Daftar Riwayat Luka

BANYUBIRU
Chapter #17

17 (2016)

Mereka masih menggunakan seragam. Meskipun bukan hari libur atau akhir pekan, anak-anak SMA yang sedang asyik bermain tetap membuat tempat ini ramai. Ruang terbuka dengan pemandangan danau Toba. Siapa pun pasti ingin bersantai di bawah teduhnya barisan pohon pinus. Kalau anak-anak ini, mereka memilih berlari-larian. Mereka saling mengecoh di antara pohon-pohon pinus. Mereka penuh dengan gelak.

Ada dua orang yang memisahkan diri dari kerumunan. Mereka duduk di kursi panjang menghadap Danau Toba juga pulau Sibandang seperti balkon alami dari ketinggian. Tapi aku tidak yakin mereka benar-benar memperhatikan panorama yang ada di depan mata mereka. Mereka duduk berjarak, tetapi tenggelam dalam obrolan. Suara berisik di sekitar mereka tidak tampak mengusik sama sekali.

“Kita nggak mau gabung aja ke mereka?” tanya Arga.

“Nanti aja. Mereka nggak bakal ganggu juga, kok,” balas Firman.

“Kau nggak risih dekat samaku di sini. Entar...” kata Arga menggantung.

“Alah, nggak usah dipikirin,” potong Firman.

Angin berembus dengan semilir. Desau pinus lebih terdengar dibanding lanjutan obrolan kedua anak itu. Rupanya kedua anak itu tidak memiliki keahlian basa-basi yang mumpuni. Kalau aku bisa bebas dari portal, aku akan menggerecoki mereka berdua saking heningnya.

“Man, kamu merasakan sesuatu nggak samaku?” tembak Arga.

Serangan mendadak dari Arga. Aku sampai terbatuk-batuk. Aku menoleh kepada Koi. Dia berlagak biasa saja. Dugaanku dia juga sedang berusaha menahan diri. Arga terlalu berani, terlalu to the point dan lawan bicaranya tidak siap.

Firman tergagap. “Rr-rasa bagaimana maksudnya?”

Arga mendelik.

Firman memperbaiki posisinya. Ia menaikkan dadanya supaya lebih tegak. Seketika dasi yang digunakannya terasa mencekik.

“Dengar, Ga. Aku tahu ini canggung banget, sumpah. Tapi kurasa kita perlu buat lebih jelas. Maaf bangetlah kalau bikin kau jadi salah paham,” ujar Firman.

“Aku nggak salah paham. Aku cuma tanya,” Arga berusaha menguasai situasi.

“Oke, oke. Kalau begitu aku ngasih tahu. Aku nggak punya perasaan semacam itu ya. Aku murni lihat kau sebagai teman dekat aja. Kau dulu panggil aku ‘abang’ kan? Dan aku lihat kau juga seperti adik. Jadi, nggak lebih dari itu.”

Arga Cuma mengangguk-angguk. Dia tersenum tipis lalu pandangannya lurus ke danau. Tidak ada raut kecewa. Dia hanya bisa menyimpannya dalam hati. Aku tahu persis, dia tipe orang yang tegar di luar, rapuh di dalam. Tidak mungkin memori ini tidak meninggalkan bekas di hati dan pikirannya.

***

Arga tiba di rumah diantar oleh Firman. Di depan pintu terletak sebuah sepatu booth mengkilap. Dari dalam Mamak ke luar dengan senyum. Kemudian disusul oleh pria yang harusnya tidak begitu asing untuknya. Arga bertemu dengan pria itu terakhir waktu kelas 1 SMP sebelum kembali ke kampung halaman Bapak.

Lihat selengkapnya