Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #14

Pulau Imaji

“Wohooo, kita ke sini lagi,” kataku bersemangat. Tampaknya Koi tahu apa yang membuatku terhibur. Dia membawaku ke tempat bernama Pulau Imaji itu lagi.

         “Aku mau tunjukkan sesuatu,”

         Aku tidak menanggapi. Aku sibuk mengagumi pemandangan di bawah kami. Kami melintasi sebuah bangunan megah berlapis emas. Di halamannya ada kolam yang jernih menyilaukan tertimpa sinar matahari. Seperti gambaran surga yang ditanamkan di dalam pikiran para pengikut Yang Maha Kuasa. Meski tidak tampak jelas, di bawah sana ada sosok putih memiliki postur seperti manusia berlalu lalang di sekitar halaman, menikmati pemandangan dan anak-anak kecil berlarian dari balkon istana. Suasana damai terasa sekali hingga aku tidak berhenti tersenyum sedari tadi.

         “Kita mau ke mana sebenarnya?” tanyaku.

         “Tunggu saja, sebentar lagi kita sampai,” jawab Koi santai.

         Kami melintasi pegunungan. Pegunungan berwarna hijau karena pepohonan selalu sedap di mata. Di sini alam benar-benar terjaga. Tidak ada tanah tandus atau gersang. Dalam hati aku merenung, kalau tempat ini adalah buah khayalanku semasa kecil, imajinasiku sungguh luar biasa. Ini melampaui kata ideal. Benar-benar dambaan semua orang.

         “Kita sudah sampai.”

         Kami berhenti di atas bongkahan batu besar. Danau yang jernih di kelilingi pegunungan kemudian rerumputan yang segar ini sangat memanjakan mata. Aku belum berhenti merasa takjub ketika ada beberapa makhluk melompat keluar dari danau ke bongkahan batu besar dan datar di tepi danau. Mereka mengibas-ngibaskan ekor mereka yang berkilau karena dilapisi sisik warna-warni. Gradasi warnanya cantik sekali.

         “Heh, katamu di sini tidak ada duyung.” Aku menyenggol Koi. Lagi-lagi aku lupa kalau dia tidak memiliki daging.

         Koi menyilangkan tangan di dada. “Aku tidak bilang tidak ada. Aku bilang, kau tidak bisa menjadi duyung.”

         “Eleh, kamu nggak bilang begitu.”

         Sebelum beradu mulut lebih lama lagi, sesosok duyung dengan perawakan pria dewasa melambaikan tangan. Dia meminta kami mendekat. Aku mengangkat alis kepada Koi meminta pendapat. Masih dengan dada membusung, ia melentikkan jarinya dan menghantar kami mendekat.

         Aku terkesan sekali dengan pemandangan di hadapanku sekarang. Aku diperbolehkan menyentuh kulit yang licin serta ekor yang bersisik itu. Persis seperti ikan, sisiknya terasa lembut, licin dan dingin. Aku mengelus-ngelus ekor duyung laki-laki itu. Dia hanya tersenyum. Aku beralih ke dadanya. Dadanya yang bidang, bersih dan disertai dengan otot yang terbentuk sempurna. Aku menatap lekat setiap lekukan pada tubuhnya. Untuk beberapa saat, aku tenggelam dalam rasa kagum.

Lihat selengkapnya