Di sini tidak ada konsep waktu yang jelas seperti dunia fana. Ketika aku kembali ke Konservasi Memori, waktu menjadi konsep yang abstrak. Waktu mengalir begitu saja. Aku jadi tidak lagi merasakan dikejar atau diperbudak oleh waktu seperti di dunia manusia. Apakah ini sebuah keuntungan? Aku belum mau buru-buru mengambil kesimpulan. Satu-satunya tuntutan di sini adalah harus menuntaskan petualangan kenangan supaya bisa melanjutkan perjalanan. Tidak ada batasan waktu. Hanya tentang kesiapan.
Aku berkeliling di Konservasi Memori. Bang Koi mengiringi seperti pengawal mengawal tuannya. Untuk saat ini aku meninjau ulang seluruh keterangan Koi makna dibalik semua warna tulip yang tersebar di seantero tempat ini. Aku juga kembali menikmati pemandangan pohon-pohon kenangan dengan bentuk menggemaskan yang pernah kusebutkan sebelumnya.
Aku tertegun di hadapan sebuah pohon Leben. Tidak jauh dari pohon milikku. Dia agak luput dari pandangan karena memang berdiri di antara beberapa pohon lain. Ada semacam koneksi yang kurasakan dengan pohon ini, untuk itu aku memperhatikannya dengan cermat.
Batangnya berwarna kuning pucat. Sama dengan batang Pohon Kehidupan milikku, dia juga punya simbol kucing dengan garis warna emas yang mencolok. Yang membuat berbeda adalah warna bunga yang lebih bervariasi. Terdiri atas kombinasi warna biru dan hijau keabu-abuan yang pucat dan juga terdapat perpaduan oranye muda, kuning pastel, dan sedikit sentuhan merah muda.
“Kenapa warnanya lebih beragam dari punyaku?” tanyaku penasaran.
“Orang-orang dewasa pada umumnya begitu. Emosinya lebih kompleks.”
“Bukankah emosi manusia memang kompleks terlepas dia dewasa atau tidak?”
“Betul. Yang kumaksud adalah tentang jati diri yang sesungguhnya. Sesuatu yang benar-benar melekat pada dirimu akan sulit untuk diubah.”
Argumennya tidak begitu kuat, tetapi aku tidak bertanya lebih banyak. Aku lebih tertarik dengan simbol kucing yang dimilikinya. Kalau kuperhatikan, simbol setiap pohon berbeda-beda mulai dari buku, kereta api, pelampung, sepeda, piring, rumah, makanan, ah pokoknya beragam sekali. Namun, tidak banyak yang punya kesamaan simbol antara satu dengan yang lain.
“Kenapa simbolnya bisa sama dengan punyaku?”
“Hmm” Koi mengusap dagu. “Simbol pada batang pohon punya koneksi yang kuat dengan pemilik pohon tersebut. Itu pasti. Kalau sama dengan pohon lain kemungkinan ada dua. Pertama, kebetulan sama, karena banyak yang suka kucing. Kedua, bisa jadi kalian memang punya hubungan.”
“Di antara dua kemungkinan itu. Yang mana kemungkinan paling besar?”
“Kalau yang itu aku tidak bisa jawab. Karena itu tidak dapat kisi-kisi terkait itu.”
“Cara cari tahunya bagaimana?”
“Ya, dengan makan buah pohon milikmu.”
“Bilang saja kau sudah bosan menemaniku kan?” Aku menggoda Koi.
“Terserah padamu. Aku tidak punya semua jawaban dari pertanyaanmu, kecuali dengan kenanganmu sendiri.”
“Iya, iya deh. Kalau begitu kita mulai lagi.”
***
Mamak menggelar tikar. Bapak kemudian duduk bersila. Arga mengangkat makanan dari dapur untuk disajikan. Bang Nael hendak membantu tetapi dicegat oleh Bapak. Dia tidak ingin Bang Nael ikut repot-repot. Bang Nael menurut. Rio memilih menyalakan TV dan mencari saluran yang menayangkan sinetron kesukaan Mamak.
Setelah semuanya siap, Mamak meminta Rio untk membawakan doa makan. Seperti biasa, Rio paling susah dimintai memimpin doa makan. Dia mengelak dan berbalik meminta Mamak saja. Mama meminta Bapak, Bapak melemparkan kepada Arga. Arga melempar pandangan kepada Bang Nael. Bang malah senyum. Arga balas tersenyum. Antara ragu dan malu, ia tersipu. Arga memutuskan dia saja.
Aku dan Koi menikmati kebersamaan malam ini. Malahan kami duduk bersama di tikar. Tentu masih dalam batas portal yang bersinar, Koi malah beralih fokus pada tayangan di televisi.
Aku turut merasakan kehangatan waktu makan bersama malam ini. Sudah lama tidak terjadi. Rio melemparkan beberapa candaan dengan meledek Bapak yang pucat pasi saat diminta memberi kata sambutan pada pertemuan orang tua di sekolah.
“Rasakan. Biar sesekali tampil. Masa anaknya tampil, Bapaknya nggak?” ledek Mamak terkekeh-kekeh. “Iya, Nael. Bapak Tuamu ini susah sekali ngomong. Waktu itu Mak Tua sengaja aku cari alasan gimanalah biar Bapak Tuamu saja yang berangkat. Dan kejadianlah itu.” Mamak bercerita dengan antusias.
Bapak tidak mau kalah. Ia membukakan kebiasaan Mamak yang suka kentut sembarangan. Mereka lalu saling menuduh dan saling menertawakan. Kami tidak bisa menahan untuk tertawa terlebih cerita masih terus pada kejadian-kejadian lucu di masa lalu waktu Bapak mengambil hati Mama kalau sedang marah. Tawa mereka begitu lepas. Arga juga. Malam itu tidak ada beban yang terlalu berat yang mencuat dan mengurangi canda tawa mereka.
Setelah beres makan, piring-piring kotor diamankan dan sisa makanan disimpan dalam lemari penyimpanan. Obrolan masih terus berlanjut. Bang Nael dan Bapak dengan topik pekerjaan, Mamak dengan komentarnya melihat lakon para pemain sinetron yang bikin gereget belum lagi jeda iklan yang membuat mama garuk-garuk kepala.
Satu dua jam bergulir begitu saja. Aku dan Koi tidak akan benar-benar sadar kalau saja tayangan sinetron yang sudah selesai dan bersambung esok hari jadi penanda bahwa waktu tidur sudah tiba. Bapak dan Mamak bersiap masuk ke kamar sedangkan Arga dan Rio sudah tepar entah sejak kapan.
“Nael masih lanjut nonton?” tanya Mamak.
“Iya, Mak Tua.” Bang Nael mengangguk sopan.
“Ya, sudah nanti jangan lupa matikan,” balas Mamak.
Bang Nael lanjut menonton teve. Remot diutak-atik mencari saluran olahraga yang biasanya ditayangkan menjelang tengah malam. Selanjutnya ia bangun untuk memastikan semua pintu sudah terkunci dan memadamkan lampu. Sekarang pencahayaan hanya mengandalkan pantulan dari layar kaca saja.
“Heh? Sudah begini saja?” tanyaku heran pada Koi.
“Kalau sudah selesai, harusnya secara otomatis kita juga kembali. Kita tunggu saja.”
Aku mengikuti saran Koi. Andai kami berdua masih punya rasa kantuk, mungkin kami juga akan tertidur. Semua orang sudah pulas soalnya.
“Bagaimana kau mau kembali, ini sudah hampir lewat tengah malam.”
Sebelum Koi punya kesempatan menjawab, tiba-tiba Bang Nael mengambil posisi duduk. Dia menurunkan volume teve lalu bangkit berdiri. Tindak-tanduknya agak mencurigakan. Dia berjalan menjinjit ke arah pintu kamar Bapak dan Mamak, menempelkan daun telinganya memastikan sesuatu. Kemudian dia beralih ke pintu sebelahnya, kamar Rio, dan melakukan hal yang sama. Aku sempat berpikir ia akan melakukan pencurian.
Bang Nael kembali ke tempat semula. Kali ini dia mengecek Arga. Dia ambil posisi di belakang Arga yang tidur dengan posisi menekuk. Untuk sesaat, kami berada dalam keheningan. Dadaku berpacu lebih cepat. Aku menatap Koi dengan penuh harap Koi bisa melakukan sesuatu. Bang Nael merapikan selimut yang digunakan oleh Arga dan menarik ke arahnya. Tubuh mereka sekarang dibalut oleh selimut yang sama. Teve menayangkan tayangan berita saat tangan Bang Nael bergerak melorotkan celananya dan berusaha membetulkan selimut yang tersingkap.
Aku mengepalkan tangan dan meremas kuat kepalan tanganku. Pikiranku mulai kalut apalagi ketika Bang Nael masih terus melanjutkan aksinya. Ia melorotkan celana Arga dengan perlahan-lahan.
“Bang. Tolong lakukan sesuatu. Cepat!” perintahku panik. Bang Koi segera bertindak. Kami mengambang dan sekarang berdiri di depan Koi yang masih tidak sadar.
Bang Nael masih belum berhenti melakukan aksinya. Malah makin menjadi. Ia tidak peduli dengan selimut. Ia menyibakkan bagian selimut yang menutupi badannya. Dengan pencahayaan yang minim, samar-samar aku bisa melihat celananya sudah melorot hingga ke lutut. Siluet belahan pantat dan posisi kemaluan yang mencuat tak diambil pusing, padahal bisa saja Bapak atau Mamak keluar tiba-tiba.
Arga sangat lelap. Ia tidak menunjukkan pergerakan atau perlawanan saat Bang Nael melorotkan celana Arga dengan sangat hati-hati. Bukan perkara yang sulit untuk melepas celana pendek Arga, lolos begitu saja dan kini menunjukkan belahan bokongnya.
Biadab. Bang Nael semakin tidak sabar. Tampaknya nafsu liarnya sudah sampai di ubun-ubun. Dia dengan sangat hati-hati mengarahkan kemaluannya dan menggesek-gesekkannya. Napasnya menderu bergerak maju mundur. Aku mulai tidak bisa menahan diri. Dadaku semakin sesak menyaksikan aksi bejat itu.
“Arga, bangun!” pekikku. Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Marah sekaligus merasa pedih.
Aku tak paham betul apakah Arga mendengar suaraku. Kelopak matanya berkedut-kedut seperti berusaha membuka matanya. Sayangnya, respons yang ditunjukkan tidak memenuhi harapan. Arga memang sudah tersadar, tetapi dia tidak melakukan apa-apa. Dia membeku sedangkan Bang Nael makin ganas sekaligus gemas. Gerakannya makin cepat dan napasnya semakin memburu. Dada Arga naik turun dan pertahanannya lepas. Dari sudut matanya air mata mengalir deras. Sayangnya, tenggorokannya seperti tersumpal sesuatu, dia tidak bisa berteriak. Sesekali ia sesenggukan membuat Bang Nael sadar kalau Arga sudah terbangun.
Bukannya menghentikan aksinya, Bang Nael semakin lupa diri. Takut Arga mengeluarkan suara berisik dan menimbulkan kecurigaan, ia membekap mulut Arga. Arga semakin ngeri. Matanya melotot ingin meminta tolong. Dia berusaha melepaskan diri dengan menjauhkan bokongnya dan menyingkirkan bagian tubuh Bang Nael yang berusaha menempel dengan tangannya. Sayangnya, tenaga Bang Nael lebih besar. Tangannya yang kekar meremas pergelangan Arga dan memutarnya ke arah punggung sehingga pergerakan Arga terkunci.
Kesabaranku sudah menipis. Aku tidak tahan lagi. Naluri mendorongku untuk mencegah tindakan Bang Nael semakin jauh. Aku tersentak. Aku telah melewati batas portal tanpa sadar. Koi berusaha mencegat dengan mengeluarkan sinar putih dari tangannya. Terlambat! Sebagian besar bagian tubuhku sudah terurai menjadi serpihan-serpihan kecil. Mustahil bagi Bang Koi untuk menarikku kembali karena serpihan itu dengan cepat melesat dan terserap.
Sebelum bagian kepalaku terurai habis, aku melihat sesuatu sedang terjadi pada Koi. Koi ikutan gamang. Cahaya putih mengikuti garis portal tiba-tiba tumbuh menjulang dan melingkupi tubuhnya. Cahaya itu melesat ke langit-langit, meliuk-liuk seperti pusaran angin topan lalu kembali menghunjam dan menembus tubuh Koi. Cahaya itu melebur di tubuhnya lalu kami... menghilang.
***
Aku merasakan sesuatu yang hangat di bagian bawah tubuhku. Bukan, bukan karena selimut. Sesuatu... seperti daging. Ia bergerak di bagian belakang dan sesekali terimpit di sela-sela paha. Dalam kondisi remang-remang, aku bisa merasakan napas orang lain yang memberikan sensasi hangat tepat di belakang leherku. Bukan hangat yang harus dinikmati, justru sangat salah dan harus dihentikan. Aku membuat gerakan menghindar. Tetap saja orang itu lanjut dan terus berlanjut. Perlahan aku bisa menguasai diriku. Aku mulai berontak. Dia pun semakin kuat membekap mulut dan memegangi tanganku.