap menendang. Untung saja ada satu orang yang langsung mengambil mikrofon.
“Oke, silakan,” perintah Pak Guru.
KAMI KETAHUAN MAIN JUDI, JANGAN DITIRU
“Ulang” bentak guru tersebut. Mereka mendengung seperti lebah.
KAMI KETAHUAN MAIN JUDI, JANGAN DITIRU