Sepuluh menit lagi sebelum bel sekolah dibunyikan langkahku terhenti. Aku kaku dalam beku. Ada dinding cahaya di hadapanku. Warna putihnya menyebar dan melingkupi sekitarku. Menyilaukan dan pasti aku bisa buta kalau menatapnya terlalu lama. Untung saja cahaya putih itu segera memudar dan aku bisa melihat dengan jelas kembali. Aku tetap belum bisa bergerak kecuali kelopak mata yang kukedipkan berulang kali untuk mengecek kesadaran.
Aku mengerjap-ngerjap. Ini bukan sesuatu yang normal. Aku melihat diriku tengah berjalan dengan langkah panjang. Sekilas tidak ada yang aneh karena memang cara berjalanku begitu. Kata orang kayak lagi diburu sesuatu. Waktu. Aku sering berpacu dengan waktu kalau berangkat sekolah. Tidak ada kendaraan selain terpaksa dengan Bang Nael, atau kalau beruntung Firman inisiatif datang menjemput.
Ada dua bocah SD akan berpapasan denganku dari arah berlawanan. Satunya berkulit gelap dengan kepala botak. Cara berjalannya agak canggung karena tasnya lebih terlihat sebagai cangkang yang berat dibanding tas sekolah. Di belakangnya mengekor satu bocah lagi. Tebakku mereka kakak-beradik karena wajah mereka mirip. Yang lebih kecil kulitnya lebih bersih saja dan warnanya sedikit lebih terang. Dia tidak botak seperti abangnya, itu yang buat dia lebih menggemaskan.
Namun, Arga bertingkah tak lazim. Semakin ia dekat dengan anak-anak itu, dia semakin menunduk. Topinya ia turunkan hampir menutupi muka. Dengan keadaan begitu bukan tak mungkin ia tersandung, atau terjatuh menabrak sesuatu.
“Woi, bencong!” Aku terkesipa. Semua bayangan menggemaskan anak-anak itu raib seketika bertransformasi menjadi emosi yang bikin gatal telinga.
Mereka mengolok-olok Arga membuat Arga harus mempercepat langkah. Dia mendahului anak-anak sekolah di depannya, berlari-lari kecil. Semakin Arga dan kedua bocah itu berjarak, semakin kencang suara mereka. Anak-anak SMA yang lain sampai menoleh. Beberapa menunjuk Arga yang tengah berlari. Mereka tahu siapa yang sedang digoreng pagi itu.
Lalu tiba-tiba cahaya putih kembali melingkupiku. Dari sisi kanan dan kiri cahaya itu seperti terisap, menyatu dan semakin kecil membentuk sebuah titik yang mengambang sejajar dengan kepalaku. Aku melihat kembali di sekitarku. Anak-anak sekolah yang berjalan mendahuluiku menatap heran. Aku segera mempelajari keadaan. Sisi kiri dan kananku dipenuhi baris pepohonan bahkan gerak dedaunan dan arah angin terasa sangat sama, kecuali apa yang kusaksikan di depanku. Dua bocah itu lagi. Belasan meter di depan dan mereka melihatku. Aku tahu arti tatapan mereka. Apakah aku bisa melihat masa depan?
Untuk beberapa saat aku seperti mempercepat adegan lalu kemudian kembali kepada beberapa waktu sebelumnya. Aku seperti sedang menonto menggunakan DVD Player yang mana ada tombol fast forward untuk mempercepat adegan.
Kali ini harus ada perbedaan. Semakin mereka dekat, aku semakin siap. Kuambil ranting kayu yang tergeletak di pinggir jalan. Beberapa kerikil kecil juga kusiapkan. Aku menegakkan badan. Kuangkat kepalaku dan pandanganku lurus ke depan. Aku harus memberi mereka pelajaran mendahului gurunya.
“Woi, bencong!” kata mereka. Persis seperti yang kulihat beberapa waktu lalu. Mereka meledek secara bergantian.
Aku melirik ke kiri dan ke kanan. Waktu yang sangat pas. Keadaan tidak begitu ramai. Sebelum beberapa orang di kejauhan mendekat, aku menyeberang jalan. Mengangkat tangan dan siap menuntaskan misi. Mereka mungkin tidak menduga. Mata mereka masih menempel di kayu terangkat sambil mencoba lari. Si kepala botak tidak memperhatikan pijakan. Ia terjatuh tersandung bongkahan batu. Pun dengan adiknya yang kecil itu menyusul tersandung tubuh abangnya. Aku mengurungkan aksi lempar kerikil. Aku menggantinya dengan mengetok kepala mereka satu per satu.
“Rasakan. Bilang lagi kalau berani.” Aku menantang.
Aku menarik kerah baju kedua anak itu. Menarik mereka bangun. Terpatri ketakutan di mata mereka yang mulai berair. Andai kulit mereka lebih cerah, aku akan puas sekalu menikmati muka mereka yang memerah.
“Ulang lagi, nggak?” ancamku.
“Ng-nggak,” jawab mereka gelagapan.
“Nggak, Bang. Bilang. Dasar tidak sopan.”
“Nggak, Bang.” Mereka menurut.
“Bagus.”
Aku melepaskan mereka dan menyuruh mereka pergi. Sekarang anak-anak sekolah yang berpapasan menatapku heran. Tapi pasti bukan tentang Arga yang lemah dan korban perundung tadi. Mereka melihat Arga yang lebih percaya diri. Langkahnya lebih mantap dan siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di sekolah hari ini.
***
Titik cahaya itu datang lagi. Tepat sebelum aku masuk ke dalam kamar Bapak dan Mamak. Entah Bang Nael yang tengah menonton sadar aku sedang membeku, aku tidak tahu. Dalam kebekuan itu, aku merasakan bulu halus mengusap-usap di bawah kakiku. Itu Koi, tetapi kenapa dia tidak membeku dan malah bebas bergerak? Sebelum pertanyaan terjawab, cahaya putih sudah melingkupi seluruh ruangan, berpendar lalu memudar perlahan.
Aku melihat diriku melakukan hal yang sama. Dia datang kepada Bapak dan Mamak yang sudah masuk ke dalam kamar. Membawa formulir pendaftaran SNMPTN. Aku harus mengirimkan formulir ini sebelum pertengahan Maret alias kurang lebih seminggu lagi, supaya ketika hasilnya keluar di awal bulan Mei, aku bisa segera menyelesaikan pendaftaran untuk jurusan atau universitas lain. Beberapa bagian sudah kuisi. Aku membuka kelambu dengan hati-hati. Aku menurunkan nada suara.
“Mak, kira-kira ukuran rumah kita ini berapa?”
“Emangnya ada rumahmu?” jawab Mamak ketus.
“Kita bikin saja dulu, di sini aku bisa isi berapa?”
Mamak bangun. Aku beringsut ke belakang membentur lemari. Kamar tiba-tiba berubah menjadi ruang persidangan. “Kau tahu diri sedikitlah, Arga. Apa yang mau kau buat di situ? Ada rumahmu? Ada tanahmu? Jangan sok kali kau. Ini, rumah ini, ladang yang di samping dan belakang rumah. Itu bukan punya kita. Punya keluarga Bapakmu. Nah, ladang yang di samping kita urus sementara selagi keluarga Bapakmu dan kalian mati satu per satu. Itu ladang yang di belakang itu juga cuma titipan.”
Mamak lanjut mencecarku, “Kalau keluarga Bapakmu mau ambil sekarang bisa. Makanya bilang ke Bapakmu jangan bego-bego amat. Nurut saja terus sama ompung-mu. Ngalah terus sama adek-adeknya. Apa yang didapat? Nggak ada! Lihatkan? melaratlah kau.”
“Pelan-pelan suaramu. Anak kita cuma tanya,” bela Bapak.
“Nggak usah.” Mama menampik tangan Bapak. “Kaupun sama saja. Menikah samamu nggak pernah ada harga diriku kau buat.”
Bapak mulai terpancing emosi. Dia juga ikut duduk. “Kenapa jadi kemana-mana pembahasanmu, Mak Tika. Malu kita di dengar tetangga.”
“Biar. Sejak aku menikah samamu pun aku sudah dipermalukan. Di depan semua keluargamu. Keluargaku kalian tuduh pardatu-datu (tukang sihir). Mamakku kalian bilang datu (dukun). Aku pula dituduh penyebab kematian adek bapakmu.Nnggak becus jadi istrilah, parbada (pembuat keributan). Semua kalian bilangi. Kalian usir tapi kalian juga yang minta balik. Semua aku tahankan, Pak. Kau, ada kau bela aku?” Mama melampiaskan amarahnya.
“Sudah. Kalau memang tidak mau,” desisku.
Aku keluar kamar tanpa mendebat. Aku memeluk erat formulir dengan kepala menunduk. Seperti biasa Arga yang ada di hadapanku adalah Arga yang tidak akan mau memperkeruh suasana. Dia lebih memilih membenamkan dirinya di bantal atau berbaring sesenggukan di tempat tidurnya seperti orang paling menderita di dunia.
Kudengar dari dalam kamar Bapak dan Mamak masih beradu pendapat dan bisa kutebak Arga diam-diam masih akan mendengarkan semua perdebatan itu dan menyalahkan diri sendiri.
“Ini kesempatanmu untuk mengubah realitas sama seperti kejadian di jalan kemarin.”
Itu suara Bang Koi. Tapi aku tidak bisa melihat wujudnya. Aku berusaha melihat dari ekor mataku, tetapi aku tak bisa melihat sosoknya. Saat bulu halus itu kembali menggosok-gosokkan badannya, aku kemudian sadar bahwa suara itu berasal dari kucing pemberian Bapak.
“Ya. Aku di sini,” ujarnya. “Aku akan jelaskan nanti. Untuk sekarang kau perlu bertindak sebelum terlambat.”
Sinar putih lenyap. Aku melihat ke bawah kakiku. Aku juga menoleh ke belakang. Bang Nael memberikan senyuman, dukungan semangatkah?
Dadaku berdentam hebat. Aku seperti seorang nabi yang siang menggenapi nubuatan, tetapi takut sendiri sekalipun sudah disingkapkan beberapa bagian.
“Mak, kira-kira ukuran rumah kita ini berapa?” Aku memulai reka ulang adegan.
“Emangnya ada rumahmu?” jawab mama ketus. Persis seperti apa yang kulihat barusan.
“Kita bikin saja dulu, di sini aku bisa isi berapa?”
Mama bangun dari posisi berbaring. Aku beringsut ke belakang lebih hati-hati agar tidak membentur lemari. Kamar tiba-tiba berubah menjadi ruang persidangan. Aku menata hati agar lebih tegar karena sudah tahu apa yang akan keluar dari Mamak.
“Kau tahu diri sedikitlah, Arga. Apa yang mau kau buat di situ? Ada rumahmu? Ada tanahmu? Jangan sok kali kau. Ini, rumah ini, ladang yang di samping dan belakang rumah. Itu bukan punya kita. Punya keluarga Bapakmu. Nah, ladang yang di samping kita urus sementara selagi keluarga Bapakmu dan kalian mati satu per satu. Itu ladang yang di belakang itu juga cuma titipan.”
Mamak lanjut mencecarku, “Kalau keluarga Bapakmu mau ambil sekarang bisa. Makanya bilang ke Bapakmu jangan bego-bego amat. Nurut saja terus sama ompung-mu. Ngalah terus sama adek-adeknya. Apa yang didapat? Nggak ada! Lihatkan? melaratlah kau.”
“Pelan-pelan suaramu. Anak kita cuma tanya,” bela Bapak.
“Nggak usah.” Mama menampik tangan Bapak. “Kaupun sama saja. Menikah samamu nggak pernah ada harga diriku kau buat.”
Bapak mulai terpancing emosi. Dia juga ikut duduk. “Kenapa jadi kemana-mana pembahasanmu, Mak Tika. Malu kita di dengar tetangga.”
“Biar. Sejak aku menikah samamu pun aku sudah dipermalukan. Di depan semua keluargamu. Keluargaku kalian tuduh pardatu-datu. Mamakku kalian bilang datu. Aku pula dituduh penyebab kematian adek bapakmu.Nnggak becus jadi istrilah, parbada. Semua kalian bilangi. Kalian usir tapi kalian juga yang minta balik. Semua aku tahankan, Pak. Kau, ada kau bela aku?” Mama melampiaskan amarahnya.
Berada di posisi ini ternyata cukup membuatku terguncang. Untuk sesaat aku tepuk tangan dengan ketenangan diriku yang sebelumnya. Sekalipun matanya tidak bisa berbohong, setidaknya dia tidak membuat drama. Tapi aku tidak tahan, sama sekali tidak bisa. Aku merasa sakit sekali mendengar semua ucapan Mamak. Mungkin karena aku langsung berhadapan dengannya. Gejolak di dalam hatiku sudah terlalu besar dan tidak bisa kutangani lagi.