Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #16

16 (2015)

Mereka mengaku dari badan pelayanan misi. Mereka menawarkan ruang aman untuk berbagi beban untuk anak-anak Tuhan yang bergumul dengan semua hal yang berkaitan dengan seksualitas, termasuk orientasi seksual, seperti sebuah tangan yang terulur ketika jatuh dalam lumpur isap. Untuk sebentar aku melihat binar mata Arga semacam menaruh harapan.

Ketenangan yang sekeping itu hanya bertahan sebentar sebelum menguap menjadi denging di telinga yang tiba-tiba panas. Saat sebuah angket dibagikan dan Arga menerima bagiannya. Semua mata di dalam kelas tertuju kepadanya. Ia menyapu sekeliling. Tidak ada lidah yang mengulur kepadanya. Tidak ada mata yang memicing curiga. Hanya tatap bertemu tatap dan itu membuat wajah Arga semakin pias.

  Angket yang dibagikan bukan sekadar jajak pendapat. Itu adalah pengakuan dosa. Kalimat demi kalimat menuntut hati yang berdetak untuk berbicara. Kejujuran. Itu yang mereka sebutkan. Tidak ada penghakiman atau kebocoran informasi. Arga tidak percaya. Sebab mata-mata tadi sudah mengirimkan sinyal bahwa di kelas 11 IPS 1 ada yang tidak beres. Angket ini seperti sebuah perangkap layaknya untuk para buronan yang berusaha menggunakan jurus kamuflase.

   Arga sekali lagi mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kelas. Ia kemudian berhenti pada Firman. Di kelas 11 ini bukan lagi sederetan, mereka benar-benar berjauhan. Dua kolom meja dan kursi memisahkan mereka. Mata mereka bertemu. Tidak lama. Hanya satu kedipan saja dan itu cukup menyatakan bahwa Firman tidak mengindahkannya. Seperti yang kukatakan kelas ini benar-benar sudah dingin. Hati anak-anak remaja itu pun demikian.

           “Sudah selesai?” suara pria dengan kemeja biru berlengan panjang di depan membuyarkan Arga dari lamunannya.

           Anak-anak serempak menjawab belum.

           Arga mengambil pulpennya. Jemarinya gemetar. Baginya ini adalah tindakan membuka kotoran yang sebenarnya sudah berbau lalu menunjukkannya kepada orang baru yang penasaran. Pastinya bukan pujian yang datang, melainkan sumpah serapah atau umpatan.

           Arga memutuskan untuk mengisi angket. Baris demi baris dibacanya dengan cermat. Kalimat yang mempertanyakan apakah ia menyukai sesama jenis dipandanginya lamat-lamat. Ia mencentang sebagaimana harapan orang-orang itu. ya, kejujuran. Arga pikir kegiatan ini seperti angin lalu. Tinggal kumpul kalau selesai dan orang-orang itu pulang. Ia mencentang dengan ringan ketika bertemu dengan pernyataan apakah ia candu dengan pornografi. Nyatanya, prosesnya belum selesai hingga Bu Hermin datang ke kelas dan memanggil Arga.

           “Kamu Arga?”

           Pria berkemeja biru itu mengulurkan tangan. Dengan matanya yang sipit dan berkacamata serta senyum ramah yang dilontarkan untuk sesaat Arga dibuat nyaman. Arga dipersilakan duduk di atas sofa. Bu Hermin duduk di sisi yang lain.

           Pria berkemeja biru yang kemudian diketahui bernama Handoko merogoh sesuatu dari tas hitam berbentuk persegi. Hasil angket kemarin. Arga menoleh kepada Bu Hermin. Bu Hermin membalas dengan warna muka cemas.

           “Tidak usah canggung Arga. Kami tidak akan menghakimimu. Kami di sini buat bantu kamu.”

           Arga mencium sebuah persekongkolan antara Bu Hermin dengan orang-orang ini. Berarti Bu Hermin sudah terlebih dahulu menceritakan tentang Arga kepada mereka sehingga hanya dia yang diminta datang ke ruang BK.

           “Perasaanmu sekarang bagaimana, Nak? Degdegan?”

Arga mengangguk. “Takut?” Arga mengiyakan juga.

           “Nggak papa ya. Bapak pastikan kamu aman. Bila perlu, nggak papa teman Bapak yang lain dan juga Bu Hermin keluar sebentar.” Kata Pak Handoko sambil memberi kode.

           “Nggak usah. Bu Hermin di sini saja.”

           Pak Handoko kemudian memberi kode kepada dua temannya. Kedua pria yang lebih muda itu langsung meninggalkan ruang BK.

           “Baik, kita lanjut ya.” Pak Handoko merapikan duduknya.

           “Bapak boleh tahu hubungan kamu dengan Tuhan saat ini apakah terasa dekat atau terasa berjarak?”

           “Saya nggak yakin Tuhan dekat saya sekarang.”

           “Kenapa bilang begitu?”

           “Dia tidak peduli dengan saya. Dia menjauhkan semua orang dari saya. Teman saya, orang tua saya bahkan saya ditolak di gereja.”

           Pria itu mengernyit. Dia menatap Bu Hermin.

           “gereja menolak kamu?”

Lihat selengkapnya