Bohong kalau Arga bilang dia tidak antusias di tahun-tahun awal ini. Warna mukanya tidak akan bisa menyembunyikannya. Penyebabnya adalah satu nama yang ia lihat di deretan nama siswa yang diterima masuk SMA negeri tempat ia mendaftar. Firman. Ia tidak peduli dengan nama-nama lain yang tidak dikenalnya. Satu nama itu saja sudah cukup menjanjikan masa-masa SMA yang menyenangkan.
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak sekolah, setiap memasuki kelas baru di tahun ajaran baru pasti rebutan kursi. Ada titik-titik strategis yang jadi incaran. Paling depan agar dekat dengan guru, paling belakang sebaliknya, dekat tembok supaya bisa bersandar atau paling sudut supaya bisa makan jajanan waktu belajar. Arga adalah pengecualian. Dia tipe anak yang nyaman di mana saja. Cuma ada sedikit perbedaan untuk tahun ini. Ia berusaha mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Firman.
Firman memilih barisan kedua dekat tembok. “Siapa mau di sini, Woi,” teriak Firman.
Arga menyerobot. “Aku boleh?”
“Ga, sini, bro, masih kosong.”
Arga mengulum senyum. Ada rasa tidak puas mendera dadanya. Dengan lemah ia akhirnya mengempas bokongnya ke kursi di belakangnya. Masih sejajar dengan tempat duduk Firman, tetapi tidak bisa menjadi partner satu meja.
Sabtu, 20 Juli 2013
Aku selalu menghindari pelajaran Olahraga apa lagi semua yang menggunakan bola. Aku tidak tahu menendang, tidak tahu memukul terlebih memasukkan bola ke dalam ring. Aku sering menjadi bahan olok-olok. Bagi orang di sekitarku cowok yang tidak bisa olahraga sama saja dengan bencong.
Firman berbeda. Ia tidak pernah memandangku rendah. Bahkan cenderung melindungi.
Suatu waktu aku tidak bisa mengelak untuk tidak ikut main sepak bola karena kekurangan pemain. Firman berusaha mencari lawan dari kelas lain. Sayang, hari itu sepertinya guru-guru pada rajin. Upaya itu tidak berhasil karena tidak ada kelas lain yang sedang jam kosong.
“Sudah, kalau nggak bisa main, kamu jadi kiper aja,”perintah Geri. Anak berbadan besar yang sok jago.
Aku menoleh pada Firman. Firman mengedipkan mata. Ia tahu aku tidak suka dan dari tatapannya, ia seperti berjanji semua akan baik-baik saja.
Aku sedikit lega kalau sekadar jadi kiper. Aku terus berdoa agar bolanya tidak pernah mendekat ke gawang. Tapi, tidak mungkin terjadi dong. Aku harus tetap bersiap-siap walau sebenarnya aku tidak punya kemampuan apa-apa. Berkali-kali mereka memang sengaja mengerjaiku. Mereka ingin melihat bagaimana aku mengatasi bola tersebut. Firman berusaha bermain dengan serius.
Bagi mereka Firman tidak seru. Firman selalu berupaya untuk menggagalkan niat licik mereka. Sempat terjadi adu mulut. Geri tidak suka Firman selalu berusaha mengacaukan permainannya. Ia mendorong Firman sampai terpelanting. Aku tidak berani melakukan apa-apa.
Permainan terus berlanjut. Makin rusuh apa lagi Geri sekarang menguasai bola. Ia menggiring bola, mengecoh Firman dan timnya. Matanya semakin mengkilat ketika jaraknya semakin dekat. Aku semakin gugup. Badanku keringatan dan Gery pasti tergelak kalau menyadari kakiku ikut gemetaran. Aku ambil posisi menghalau bola sepengetahuanku. Entah posisiku benar atau tidak, aku lebih gentar dengan Geri bukan hanya sekedar mencetak gol. Ia ingin menyerangku.
Bola semakin mendekat. Aku tidak tahu harus melakukan apa kecuali mengikuti arah bola. Setidaknya aku bisa menghalangi bola masuk dengan badanku. Namun, itu menjadi kesempatan yang bagus untuk Geri. Ia mengambil ancang-ancang. Aku gelagapan. Ia menendang sekuat mungkin.
Bola melesat, terlalu cepat sampai tak bisa kulihat sampai aku tidak memprediksi arah geraknya. Bola meleset dari telapak tangan, tepat di muka, membentur tulang hidung. Aku mengaduh kesakitan. Aku bisa merasakan pasir yang menempel di bola menyelonong masuk ke mataku. Aku terjengkang. Rebah dan mengerang. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku hanya bisa mencium bau tanah dan mendengar derap langkah datang mendekat. Mereka mengerubungiku.
“Kau tidak apa-apa?” suara Firman khawatir.
Ia mengiba-ngibas tangan dan kakiku yang kotor karena tanah. Ia merengkuhku dan meminta yang lain untuk membantu.
Aku masih sulit untuk membuka mata. Butiran pasir yang masuk membuat mataku perih.
“Kau tenang dulu. Biar kutiup.” Firman menempelkan jarinya di kelopak mataku. Ia berusaha membantuku membuka dengan pelan-pelan.
Aku meringis perih.
“Alah, Ga... Ga, makanya jangan sama cewek aja mainnya. Cowok emang kek gini mainnya,” ledek Geri.
“Bisa diam nggak, Ger?” hardik Firman.
Upaya Firman manjur juga. Perlahan-lahan aku bisa membuka mata. Masih sedikit perih. Aku mengerjap-ngerjap memastikan pasir keluar semua.
“Oke, sudah aman. Kita lanjut lagi?” Geri masih bertingkah menjengkelkan.
“Ga, kau balik ke kelas aja,” usul Firman. Aku dibantu bangkit oleh Firman.
Aku langsung menurut. Aku senang sekali akhirnya terbebas dari permainan konyol ini. Tidak ada yang protes, kecuali Geri.
“Eee, bencong,” ejeknya.
Aku tidak menanggapi. Jelas aku tersinggung. Untung perhatian Firman bisa menutupinya.
Cinta memang sepertinya beneran bikin bodoh. Sejak saat itu, aku benar-benar berusaha dekat dengan Firman. Aku melakukan apa saja untuk bisa dekat dengan Firman. Aku bisa saja bertingkah konyol hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Aku mau mengerjakan tugas-tugasnya dan akan selalu menuruti keinnginannya. Cara itu berhasil. Terbukti dengan sekarang aku bisa memanggilanya ‘abang’. Panggilan yang sebenarnya bukan untuk saudara, tetapi orang lebih istimewa dari pada itu.
Senin, 29 Juli 2013
Kurang lebih lima bulan ini aku menantang diriku untuk belajar menerima Binar. Tapi, sepertinya tidak akan bisa bertahan lama. Hatiku memberontak. Binar selalu berusaha membuatku istimewa tapi entah kenapa aku merasa semakin terhina, merasa semakin tidak berharga. Binar seperti menggali sesuatu dalam diriku. Galiannya menciptakan sebuah lubang yang kian menganga. Aku menghargainya, sungguh. Aku hanya takut dia menggali terlalu dalam dan terjebak tidak bisa keluar.
Orang-orang di sekitar memuji betapa beruntungnya aku mendapatkan Binar. Dia pintar, dewasa dan dia tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Aku adalah kesalahan terbesarnya dalam memilih. Dia tidak sadar bahwa dia adalah tempat sembunyi dari seorang laki-laki pecundang yang tidak bisa menerima dirinya juga tidak tahu apa yang ia inginkan.
Aku mengelus kado ulang tahun dari Binar. Tumpukan buku novel-novel yang sudah masuk ke dalam wish list. Buku-buku sastra karya Andrea Hirata yang populer, Novel karya Dee Lestari dan beberapa sastra klasik terbitan Balai Pustaka yang sudah agak jarang ditemukan. Entah berapa lama Binar menabung juga mencari semua buku-buku itu. Pasti sangat sulit mendapatkannya karena di daerahku toko buku masih jarang sekali.
Perjuangan Binar semakin memperjelas bahwa aku sangat egois. Aku menyatakan perasaan lalu meragukannya dengan begitu cepat. Bagaimana perasaannya jika ternyata kami tidak cocok. Sangat memalukan baginya hubungannya gagal seumur jagung. Teman-teman akan menginterogasi kepingin tahu. Bagi mereka hubungan kami tidak ada cacatnya dan mereka turut mendambanya.
Ah, Tuhan, aku sedang belajar mencintai. Tolong bantu aku, bukan hanya jatuh ke dalam cinta, tetapi juga bisa tumbuh dengan cinta. Harapan akan kelanggengan hubungan yang kuucapkan saat perayaan tadi adalah sebuah kebohongan. Kalau aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini, aku akan benar-benar mematahkan hatinya. Hubungan ini menjadi hubungan yang rumit dan hati sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
***
Sepertinya setelah menginjak usia yang kelima belas masalah semakin rumit. Dari apa yang kulihat, Arga mulai belajar untuk mengenal dirinya sendiri. Dari penilaianku saat ini, dia tak seharusnya diperhadapkan pada situasi seperti itu. Jika ini adalah proses pendewasaannya, rasanya tidak adil. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh para remaja. Sesuatu yang ada di luar dirinya, mencoba dan mengeksplorasi banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan. Lain hal dengan Arga, ia harus berjuang bebas dari penjara tubuhnya sendiri. Jiwanya dipasung oleh apa yang dianggap tabu oleh orang-orang. Dia juga sudah ditikam habis-habisan oleh perasaan bersalah. Dirinya pun ia lihat sebagai sebuah kesalahan.
Aku mulai memahami perasaan yang mengekang versi Arga di masa remaja. Sepertinya sama saja ketika perasaan kagum yang dipicu duyung laki-laki di Pulau Imaji. Aku tidak bisa menyangkal bahwa ketertarikan ini bukan ketertarikan biasa.
“Aku ingin tahu lebih banyak tentang diriku di tahun ini,” pungkasku.
Koi tersentak. Dari yang semula bersandar di pohon Leben, dia buru-buru membetulkan posisinya.
Aku mendelik. “Aku tidak tahu, kalau makhluk sepertimu bisa tidur.”